DCDC Pengadilan Musik Edisi Biru Baru (Dok. DCDC)
Salah satu pembahasan yang menarik dalam persidangan adalah lahirnya nama Biru Baru. Tata bercerita saat pertama kali tampil di sekolah Goldan, saat itu keduanya belum memiliki nama untuk proyek musik mereka. Seusai penampilan, pertanyaan mengenai nama band justru membuat mereka mulai memikirkan identitas yang akan digunakan.
“Awal tampil di sekolah Goldan. Dia alumni dan diminta tampil. Selesai acara itu, host-nya bertanya nama band-nya apa, tapi kami belum ada nama. Di jalan pulang kami mikir dan tercetus New Blue, lalu kami pilih dalam bahasa Indonesia jadinya Biru Baru,” jelas Tata.
Pembahasan mengenai nama tersebut kemudian berlanjut ketika Budi Dalton mengulik lebih jauh alasan di balik pemilihan kata “Biru”. Sebagai jaksa penuntut, Budi mempertanyakan warna biru yang selama ini kerap dikaitkan dengan kesan sendu dan kesedihan.
“Kenapa memilih warna Biru? Warna Biru kan dekat dengan makna-makna yang sendu dan kesedihan,” ujar Budi.
Goldan pun menjelaskan bahwa Biru Baru tidak ingin mengartikan nama tersebut sebagai “kesedihan baru”. Bagi mereka, kesedihan justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman manusia dalam memahami kebahagiaan.
“Biru Baru bukan mau menggarisbawahi atau diartikan sebagai kesedihan baru. Justru, manusia belajar menghargai rasa senang dengan merasakan kesedihan. Bahkan di dalam lagu ‘Kita Bahagia’, juga ada unsur kesedihannya. Kami mau bilang bahwa rasa sedih atau sakit itu bisa membuat orang lebih peduli, sekaligus mengajari manusia lebih tangguh dalam menghadapi kehidupan,” jelas Golda.
Tak berhenti pada nama, dalam persidangan yang penuh canda tawa itu, Jaksa Penuntut Umum juga membedah sejumlah karya Biru Baru, di antaranya “Kalah Lagi” dan “Senin di Stasiun”. Pembahasannya turut menyinggung cerita di balik lagu, lirik, hingga cara Goldan dan Tata menerjemahkan pengalaman mereka ke dalam musik.