“Di film itu, satu hal mengenai set film, yang paling penting adalah reliability sama durability,” ujar Affandi.
Begini Tantangan Material Set dalam Produksi Film Filosofi Teras

- Produksi Filosofi Teras menuntut material set yang andal dan tahan lama karena harus menghadapi aktivitas syuting, termasuk beban peralatan seperti kamera sekitar 50 kilogram.
- Material set perlu cepat dipasang dan dibongkar agar perubahan mendadak, seperti penambahan dinding, tidak menghambat jadwal produksi yang sangat bergantung pada waktu.
- Vinyl set Filosofi Teras dibongkar, disimpan, lalu digunakan kembali untuk syuting dan direncanakan dipakai dalam pameran; kolaborasi ini juga mengenalkan material interior ke masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Saat menonton film, kita biasanya lebih fokus untuk mengikuti cerita dan akting dari para pemainnya. Ruangan yang menjadi tempat para karakter berinteraksi, sering kali hanya dianggap sebagai latar. Padahal, di balik satu set film, ada banyak hal yang harus dipikirkan, termasuk material yang digunakan. Hal tersebut juga menjadi perhatian dalam produksi Filosofi Teras, film drama keluarga yang diadaptasi dari buku karya Henry Manampiring.
Dalam konferensi pers TACO dan MD Entertainment di TACO Showroom, PIK 2 pada Jumat (25/9/2026), sebuah kolaborasi lintas industri terjalin antara TACO dan MD Entertainment. Kolaborasi tersebut mengeksplorasi penggunaan material interior untuk mendukung kebutuhan set Filosofi Teras. Ternyata, material untuk kebutuhan film tidak cukup hanya terlihat menarik di depan kamera saja. Material tersebut juga harus bisa mengikuti ritme produksi yang cepat, tahan digunakan selama syuting, dan sebisa mungkin tidak langsung berakhir sebagai limbah setelah produksi selesai.
1. Material set harus tahan menghadapi proses syuting

Dari kiri: Affandi Abdul Rachman Sutradara Filosofi Teras, Anastasia Tirtabudi Chief Marketing Officer PT Tangkas Cipta Optimal (TACO), dan Astrid Suryatenggara Chief Communication Officer MD Entertainment pada Press Conference TACO x MD Entertainment pada Jumat (25/9/2026) (IDN Times/Maura Thirza) Menurut sutradara Filosofi Teras, Affandi Abdul Rachman, ada dua hal yang menjadi pertimbangan penting ketika memilih material untuk set film, yaitu reliability dan durability. Sebab, material yang digunakan akan menghadapi aktivitas yang berbeda dari penggunaan ruang pada umumnya.
Affandi mencontohkan bagaimana material di set bisa terkena berbagai peralatan produksi. Bahkan, kamera dengan bobot sekitar 50 kilogram dapat ditempatkan di atas area tersebut. Karena itu, material tidak hanya mendukung tampilan visual, tetapi juga yang cukup kuat untuk digunakan selama proses syuting.
2. Bongkar-pasang harus bisa dilakukan dengan cepat

Sutradara Filosofi Teras, Affandi Abdul Rachman, mengungkap pertimbangan penting ketika memilih material untuk set film. (IDN Times/Maura Thirza) Tuntutan lain datang dari kebutuhan produksi yang dapat berubah sewaktu-waktu. Affandi mengatakan, kru bisa saja tiba-tiba membutuhkan perubahan pada set, seperti menambahkan bagian dinding untuk sebuah adegan. Situasi tersebut membuat material yang digunakan harus praktis untuk dipasang maupun dibongkar. Jika prosesnya terlalu lama, pekerjaan kru di lokasi syuting bisa ikut terhambat.
“Tiba-tiba, saya mesti tambah tembok nih, satu sebelah sini nih. Bisa dipakai gak dalam waktu cepat gitu? Waktunya cepat gak, jadi time is money, benar-benar dasar waktu kita di set. Nah, Alhamdulillah TACO menerima tantangan itu dan akhirnya deliver gitu,” jelas Affandi.
Menurutnya, kebutuhan tersebut menjadi salah satu tantangan ketika menentukan material untuk Filosofi Teras. Material yang bisa mengikuti perubahan set dengan cepat, membantu proses produksi tetap berjalan tanpa terlalu banyak waktu terbuang.
3. Setelah syuting, material masih bisa digunakan lagi

Astrid Suryatenggara, Chief Communication Officer MD Entertainment, menjelaskan material dari sebuah set film masih memiliki fungsi setelah adegan selesai. (IDN Times/Maura Thirza) Menariknya, penggunaan material ternyata tidak berhenti ketika proses syuting selesai. Astrid Suryatenggara, Chief Communication Officer MD Entertainment, mengatakan material vinyl yang digunakan dalam set Filosofi Teras dibongkar dan disimpan setelah produksi.
“Yang menarik, lantai yang dipakai syuting sama Pak Affandi di film Filosofi Teras setelah selesai syuting, kita bongkar lagi, kita simpan di dusnya. Sekarang lagi dipakai lagi sama Pak Affandi buat syuting. Jadi, kita benar-benar itu sesuatu yang sustainable, yang buat aku cukup berkesan,” ungkap Astrid.
Material tersebut kemudian kembali digunakan untuk kebutuhan syuting berikutnya. Dengan begitu, material dari sebuah set film masih memiliki fungsi setelah adegan terakhir selesai direkam. Vinyl tersebut bahkan direncanakan untuk digunakan kembali dalam pameran. Pemanfaatan berulang ini juga menjadi salah satu hal yang menurutnya menarik dari kolaborasi tersebut, terutama dalam upaya mengurangi material yang terbuang setelah produksi.
4. Industri film jadi cara mengenalkan material ke masyarakat

Chief Marketing Officer PT Tangkas Cipta Optimal (TACO), Anastasia Tirtabudi menjelaskan tentang value kolaborasi ini. (IDN Times/Maura Thirza) Bagi TACO, kolaborasi dengan industri film bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan produksi. Film juga bisa dilihat sebagai medium untuk memperkenalkan material interior kepada masyarakat yang mungkin belum familier dengan berbagai jenis produk tersebut.
Chief Marketing Officer PT Tangkas Cipta Optimal (TACO), Anastasia Tirtabudi, mengatakan istilah seperti HPL (High Pressure Laminate), sheet, vinyl, hingga SPC (Stone Plastic Composite) biasanya baru dikenal ketika seseorang sedang membangun atau merenovasi rumah. Karena itu, TACO ingin mengenalkan material tersebut melalui industri yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film menjadi salah satu medium yang dianggap dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Nah, itulah kenapa kita melihat bahwa ini satu kesempatan untuk TACO memperkenalkan lebih awal. Pasti semua yang ada di sini suatu saat akan punya rumah baru atau mau renovasi rumah baru atau mau renovasi apartemen. Jadi, kita ingin masuk ke tahap yang lebih awal lagi, mengenalkan produk-produk kami ke industri yang memang kelihatannya lebih gampang dan lebih dekat dengan banyak orang,” ujar Anastasia.
Kolaborasi antara TACO dan MD Entertainment dalam film Filosofi Teras ini, akhirnya memperlihatkan bahwa material dalam film bukan cuma perkara bagaimana sebuah ruangan terlihat di layar. Di baliknya, ada tuntutan agar material mampu bertahan selama produksi, mudah mengikuti perubahan set, dan masih bisa dimanfaatkan setelah kamera berhenti merekam.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























