Kaneishia Yusuf dan Abeliano Isi OST Filosofi Teras Lewat Garis Hidup

- MD Pictures merilis OST kedua Filosofi Teras, “Garis Hidup”, karya Jerrico Escondore yang dibawakan Kaneishia Yusuf dan Abeliano, setelah “Menipu Diri” oleh Ashilla Zahrantiara.
- “Garis Hidup” mengangkat usaha menentukan jalan hidup sekaligus menerima hal di luar kendali, dengan lirik yang merepresentasikan konflik, keresahan, dan persoalan takdir karakter film.
- MD Pictures juga merilis poster Filosofi Teras, drama keluarga tentang Nea yang menanggung masalah ekonomi keluarga; film arahan Affandi Abdul Rachman tayang 24 Desember 2026.
MD Pictures memperkenalkan original soundtrack (OST) untuk film terbarunya, Filosofi Teras. Kali ini, lagu berjudul "Garis Hidup" resmi dirilis dengan menggandeng dua penyanyi muda, Kaneishia Yusuf dan Abeliano.
Karya Jerrico Escondore ini menjadi soundtrack kedua yang diperkenalkan MD Pictures setelah sebelumnya merilis lagu "Menipu Diri" yang dinyanyikan Ashilla Zahrantiara.
Hadir dengan lirik yang menyentuh, "Garis Hidup" membawa pesan tentang perjalanan manusia dalam menentukan pilihan, menghadapi kenyataan, hingga belajar menerima takdir. Lagu ini juga dirancang untuk merepresentasikan berbagai konflik dan keresahan yang dialami para karakter dalam film Filosofi Teras.
Table of Content
1. Makna lagunya berkaitan erat dengan perjalanan hidup para karakter dalam film

Kaneishia dan Abeliano nyanyikan lagu soundtrack film Filosofi Teras lewat Garis Hidup (Dok. MD Pictures) Dibawakan oleh Kaneishia Yusuf dan Abeliano, lagu "Garis Hidup" memiliki makna yang berkaitan erat dengan perjalanan hidup para karakter dalam film. Abeliano menjelaskan, lagu ini menggambarkan dua sisi kehidupan, yakni usaha manusia dalam menentukan jalan hidup serta kemampuan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa diubah.
"Menerima jalan hidup yang telah terjadi, atau menentukan jalan itu sendiri. Dua-duanya, awalnya menentukan jalan hidup sendiri, melakukan atau berusaha, tapi nanti dan seterusnya bisa nomor satu (menerima)," kata Abeliano tentang lagu "Garis Hidup" lewat keterangan resmi MD Pictures.
Menurutnya, kedua makna tersebut saling melengkapi. Manusia memang perlu berusaha dan mengambil keputusan untuk menentukan arah kehidupannya. Namun, ada kalanya seseorang juga harus belajar menerima kenyataan yang datang di luar rencana.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam "Garis Hidup". Melalui lagu ini, pendengar diajak untuk memahami bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
2. Lagunya mewakili alur ceritanya
Kaneishia Yusuf mengungkapkan bahwa proses pembuatan lagu "Garis Hidup" turut mempertimbangkan alur cerita Filosofi Teras. Berbagai konflik, keresahan, hingga persoalan takdir yang dialami para karakter menjadi inspirasi dalam menyusun lirik lagu.
"Kami membuat lagu ini memang ada alurnya, kami ingin lagu ini mewakili ceritanya, apa keresahannya, kata-kata orang di luar sana, sampai takdir yang harus dijalani," tambah Kaneishia Yusuf.
Dengan pendekatan tersebut, "Garis Hidup" bukan sekadar lagu pelengkap film, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan emosi dan pesan yang ingin dihadirkan melalui cerita Filosofi Teras.
Tema penerimaan diri dan perjalanan menghadapi kehidupan juga sejalan dengan nilai-nilai filosofi stoik yang menjadi dasar cerita film. Pesan tentang pengendalian diri dan menerima hal-hal di luar kendali manusia diharapkan bisa terasa lebih dekat melalui lirik yang dibawakan Kaneishia dan Abeliano.
3. MD Pictures juga memperkenalkan poster resmi Filosofi Teras

Cast film Filosofi Teras (Dok. MD Pictures) Selain merilis soundtrack, MD Pictures juga memperkenalkan poster resmi Filosofi Teras. Film drama keluarga garapan sutradara Affandi Abdul Rachman ini mengisahkan kehidupan Nea (Sherina Munaf), seorang anak tengah yang harus menanggung beban ekonomi keluarga setelah ayahnya meninggal dunia.
Kehidupan Nea semakin rumit ketika sepupunya datang menagih rumah keluarga yang dijadikan jaminan oleh sang ayah. Ia juga harus menghadapi utang warisan ratusan juta rupiah, persoalan kakaknya yang berulang kali gagal berbisnis, hingga biaya kuliah sang adik.
Sherina Munaf menyebut film ini dapat menjadi ruang refleksi bagi penonton untuk memahami dinamika keluarga yang tidak selalu sederhana.
“Karena film ini banyak mengenai keluarga, mungkin ini bisa menjadi momen reflektif dalam melihat dinamika keluarga sendiri, bahwa tidak sehitam putih itu, masing-masing anggota memiliki perjalanan, dan untuk mencapai ketenangan itu juga butuh proses,” ungkap Sherina.
Diadaptasi dari nilai-nilai dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, film ini turut mengangkat pesan tentang pengendalian diri dan cara menyikapi berbagai hal yang berada di luar kendali manusia.
“Di balik setiap pintu, ada cerita. Di balik setiap manusia, ada pergulatan. Dan di tengah semuanya, kita hanya ingin menemukan sedikit ketenangan,” ucap Affandi.
Henry Manampiring juga menilai film ini bisa dinikmati oleh penonton yang belum pernah membaca bukunya.
“Setelah menontonnya, menurut saya film ini bisa dinikmati oleh mereka yang bahkan tidak baca buku Filosofi Teras. Film ini bisa berdiri sendiri, dinikmati sebagai suatu hiburan tanpa harus membaca bukunya,” ungkap Henry.
Selain Sherina Munaf, film ini turut dibintangi Zee Asadel, Lydia Kandou, Ge Pamungkas, Dinda Kanya Dewi, Kiki Narendra, Rangga Nattra, Givina, Adinda Cresheilla, Baim D'Bill, Tubagus Ali, Ina Marika, hingga Putri Ayudya. Film Filosofi Teras dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 Desember 2026.



