Jakarta, IDN Times - Sebagai bagian dari visi untuk menciptakan kultur berpikir, Good Duck menggelar kegiatan media experience bertajuk “Ducks After Dark” di SUBO FAMILY CIPETE beberapa waktu lalu. Melalui kegiatan ini, para jurnalis diajak untuk mengalami langsung bagaimana Good Duck menciptakan ruang reflektif bagi para peserta. Bukan dengan materi satu arah, melainkan melalui pengalaman yang memungkinkan setiap individu untuk hadir sepenuhnya, merefleksikan pertanyaan yang selama ini belum terjawab dan menemukan kejernihan dari dalam diri sendiri.
Founder Good Duck, Dyah Oetari, menjelaskan, Good Duck lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki pemikiran yang unik dan autentik. Namun, di tengah hiruk-pikuk suara orang lain, mereka sering kali kehilangan kesempatan untuk benar-benar berpikir tentang dan untuk diri mereka sendiri.
“Kami ingin menjadikan Good Duck sebagai tempat bagi setiap individu memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang dirinya sendiri, dengan cara yang playful. Good Duck bukan workshop. Tidak ada kesimpulan yang disiapkan, ataupun jawaban yang sudah ditentukan sebelumnya. Melainkan, kondisi untuk peserta menemukan jawabannya sendiri, yang terwujud lewat sesuatu yang konkret dan bisa dilihat secara fisik. Yakni, berpikir dengan tangan dan menggunakan bricks sebagai mediumnya,” jelas Dyah dalam keterangan resminya.
