Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Suami Tetap Wajib Menafkahi?

Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Suami Tetap Wajib Menafkahi?
ilustrasi pasangan suami istri (magnific.com/pch.vector)
Intinya Sih
  • Dalam Islam, suami tetap wajib menafkahi istri meskipun istri bekerja atau memiliki penghasilan lebih besar, karena nafkah adalah tanggung jawab utama suami sebagai kepala keluarga.
  • Besarnya pendapatan istri tidak menghapus haknya atas nafkah; selama pernikahan berlangsung dan istri menjalankan kewajibannya, suami tetap berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
  • Gaji dan harta yang diperoleh istri sepenuhnya menjadi miliknya, dan ia tidak wajib membiayai rumah tangga kecuali dengan kerelaan sebagai bentuk dukungan serta kebaikan dalam keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Apakah suami tetap wajib menafkahi istri jika penghasilannya lebih besar sering menjadi pertanyaan di tengah meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja dan memiliki karier mapan. Gak sedikit pasangan yang memiliki kondisi di mana gaji istri bahkan jauh melampaui penghasilan suami. Karena itu, banyak orang penasaran apakah kewajiban nafkah masih tetap berlaku ketika istri memiliki penghasilan yang lebih tinggi.

Dalam Islam, persoalan nafkah gak semata-mata ditentukan oleh siapa yang memiliki penghasilan terbesar. Syariat memiliki aturan tersendiri mengenai hak kepemilikan harta, tanggung jawab suami, dan peran istri dalam rumah tangga. Agar gak salah paham, simak penjelasan lengkap mengenai apakah suami tetap wajib menafkahi istri jika penghasilannya lebih besar berikut ini.

Table of Content

1. Apakah suami tetap wajib menafkahi istri yang bekerja?

1. Apakah suami tetap wajib menafkahi istri yang bekerja?

ilustrasi pasangan suami istri
ilustrasi pasangan suami istri (magnific.com/freepik)

Dalam ajaran Islam, nafkah merupakan kewajiban yang dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga. Kewajiban tersebut mencakup kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, hingga kebutuhan lain yang layak sesuai kemampuan suami. Karena itu, status istri yang bekerja gak secara otomatis menghapus kewajiban tersebut.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 34 yang menjelaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena mereka menafkahkan sebagian hartanya. Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa seorang laki-laki bertanggung jawab atas keluarganya. Dengan kata lain, bekerja atau gak bekerja, istri tetap memiliki hak untuk mendapatkan nafkah dari suami.

2. Apakah nafkah gugur jika penghasilan istri lebih besar?

ilustrasi pasangan suami istri
ilustrasi pasangan suami istri (magnific.com/Wiroj Sidhisoradej)

Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah anggapan bahwa nafkah otomatis gugur ketika penghasilan istri lebih besar daripada suami. Padahal, dalam fikih Islam, besarnya gaji atau kekayaan istri gak menjadi faktor yang menghapus kewajiban nafkah suami. Hak nafkah tetap melekat selama hubungan pernikahan berlangsung dan istri menjalankan kewajibannya dalam rumah tangga.

Majelis Fikih Islam Internasional (International Islamic Fiqh Academy) juga menegaskan bahwa istri tetap berhak mendapatkan nafkah yang layak dari suami meskipun ia memiliki pekerjaan atau penghasilan sendiri. Bahkan dalam kondisi istri memiliki profesi dengan pendapatan jauh lebih tinggi, seperti dokter, pengusaha, atau eksekutif, tanggung jawab nafkah pada dasarnya tetap berada di pihak suami.

3. Siapa yang berhak atas penghasilan istri?

ilustrasi pasangan suami istri
ilustrasi pasangan suami istri (magnific.com/freepik)

Islam memberikan hak kepemilikan harta yang jelas kepada perempuan. Gaji, hasil usaha, hadiah, warisan, maupun aset yang dimiliki istri sepenuhnya menjadi hak istri. Suami gak memiliki kewenangan untuk mengambil atau menggunakan harta tersebut tanpa izin dari pemiliknya.

Prinsip ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki identitas finansial yang mandiri dalam Islam. Oleh karena itu, meskipun istri bekerja dan menghasilkan uang sendiri, suami tetap gak berhak menguasai atau mengatur seluruh penghasilannya tanpa persetujuan. Keputusan untuk menggunakan atau membagikan harta tersebut sepenuhnya berada di tangan istri.

4. Apakah istri wajib ikut membiayai kebutuhan rumah tangga?

ilustrasi pasangan suami istri
ilustrasi pasangan suami istri (magnific.com/jcomp)

Meskipun banyak pasangan modern memilih berbagi pengeluaran rumah tangga, Islam pada dasarnya gak mewajibkan istri menggunakan penghasilannya untuk kebutuhan keluarga. Tanggung jawab utama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga tetap berada pada suami. Karena itu, istri gak bisa dipaksa untuk menyerahkan sebagian gajinya guna menutupi biaya rumah tangga.

Meski begitu, Islam sangat menganjurkan kerja sama dan saling membantu dalam keluarga. Apabila istri dengan sukarela ikut berkontribusi untuk kebutuhan rumah tangga, hal tersebut dipandang sebagai bentuk kebaikan dan dukungan terhadap keluarga. Kontribusi tersebut bernilai sedekah dan bukan kewajiban yang harus dipenuhi.

Apakah suami tetap wajib menafkahi istri jika penghasilannya lebih besar pada dasarnya memiliki jawaban yang cukup jelas dalam Islam. Besarnya pendapatan istri gak menghapus kewajiban nafkah yang dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga. Dengan memahami aturan tersebut, pasangan suami istri bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan rumah tangga tanpa terjebak pada kesalahpahaman mengenai hak dan kewajiban masing-masing.

Pada akhirnya, tujuan utama dalam keluarga bukan sekadar soal siapa yang berpenghasilan lebih besar, melainkan bagaimana membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis, termasuk dalam urusan keuangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan

Related Articles