"Lingkungan kerja yang buruk; termasuk diskriminasi dan ketidaksetaraan, beban kerja yang berlebihan, kontrol pekerjaan yang rendah, dan ketidakamanan pekerjaan menimbulkan risiko bagi kesehatan mental," demikian laporan WHO.
Gaji Kecil tapi WFH vs. Gaji Besar tapi Burnout: Kamu Pilih Mana?

- Gaji besar tidak selalu menjamin kebahagiaan karena tekanan kerja berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, seperti dijelaskan WHO tentang risiko lingkungan kerja yang buruk terhadap kesejahteraan pekerja.
- Sistem WFH memberi fleksibilitas tinggi yang meningkatkan kepuasan dan produktivitas, terbukti dari penelitian berbagai universitas yang menyoroti pentingnya keseimbangan hidup dan dukungan organisasi.
- Pilihan antara gaji besar atau fleksibilitas bergantung pada prioritas pribadi, karena setiap fase hidup menuntut keseimbangan berbeda antara kebutuhan finansial, kesehatan mental, dan gaya hidup.
Di era kerja modern, banyak orang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Di satu sisi, ada pekerjaan dengan gaji yang tidak terlalu besar, tetapi menawarkan fleksibilitas bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Di sisi lain, ada pekerjaan dengan penghasilan tinggi, tetapi menuntut jam kerja panjang, tekanan besar, dan berisiko menyebabkan burnout.
Pilihan ini sering menjadi perdebatan karena setiap orang memiliki prioritas yang berbeda. Lalu, mana yang sebenarnya lebih baik? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat berbagai aspek yang memengaruhi kualitas hidup seseorang.
1. Gaji besar belum tentu membuat hidup lebih bahagia

Banyak orang beranggapan bahwa semakin besar gaji, semakin tinggi pula tingkat kebahagiaan. Namun kenyataannya, penghasilan tinggi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan mental. Ketika seseorang harus menghadapi tekanan kerja berlebihan setiap hari, manfaat finansial yang diperoleh bisa terasa tidak sebanding.
Menurut data dari World Health Organization (WHO), lingkungan kerja yang buruk, beban kerja berlebihan, dan rendahnya kendali terhadap pekerjaan dapat menjadi risiko serius bagi kesehatan mental pekerja. WHO juga menegaskan bahwa pekerjaan yang layak seharusnya mendukung kesehatan mental, bukan justru merusaknya.
2. WFH memberikan fleksibilitas yang sulit dinilai dengan uang

Salah satu keuntungan terbesar WFH adalah fleksibilitas. Karyawan tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, dapat lebih dekat dengan keluarga, dan memiliki kesempatan mengatur ritme kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi.
Hal ini juga ditunjukkan dalam dipublikasikan dalam Jurnal Organisasi dan Manajemen Universitas Airlangga berjudul "The Role of Hybrid-Working in Improving Employees' Satisfaction, Perceived Productivity, and Organizations' Capabilities". Studi ini menemukan bahwa keseimbangan hidup, dukungan organisasi, dan fleksibilitas kerja menjadi faktor penting yang meningkatkan kepuasan serta produktivitas pekerja dalam sistem kerja hybrid maupun WFH.
3. Burnout bisa menggerus kesehatan dan karier

Burnout bukan sekadar merasa lelah setelah bekerja. Kondisi ini merupakan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang berlangsung terus-menerus akibat stres kerja kronis. Jika dibiarkan, burnout dapat menurunkan produktivitas, motivasi, bahkan memengaruhi kesehatan fisik seseorang.
WHO mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Gejalanya meliputi rasa lelah ekstrem, meningkatnya jarak emosional terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas kerja.
"Sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun secara global akibat depresi dan kecemasan yang berkaitan dengan kesehatan mental. Fakta ini menunjukkan bahwa burnout bukan masalah sepele, melainkan persoalan serius yang berdampak pada individu maupun perusahaan," tulis laporan WHO.
4. Gaji kecil tidak selalu berarti masa depan suram

Banyak orang takut menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih rendah karena khawatir perkembangan kariernya terhambat. Padahal, pekerjaan yang menawarkan kenyamanan dan keseimbangan hidup sering kali memberikan ruang lebih besar untuk mengembangkan keterampilan, membangun usaha sampingan, atau melanjutkan pendidikan.
Penelitian terhadap pekerja Gen Z di Bandung menunjukkan bahwa sistem WFH memiliki pengaruh terhadap work-life balance dan kepuasan kerja. Fleksibilitas yang diperoleh dari sistem kerja ini menjadi faktor yang dinilai penting oleh generasi muda dalam menentukan pilihan karier.
"Munculnya kerja jarak jauh telah mengubah cara karyawan menyeimbangkan kehidupan profesional dan pribadi mereka, terutama di kalangan generasi muda yang menghargai fleksibilitas," tambah laporan jurnal berjudul "The Influence of Work from Home on Work-Life Balance and Job Satisfaction Among Generation Z Employees in Bandung" Universitas Telkom Indonesia.
5. Jawabannya bergantung pada fase hidup dan prioritas

Tidak ada jawaban yang benar untuk semua orang. Seseorang yang sedang mengejar target finansial, mungkin lebih memilih gaji besar meskipun harus menghadapi tekanan tinggi. Sebaliknya, mereka yang mengutamakan kesehatan mental atau memiliki tanggung jawab keluarga, mungkin lebih nyaman memilih pekerjaan dengan fleksibilitas lebih besar.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat WFH tidak selalu sama bagi setiap orang. Dalam jangka pendek, fleksibilitas kerja dari rumah dapat meningkatkan kepuasan kerja. Namun dalam jangka panjang, sebagian pekerja juga berisiko mengalami kesepian atau berkurangnya interaksi sosial jika tidak mampu menjaga keseimbangan.
"Regresi studi peristiwa mengungkapkan bahwa bekerja dari rumah secara permanen meningkatkan kepuasan terhadap fleksibilitas, tetapi meningkatkan kesepian dalam jangka panjang," tulis laporan Sage Journals berjudul "Time will tell: Working from home and job satisfaction over time".
Karena itu, keputusan terbaik bukan sekadar memilih gaji terbesar atau pekerjaan paling santai. Yang terpenting adalah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan finansial, kondisi mental, tujuan karier, dan gaya hidup yang ingin dijalani.
Perdebatan antara gaji kecil tetapi WFH dan gaji besar tetapi burnout sebenarnya tidak memiliki jawaban mutlak. Keduanya menawarkan keuntungan dan konsekuensi yang berbeda. Karena itu, sebelum memilih salah satu jalan, penting untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang paling kamu butuhkan saat ini, uang yang lebih banyak atau hidup yang lebih seimbang?


















