Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hemat Ekstrem vs Boros Terencana: Gaya Bertahan Pria Zaman Sekarang

ilustrasi pria belanja
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Drazen Zigic)
Intinya sih...
  • Hemat sebagai bentuk bertahan hidupPria dengan gaya hemat ekstrem sangat detail pada pengeluaran, karena rasa takut kekurangan. Hemat menjadi baju besi psikologis yang membuat mereka merasa aman.
  • Boros terencana sebagai bentuk kendaliPria boros terencana mengalokasikan pengeluaran besar dengan logika jelas, untuk "menikmati sekarang" dengan penuh kesadaran. Mereka ingin uang bekerja untuk kewarasan hari ini.
  • Akar kecemasan yang samaHemat ekstrem dan boros terencana punya akar yang sama: rasa takut akan ketidakpastian. Keduanya lahir dari kegelisahan menghadapi masa depan yang terasa rapuh.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di zaman ketika harga naik lebih cepat daripada gaji, cara pria mengelola uang berubah jadi cerminan cara mereka bertahan. Ada yang memilih menahan diri sekuat mungkin, bahkan untuk hal-hal kecil, sementara yang lain justru mengatur pengeluaran besar dengan perhitungan matang. Dua gaya ini terlihat bertolak belakang, tapi sebenarnya sama-sama lahir dari kecemasan yang serupa.

Pilihan antara hemat ekstrem atau boros terencana sering tidak muncul karena gaya hidup semata. Ia hadir dari pengalaman, tekanan, dan bayangan masa depan yang tidak pasti. Uang bukan lagi sekadar alat tukar, tapi peredam cemas yang bentuknya berbeda-beda bagi setiap orang.

1. Hemat sebagai bentuk bertahan hidup

ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)
ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)

Pria dengan gaya hemat ekstrem biasanya sangat detail pada pengeluaran. Mereka mencatat setiap rupiah, membandingkan harga, dan jarang membeli sesuatu tanpa pertimbangan panjang. Semua itu dilakukan bukan karena pelit, tapi karena rasa takut kekurangan.

Di balik sikap super irit, sering ada cerita masa lalu yang membentuknya. Entah pernah kesulitan ekonomi, kehilangan stabilitas, atau melihat orang terdekat jatuh karena masalah uang. Hemat menjadi baju besi psikologis yang membuat mereka merasa aman.

2. Boros terencana sebagai bentuk kendali

ilustrasi belanja banyak (pexels.com/Max Fischer)
ilustrasi belanja banyak (pexels.com/Max Fischer)

Berbeda dengan itu, pria yang tampak boros belum tentu ceroboh. Banyak di antara mereka justru sangat sadar ke mana uangnya pergi. Mereka mengalokasikan pengeluaran besar dengan logika yang jelas, seperti untuk kualitas hidup, jaringan pertemanan, atau pengembangan diri.

Boros dalam konteks ini bukan tentang foya-foya tanpa otak. Ini tentang memilih untuk “menikmati sekarang” dengan penuh kesadaran. Mereka ingin uang bekerja bukan hanya untuk masa depan, tapi juga untuk kewarasan hari ini.

3. Akar kecemasan yang sama

ilustrasi beli sepatu (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
ilustrasi beli sepatu (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Meski terlihat berbeda, hemat ekstrem dan boros terencana punya akar yang sama: rasa takut akan ketidakpastian. Keduanya lahir dari kegelisahan menghadapi masa depan yang terasa rapuh. Hanya caranya saja yang berbeda.

Yang satu memilih menahan, yang lain memilih mengatur dengan leluasa. Satu ingin rasa aman dengan menyimpan, satu lagi mendapatkan rasa aman dengan mengendalikan arus uang. Semua kembali pada cara masing-masing mengelola ketakutan.

4. Pengaruh lingkungan sosial

ilustrasi pria belanja baju
ilustrasi pria belanja baju (pexels.com/JackF)

Lingkungan pergaulan juga membentuk gaya finansial pria. Berteman dengan orang super hemat bisa membuat seseorang ikut menahan diri. Sebaliknya, berada di lingkaran yang gemar menikmati hidup bisa mengubah cara pandang tentang uang.

Tekanan sosial sering terjadi tanpa sadar. Standar gaya hidup naik perlahan, lalu disusul rasa harus “menyesuaikan.” Dari sini, keputusan finansial tidak lagi murni personal, tapi juga hasil pengaruh sekitar.

5. Titik seimbang yang sering dicari

ilustrasi pria belanja baju
ilustrasi pria belanja baju (pexels.com/Hispanolistic)

Pada akhirnya, banyak pria lelah berada di salah satu ekstrem. Hemat terus bisa melelahkan batin, boros terus bisa bikin cemas. Maka datanglah keinginan mencari titik tengah.

Titik seimbang berarti tahu kapan harus menahan, dan kapan pantas menikmati. Bukan soal jumlah, tapi kesadaran. Uang lalu kembali ke fungsinya: alat, bukan beban.

Hemat ekstrem dan boros terencana bukanlah musuh, melainkan dua bahasa bertahan hidup yang berbeda. Keduanya sah, selama dilakukan dengan sadar dan tidak melukai diri sendiri. Yang berbahaya bukan cara mengelola uang, tapi ketika uang sepenuhnya mengatur hidupmu.

Mungkin bukan tentang menjadi paling hemat atau paling royal. Tapi tentang menjadi paling jujur pada kebutuhan dan kemampuanmu sendiri. Karena pada akhirnya, finansial yang sehat bukan hanya menyehatkan dompet, tapi juga pikiran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us

Latest in Men

See More

Pria Baju Earth Tone vs Bright Tone: Mana yang Lebih Berkarakter?

30 Nov 2025, 18:05 WIBMen