Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ibu Mertua Sakit Tanggung Jawab Siapa? Ini 5 Penjelasannya!
ilustrasi ibu mertua sakit tanggung jawab siapa? (magnific.com/DC Studio)
  • Dalam pandangan Islam, perawatan dan tanggung jawab finansial ibu sakit terutama berada pada anak laki-lakinya, bukan sepenuhnya menantu perempuan.
  • Bantuan istri merawat mertua bersifat sukarela dan bernilai kebaikan; suami tidak boleh memaksa serta perlu menghargai dukungan sesuai kemampuan istri.
  • Pasangan dan seluruh anak kandung perlu membagi tugas, biaya, serta jadwal secara terbuka, sambil menjaga privasi, kesehatan mental, dan mempertimbangkan perawat profesional bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menikah bukan cuma menyatukan dua kepala, tapi juga membawa dua keluarga besar dalam satu atap kehidupan. Ketika rumah tangga berjalan manis, tak jarang ujian datang tanpa diduga, salah satunya saat kesehatan orang tua pendamping hidup mulai menurun. Pertanyaan berat seperti ibu mertua sakit tanggung jawab siapa pun sering muncul dan memicu perdebatan sengit di antara pasangan muda. 

Nah, biar hubungan dengan pasangan tetap adem dan gak makin rumit, kamu wajib tahu batasan serta adabnya, ya. Guys, membiarkan masalah kewajiban dan pembagian tugas ini mengambang tanpa kejelasan bisa jadi bom waktu buat keharmonisan rumah tangga kamu, lho. Rasa lelah yang menumpuk serta prasangka antar pasangan rentan memicu perselisihan besar yang berujung pada keretakan hubungan. Kamu tentu gak mau, niat baik merawat orang tua malah bikin biduk rumah tangga yang sudah dibangun susah payah jadi berantakan, kan?

Yuk, pahami pandangan Islam dan langkah bijaknya agar kamu bisa mengambil keputusan terbaik tanpa penyesalan berikut.


1. Pahami kewajiban utama anak laki-laki

ilustrasi anak laki-laki yang merawat ibunda yang sudah tua (pixabay.com/Gerd Altmann)

Dalam ajaran Islam, seorang anak laki-laki memiliki kewajiban utama untuk berbakti dan merawat kedua orang tua kandungnya sampai kapan pun. Tanggung jawab finansial maupun perawatan fisik ibu yang sedang sakit secara syariat jatuh pada anak laki-lakinya, bukan dibebankan sepenuhnya kepada menantu perempuan. Rasulullah SAW bahkan pernah menegaskan betapa tingginya kedudukan ibu bagi seorang anak laki-laki dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

"Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukannya dengan baik?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang itu bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Kemudian ayahmu.'" (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Oleh karena itu, kamu sebagai suami harus mengambil peran terdepan ketika ibu kandungmu terbaring sakit. Jangan sampai kamu malah berpangku tangan dan menyerahkan seluruh beban perawatan kepada istrimu tanpa arahan yang jelas.


2. Jadikan bantuan istri sebagai sedekah

ilustrasi menantu yang merawat ibu mertua (pexels.com/Jsme MILA)

Istri sebenarnya gak memiliki kewajiban syar'i secara langsung untuk mengurus atau membiayai perawatan ibu mertuanya yang sedang sakit. Namun, ketika seorang istri dengan ikhlas ulur tangan membantu merawat mertua, tindakan tersebut bernilai kebaikan yang sangat besar dan dicatat sebagai sedekah serta bentuk dukungan empati bagi suami. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an mengenai prinsip saling menolong dalam kebaikan:

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Suami yang bijak gak boleh menuntut atau memaksa istri bekerja melampaui batas kemampuannya hanya untuk mengurus mertua. Apresiasi setiap bantuan kecil apapun yang diberikan istrimu dengan ucapan terima kasih dan rasa hormat yang tulus, ya.


3. Komunikasikan pembagian tugas secara terbuka

ilustrasi pasangan yang selalu membicarakan pembagian tugas secara terbuka (pexels.com/Vlada Karpovich)

Menghadapi situasi anggota keluarga yang terbaring sakit membutuhkan manajemen emosi dan pembagian peran yang teratur. Kamu dan pasangan perlu duduk berdua untuk membicarakan batas kemampuan fisik, finansial, serta mental masing-masing secara jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. Kalau kamu sebagai suami harus bekerja penuh waktu, diskusikan bagaimana bentuk dukungan yang bisa diberikan istri tanpa mengorbankan kesehatannya sendiri.

Jangan biarkan istrimu mengalami caregiver burnout atau kelelahan mental akibat mengurus mertua sendirian seharian penuh. Bikin kesepakatan yang adil, contohnya kamu yang fokus menangani biaya pengobatan dan perawatan malam hari, sementara istri membantu memantau di siang hari sesuai kerelaannya. Pokoknya, komunikasikan dengan baik dan jujur dengan pasangan, ya.


4. Libatkan saudara kandung yang lain

ilustrasi bicara perihal sakitnya ibu kandung pada saudara (pexels.com/Hemil Dhanani)

Tanggung jawab merawat ibu yang sedang sakit bukanlah beban tunggal bagi satu anak saja, melainkan tugas bersama seluruh anak kandungnya. Jika kamu mempunyai kakak atau adik, kumpulkan mereka untuk bermusyawarah guna menentukan jadwal piket menjaga serta patungan biaya medis. Prinsip keadilan dalam keluarga harus ditegakkan agar gak ada salah satu pihak yang merasa dimanfaatkan atau terbeban sendirian.

Komunikasi antar saudara kandung yang terhambat kerap menjadi akar masalah kekacauan dalam keluarga besar saat orang tua sakit. Ingatkan saudara-saudaramu dengan cara yang santun kalau berbakti kepada orang tua merupakan ladang pahala bersama yang gak boleh dilewatkan.


5. Jaga batas privasi dan kesehatan mental

ilustrasi memanfaatkan home care untuk merawat ibu (pexels.com/Jsme MILA)

Merawat orangtua yang sedang sakit memang mulia, tetapi menjaga keharmonisan dan privasi rumah tangga inti kamu juga merupakan amanah yang wajib dijaga. Kamu harus dapat menetapkan batasan sehat agar kehadiran atau proses perawatan ibu mertua gak merusak tatanan komunikasi serta kenyamanan pasangan di rumah. Selalu sediakan ruang dan waktu khusus untuk berdiskusi dengan pasangan agar ikatan pernikahan tetap hangat.

Jika kondisi gak memungkinkan untuk merawat penuh di rumah karena keterbatasan tenaga, mempertimbangkan opsi perawat profesional (home care) menjadi langkah yang realistis dan bijak. Memakai jasa profesional bukan berarti kamu durhaka, melainkan bentuk ikhtiar terbaik agar orang tua mendapat perawatan medis yang tepat tanpa merusak kesehatan mental keluarga.

Merawat orang tua yang terbaring lemah memang ujian yang gak mudah, tetapi memahami ibu mertua sakit tanggung jawab siapa secara bijak akan membuat langkahmu terasa lebih ringan. Kunci utamanya ada pada kompromi yang sehat, empati antar pasangan, serta niat tulus untuk meraih ridho Allah SWT bersama-sama. Semoga setiap peluh dan rasa lelah yang kamu keluarkan dalam merawat keluarga menjadi pembersih dosa dan pembuka pintu keberkahan dalam rumah tanggamu, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article