Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saat The Changcuters Buka-bukaan di DCDC Pengadilan Musik

Saat The Changcuters Buka-bukaan di DCDC Pengadilan Musik
The Changcuters di DCDC Pengadilan Musik (Dok. DCDC)
Intinya Sih
  • DCDC Pengadilan Musik edisi ke-65 menghadirkan The Changcuters di Bandung untuk mengulas perjalanan lebih dari dua dekade, disaksikan ratusan penggemar Coklat Friends.
  • Band ini mempertahankan garage rock, kostum seragam, dan aksi energik sejak terbentuk pada 2004; mereka juga tampil di Newcastle, Edinburgh, dan London pada April 2026.
  • Album WOW MA, dirilis 17 Juni 2026, merepresentasikan semangat band dan label independen mereka; Pengadilan Musik kemudian menyatakan The Changcuters bebas dari seluruh dakwaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

DCDC Pengadilan Musik balik lagi. Di edisi terbaru ke-65, program yang terkenal dengan konsep parodi namun serius secara esensi ini mendatangkan The Changcuters, sebagai terdakwa. Grup rock and roll asal Bandung ini dimintai keterangan atas perjalanan panjang berkarya selama lebih dari dua dekade di industri musik.

Tak hanya konsisten mempertahankan identitas musik dan penampilan yang khas, The Changcuters juga baru saja mewujudkan salah satu mimpi terbesar mereka, dengan menggelar tur konser di tiga kota di Inggris, yakni Newcastle, Edinburgh, dan London, pada April 2026 lalu.

1. Mengkaji perjalanan musik The Changcuters

FOTO 3 - DCDC Pengadilan Musik edisi 65..jpg
The Changcuters di DCDC Pengadilan Musik (Dok. DCDC)

Digelar dan ditayangkan dari Yess Café, Bandung, pada Rabu (29/7), The Changcuters menjalani persidangan di hadapan dua jaksa penuntut umum yang tak lain adalah seniman kawakan, Pidi Baiq dan Budi Dalton. Sementara itu, The Changcuters didampingi tim pembela yang diperkuat oleh Yash Budaya, vokalis Alone At Last, serta komika Kamaludin Arisatu alias Kamal Ocon. Jalannya persidangan dipimpin oleh komedian senior Denny Chandra sebagai hakim ketua. Sedangkan, Yoga PHB bertugas sebagai panitera. Ratusan penggemar yang tergabung dalam Coklat Friends turut menyaksikan langsung serunya persidangan. 

Agus Danny Hartono selaku Perwakilan DCDC mengatakan, konsistensi bermusik jadi salah satu alasan utama DCDC menghadirkan The Changcuters di Pengadilan Musik edisi ini. Menurut Danny, band pelantun "Hijrah ke London" tersebut berhasil mempertahankan karakter yang mereka bangun sejak awal kemunculan, mulai dari warna musik garage rock, identitas visual melalui kostum panggung yang seragam, hingga aksi panggung yang energik. Dalam perjalanan karier lebih dari dua dekade, The Changcuters dinilai terus menghadirkan pencapaian baru yang memperkaya cerita perjalanan mereka sebagai sebuah band. 

“The Changcuters adalah contoh bahwa sebuah band bisa terus berkembang tanpa harus meninggalkan jati dirinya. Itu yang membuat perjalanan mereka menarik untuk dikaji di Pengadilan Musik. Tahun ini mereka juga menorehkan pencapaian penting dengan membawa karya mereka tampil di tiga kota di Inggris, sekaligus merilis album WOW MA. Dua momentum tersebut menunjukkan bahwa perjalanan The Changcuters masih terus berjalan dan selalu punya cerita baru untuk dibagikan kepada penikmat musik," terang Danny. 

2. Keberhasilan The Changcuters mewujudkan lirik lagu "Hijrah ke London"

FOTO 2 - DCDC Pengadilan Musik edisi 65..jpg
The Changcuters di DCDC Pengadilan Musik (Dok. DCDC)

Salah satu pembahasan yang menarik dalam persidangan adalah keberhasilan The Changcuters mewujudkan lirik lagu "Hijrah ke London" yang mereka rilis sejak album Mencoba Sukses pada 2006. Hal yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai candaan khas mereka akhirnya benar-benar menjadi kenyataan ketika The Changcuters tampil di London pada April 2026, bertepatan dengan perayaan dan peringatan 20 tahun kiprah band tersebut.

Perjalanan awal terbentuknya The Changcuters juga menjadi salah satu materi persidangan. Band yang berawal dari lingkungan kampus di Bandung ini resmi terbentuk pada 2004 oleh Tria, Qibil, dan Dipa sebelum akhirnya melengkapi formasi bersama Alda dan Erick pada 2005. Formasi tersebut bertahan hingga kini dan melahirkan berbagai lagu yang menjadi soundtrack generasi 2000-an. 

Dalam persidangan yang penuh canda tawa itu The Changcuters turut mengungkap kisah di balik penamaan band yang selama ini kerap memancing rasa penasaran para penggemar. Mereka menjelaskan bahwa nama tersebut dipilih bukan karena makna harafiahnya, melainkan berawal dari sebuah momen yang memiliki arti tersendiri bagi kelima personelnya.

"Nama The Changcuters bukan terinspirasi dari arti katanya. Tapi karena ada sebuah momen yang sangat monumental buat kami. Momen itu membekas sampai sekarang dan menjadi pengingat bagi kami berlima," ujar Tria, sang vokalis.

3. Etos The Changcuters dalam berkarya

FOTO 7 - Setelah bebas dari dakwaan, The Changcuters membawakan beberapa lagu di atas panggung DCDC Pengadilan Musik..jpg
The Changcuters di DCDC Pengadilan Musik (Dok. DCDC)

Selain membahas identitas band, Pengadilan Musik juga mengulas perjalanan musikal The Changcuters yang sejak awal memilih mengusung genre garage rock. Tria menjelaskan, keputusan tersebut dipengaruhi oleh gelombang garage rock revival yang berkembang awal tahun 2000-an melalui band-band seperti The Strokes, The White Stripes, dan The Libertines.

Namun, menurutnya, yang menginspirasi The Changcuters bukan semata karakter musik maupun penampilan para musisi tersebut, melainkan juga etos mereka dalam berkarya. Tria menilai, di balik citra rock and roll yang identik dengan kebebasan dan aksi panggung penuh energi, selalu ada proses kreatif yang dijalani dengan keseriusan.

"Saya meyakini bahwa siapa saja band besar yang beraliran rock, di belakangnya mereka sangat serius, kita bisa lihat dari band besar dan legendaris The Beatles. Rock and roll yang manggung dengan image ugal-ugalan itu ya cuma penampilannya saja. Di belakangnya, sebenarnya ada banyak kerja keras dan kreativitas. Itu juga yang jadi salah satu benteng atau pondasi kami selama ini," tegas Tria.

4. Album WOW MA jadi pembahasan seru

FOTO 8 - Para penonton DCDC Pengadilan Musik edisi 65 didominasi oleh para Changcut Rangers, sebutan fans The Changcuters.jpg
The Changcuters di DCDC Pengadilan Musik (Dok. DCDC)

Dalam persidangan tersebut, album terbaru The Changcuters bertajuk WOW MA yang dirilis pada 17 Juni 2026 juga jadi salah satu pembahasan seru. Judul album tersebut berawal dari seruan "Oma" atau "Omak" yang akrab digunakan oleh teman-teman kos Dipa sebagai ungkapan kekaguman. Seiring waktu, seruan tersebut kemudian menjadi bagian dari keseharian para personel, terutama sebagai penyemangat sebelum maupun sesudah naik ke atas panggung. 

Seruan itu pun terus dipakai hingga akhirnya dipilih sebagai judul album terbaru sekaligus nama label independen The Changcuters, sebagai representasi semangat yang mereka bawa dalam setiap proses berkarya.

“Jadi setiap kali manggung seruan WOW MA ini juga kami tularkan kepada para fans, Changcut Rangers, dan juga menjadi diksi internal yang kerap kami pakai. Kami menyadari WOW MA ini merepresentasikan karakter serta semangat berkarya The Changcuters sehingga dipilih menjadi nama album baru kami,” jelas Erick dan Tria. 

5. Memberi warna tersendiri bagi industri musik Indonesia.

FOTO 1 - DCDC Pengadilan Musik edisi 65 menghadirkan 'terdakwa' The Changcuters_page.jpg
The Changcuters di DCDC Pengadilan Musik (Dok. DCDC)

Usai menjawab seluruh pertanyaan dari jaksa dengan penjelasan yang sangat meyakinkan, The Changcuters akhirnya dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan. Dalam konklusi sidang, panitera Yoga PHB menilai perjalanan panjang The Changcuters telah berhasil memberi warna tersendiri bagi industri musik Indonesia.

"Tidak dimungkiri semua karya musik The Changcuters berhasil membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berwarna. Mereka berhasil menyajikan identitas yang otentik mulai dari lagu-lagu, kostum hingga aksi panggung. Album terbaru WOW MA menjadi jawaban bahwa energi mereka masih belum habis. Lebih dari dua dekade bukanlah waktu yang singkat, dan hingga hari ini The Changcuters masih bertahan serta terus berkarya," kata Yoga.

Hakim Denny Chandra kemudian mengetukkan palu dan membacakan putusan akhir. "Demikian hasil Pengadilan Musik DCDC yang mengadili dan memeriksa perkara nomor 1.65/DCDC/2026 dengan terdakwa The Changcuters dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan," katanya.

DCDC Pengadilan Musik adalah program yang digelar dalam rangka mengkaji karya-karya para pelaku musik yang berkembang di industri musik Indonesia. DCDC Pengadilan Musik juga menjadi wadah apresiasi karya-karya dari para musisi tanah air, yang dikemas dengan konsep persidangan. Kemasan DCDC Pengadilan Musik tidak sepenuhnya serius, selingan canda dari setiap perangkat sidang bakal turut meramaikan suasana. Pantau terus berbagai informasi yang seru dan menarik seputar dunia musik melalui akun instagram @dcdc.official.

Share Article
Editorial Team

Related Articles