Gemerlap Cultural Night: Ketika Seni Tradisi Nusantara Curi Perhatian

- Cultural Night pada Konvensi Tahunan ke-9 SPK Indonesia di SIS North East Jakarta menampilkan seni, tari, musik, dan busana daerah sebagai ruang ekspresi budaya siswa.
- Penyelenggara menilai seni tradisi dan wawasan kebangsaan penting untuk membentuk identitas, karakter kuat, serta kecintaan peserta didik Indonesia maupun asing terhadap budaya lokal.
- Pendidik dan pemerintah menekankan AI harus membantu, bukan menggantikan pemikiran orisinal; penguatan karakter-budaya perlu didukung guru serta evaluasi berbasis data.
Gemerlap panggung, alunan musik daerah, dan derak langkah tari tradisional menghidupkan malam di sudut Jakarta. Momen Cultural Night menjadi bukti manis bahwa seni tradisi Nusantara punya daya pikat luar biasa, bahkan di mata anak-anak muda yang akrab dengan kecerdasan buatan.
Ajang Unjuk Gigi seni lokal ini menjadi bintang utama dalam perhelatan The 9th Annual Convention of SPK Indonesia di SIS North East Jakarta, 30 September hingga 2 Oktober 2026. Lewat gaun busana daerah dan penampilan ekspresif, para siswa membuktikan bahwa budaya sendiri bisa tampil begitu keren dan membanggakan.
Ketua Panitia Konvensi IX 2026, Rutdiana, menekankan bahwa panggung budaya ini adalah sarana membentuk jati diri generasi muda.
“Sebagai institusi pendidikan, yang tidak boleh terlepas adalah identitas kita, nilai kita, dan kemampuan kita untuk mendengarkan. Anak-anak harus dibekali karakter yang kuat," kata Rutdiana.
1. Kecintaan pada warisan lokal adalah ruh yang tak boleh terpisahkan

ilustrasi budaya Indonesia (pexels.com/el jusuf) Antusiasme siswa di panggung seni budaya tersebut turut mencuri perhatian Ketua Perkumpulan SPK Indonesia, Fitriyanti. Baginya, kecintaan pada warisan lokal adalah ruh yang tak boleh terpisahkan dari pendidikan berstandar global.
“Justru komponen wawasan kebangsaan hadir sebagai penguat untuk peserta didik Indonesia maupun asing. Bagaimanapun budaya Indonesia harus tetap melekat di hati mereka,” ujar Fitriyanti.
Kehangatan ekspresi seni anak-anak ini terasa makin kontras dengan maraknya penggunaan teknologi cerdas di sekolah. Head of School SIS North East Jakarta, Anjali Virmani, membagikan pandangannya agar gawai dan algoritma tetap berada di porsi yang tepat.
“Pesan utamanya begini, pakai AI untuk membantumu, bukan untuk menggantikanmu (use AI to help you, but not to replace you). Ide orisinal harus datang dari siswa dulu, baru AI membantu menyempurnakannya,” ungkap Anjali dengan lugas.
2. Penanaman karakter dan budaya di sekolah dirancang dengan pendekatan matang

Ilustrasi budaya Indonesia (pexels.com/Teguh Dewanto) Bagi Anjali, pengalaman berkesenian melatih kepekaan rasa, kolaborasi, dan empati, yakni kualitas kemanusiaan yang tak akan pernah bisa ditiru oleh mesin cerdas mana pun.
Di sisi lain, pemerintah mendorong agar aktivitas penanaman karakter dan budaya di sekolah dirancang dengan pendekatan yang matang. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menekankan pentingnya evaluasi berbasis data.
“Penggunaan bukti sains dan data penting dalam menentukan metode pendidikan mana yang benar-benar memberikan hasil. Jadi, ini bukan sebatas tren saja,” beber Gogot.
3. Pentingnya merawat rasa lewat seni di era serba otomatis

Generasi muda dan kesenian tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga literasi budaya dan identitas Indonesia. Keberhasilan ruang kreasi budaya seperti Cultural Night tentu tak lepas dari peran dan keteladanan para guru di sekolah.
“Pendidik adalah orang yang berada di ruang kelas setiap hari. Kalau pendidik yang di kelas tidak percaya terhadap kebijakan atau belum mengampu kebijakan mejelas dengan baik, peserta didik tentu tidak dapat merasakan dampaknya,” papar Gogot.
Menutup cerita manis tentang pentingnya merawat rasa lewat seni di era serba otomatis, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, mengingatkan hakikat sejati dari proses belajar manusia.
“Pembelajaran berkaitan dengan bagaimana manusia memproses informasi yang diterima, bukan cuma berapa banyak informasi yang didapat. Maka, tujuan penggunaan AI bukan malah semata-mata membuat manusia terbebas dari semua aktivitas berpikir,” jelas Prof. Stella.




