Konser Harapan dalam Harmoni Donasikan Rp414 Juta untuk Berobat Gratis
- Konser amal Harapan dalam Harmoni menghimpun Rp414.618.000 untuk Yayasan Let's Share Health Care, melampaui target sekitar Rp250 juta guna mendukung pengobatan gratis.
- Lima remaja Nada Kasih menginisiasi konser di Gedung Kesenian Jakarta, melibatkan lebih dari 100 pelajar dan dihadiri 416 penonton.
- Para peserta menyeimbangkan sekolah dengan latihan mingguan selama berbulan-bulan, sementara Nada Kasih memakai grup WhatsApp untuk mengoordinasikan persiapan konser.
Jakarta, IDN Times - Lima remaja di balik kelompok musik Nada Kasih berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp414,6 juta melalui konser amal bertajuk Harapan dalam Harmoni. Dana tersebut akan disalurkan kepada Yayasan Let's Share Health Care untuk mendukung layanan pengobatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Konser amal yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada Minggu (11/10/2026) ini melibatkan lebih dari 100 pelajar sekolah menengah pertama dan atas. Mereka tampil bersama dalam sebuah panggung yang mempertemukan musik, kepedulian, dan semangat berbagi.
Suasana meriah terasa ketika lagu "Kopi Dangdut" mengakhiri rangkaian pertunjukan. Sekitar 400-an penonton ikut bergoyang dari kursi masing-masing, sebelum memberikan standing ovation atau tepuk tangan sambil berdiri selama lebih dari tiga menit.
Sebanyak 416 orang hadir dalam konser tersebut, dari total kapasitas 476 kursi yang tersedia. Dipandu Arry Kirana, vokalis grup musik era 1990-an Warna, konser ini menyuguhkan 15 lagu yang dibawakan para musisi muda. Acara tersebut diinisiasi Nada Kasih dan diselenggarakan bekerja sama dengan Ohana, Santa Ursula Orkestra Jakarta, serta Bina Musik Jakarta.
Table of Content
1. Donasi Tembus Rp414 Juta, jauh lampaui target awal
Suasana konser Harapan dalam Harmoni (Dok. Nada Kasih) Konser Harapan dalam Harmoni tidak sekadar menjadi panggung bagi para musisi muda untuk menunjukkan kemampuan mereka. Seluruh hasil penjualan tiket disalurkan untuk mendukung program Let's Share Health Care, yayasan yang didirikan oleh dokter Christabela dan Hayono Isman.
Dari penjualan tiket dan donasi yang terkumpul, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp414.618.000. Jumlah tersebut jauh melampaui target awal yang diperkirakan berada di kisaran Rp250 juta.
Kinsella Chelsy Wong, salah satu inisiator konser sekaligus pendiri Nada Kasih bersama Felicia A. Siamir, mengaku tidak menyangka acara tersebut dapat mengumpulkan donasi sebesar itu.
"Gak nyangka sih, karena targetnya sekitar Rp250 jutaan," ujar Kinsella dalam keterangan resminya.
FYI guys, Nada Kasih beranggotakan lima remaja, yakni Kinsella Chelsy Wong, Felicia A. Siamir, Amanda Haryono, Petra Sosrosaputra, dan Candice Alyson Fendrawan. Mereka masih berusia 15 hingga 17 tahun dan menempuh pendidikan di sejumlah sekolah menengah, termasuk Jakarta Intercultural School dan Santa Ursula Jakarta.
Usai konser, Kinsella menyampaikan rasa terima kasih kepada para penyanyi, pemain orkestra, anggota band, kru, dan penonton yang telah mendukung acara tersebut.
"Terima kasih semua. It is an amazing moment for us," katanya.
2. Latihan setiap Minggu di tengah padatnya jadwal sekolah
Suasana konser Harapan dalam Harmoni (Dok. Nada Kasih) Di balik keberhasilan konser amal ini, ada proses panjang yang harus dijalani para pelajar. Mereka tetap harus membagi waktu antara kegiatan sekolah, aktivitas ekstrakurikuler, dan latihan musik yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Carlos Pardede, salah satu orang tua peserta konser, menceritakan perjuangan anaknya, Mathias Gideon, yang menjadi salah satu penyanyi dalam pertunjukan tersebut.
Setiap Minggu, Mathias dan peserta lainnya menjalani latihan selama dua hingga tiga jam, mulai pukul 14.00 hingga 17.00 WIB di kawasan Menteng.
"Prosesnya memang melelahkan dan penuh tantangan. Tiap hari Minggu latihan dua sampai tiga jam, dari jam 2 sampai 5 sore," kata Carlos.
Di sela-sela latihan, Carlos juga kerap mengingatkan anaknya yang belum genap berusia 16 tahun untuk belajar menghargai sesama, terutama mereka yang membutuhkan bantuan.
Menurut Carlos, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan sosial seperti ini menjadi kesempatan untuk belajar tentang kepedulian dan tanggung jawab sejak dini.
"Mereka hebat ya, kebanyakan anak-anak di bawah 17 tahun, belum punya KTP lho ini anak-anak. Dan ini, saya sampaikan di awal, ini untuk konser amal, pro bono di tengah segala kesibukan ya, ekskul, dan mereka paham serta antusias," ujarnya.
Carlos menilai pengalaman tersebut dapat membantu membentuk karakter anak agar lebih dewasa dan peka terhadap kondisi orang lain.
Ia juga sudah memahami perjuangan para peserta dalam mempersiapkan konser karena anak pertamanya merupakan pemain perkusi di Ohana Orkestra, kelompok orkestra yang berasal dari Sekolah Santa Ursula. Dalam bahasa Hawaii, ohana berarti keluarga.
3. Andalkan grup WhatsApp untuk jaga kekompakan
Suasana konser Harapan dalam Harmoni (Dok. Nada Kasih) Tantangan membagi waktu juga dirasakan oleh Candice dan Petra, dua anggota Nada Kasih. Keduanya mengaku jadwal sekolah yang padat cukup menguras energi, terlebih mereka masih harus mengikuti latihan menjelang konser.
Mereka bersekolah dari Senin hingga Sabtu. Dalam lima hari sekolah, kegiatan belajar berlangsung mulai pukul 06.45 hingga 15.00 WIB. Meski begitu, mereka tetap menyempatkan diri untuk berlatih setiap Minggu sejak awal September.
Untuk menjaga komunikasi dan memastikan persiapan berjalan sesuai rencana, para anggota Nada Kasih memanfaatkan grup WhatsApp.
"Kami buat grup WA, supaya tahu perkembangan latihan kapan dan bagaimana di latihan berikutnya," kata Petra.
Selain Nada Kasih, konser ini turut melibatkan Ohana Orkestra, Bina Musik Jakarta, band dari British School Jakarta, serta murid-murid Bina Musik Jakarta lainnya.
Lewat Harapan dalam Harmoni, para remaja tersebut membuktikan bahwa kesibukan sekolah bukan penghalang untuk berkontribusi bagi sesama. Melalui musik, mereka berhasil mengubah latihan berbulan-bulan menjadi sebuah pertunjukan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menghasilkan donasi ratusan juta rupiah untuk membantu masyarakat mendapatkan layanan kesehatan.





