Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Asuka Layak Jadi Secondary Destination saat Liburan ke Nara?

5 min read
Kenapa Asuka Layak Jadi Secondary Destination saat Liburan ke Nara?
Kuil Asukadera (commons.wikimedia.org/Bakkai)
  • Asuka, bekas pusat kekaisaran Jepang pada Zaman Asuka, menawarkan lanskap pedesaan tenang dengan sawah, perbukitan, desa kecil, dan lokasi wisata yang berdekatan untuk dijelajahi santai.

  • Wilayah ini menyimpan jejak awal sejarah Jepang, termasuk Asukadera yang berdiri pada 596 serta Asuka Daibutsu tahun 609, patung Buddha tertua di Jepang yang masih ada.

  • Situs arkeologi Asuka-Fujiwara ditetapkan UNESCO pada 26 Juli 2026; Asuka mudah dicapai dari Nara, Kyoto, atau Osaka dan dapat dijelajahi dalam sehari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nara sering menjadi tujuan wisata setelah dari Osaka atau Kyoto saat liburan di wilayah Kansai. Prefektur tersebut identik dengan Nara Park yang dihuni rusa dan Kuil Todai-ji yang menjadi rumah bagi patung Buddha raksasa. Jika kamu ingin mencari suasana baru, kamu bisa mempertimbangkan untuk mampir ke Asuka yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi.

Asuka merupakan desa yang pernah menjadi pusat kekaisaran Jepang pada Zaman Asuka (538–710 Masehi) sebelum ibu kota dipindahkan ke Nara. Kawasan di sebelah selatan Kota Nara ini menyuguhkan lanskap pedesaan dengan sawah, perbukitan rendah, kuil tua, dan makam kuno yang tersebar di berbagai titik. Lantas, kenapa Asuka layak jadi secondary destination saat liburan ke Nara? Berikut beberapa alasannya.

  1. 1. Menawarkan suasana pedesaan yang tenang dan santai

    Asuka tidak bertahan sebagai pusat kota besar setelah tidak lagi menjadi ibu kota. Seiring pergeseran kekuasaan politik secara bertahap berpindah ke utara menuju Nara dan Kyoto, daerah ini menjadi pedesaan yang indah. Saat ini, kamu bisa menikmati hamparan sawah, desa-desa kecil, dan hutan yang menutupi perbukitan rendah. 

    Suasananya berbeda dari Kota Nara yang lebih padat oleh wisatawan. Sebagian besar tempat wisata utama berada dalam radius sekitar 3 kilometer dari Stasiun Asuka. Destinasi ini cocok buat kamu yang ingin menikmati perjalanan yang lebih pelan, menikmati momen, dan menjelajah santai dengan bersepeda saat cuaca cerah.

  2. 2. Sejarahnya lebih tua dari Nara

    Ishibutai Kofun
    Ishibutai Kofun (commons.wikimedia.org/Saigen Jiro)

    Jika kamu tertarik dengan sejarah Jepang, maka Asuka menjadi tempat yang layak untuk dijelajahi. Saat menjadi ibu kota pemerintahan Jepang, istana kekaisaran sering dipindahkan setelah kematian seorang kaisar. Hal ini meninggalkan sisa kompleks istana yang tersebar di seluruh wilayah tersebut.

    Pada Periode Asuka, Buddhisme diperkenalkan ke Jepang, sebagian besar melalui imigran dan utusan yang terhubung dengan semenanjung Korea dan China. Selanjutnya, mereka membawa perubahan budaya dan politik yang mendalam, termasuk sistem penulisan, teknologi baru, dan model pemerintahan kontinental. Sisa-sisa kuil Buddha awal masih dapat dilihat di wilayah ini, termasuk reruntuhan kuil dengan tata letak kuno yang berbeda dari desain kuil Jepang pada masa berikutnya.

    Sebuah kuil bernama Asukadera didirikan pada 596 Masehi dan dikenal sebagai kuil besar pertama di Jepang. Di sini terdapat pula Asuka Daibutsu, patung Buddha dari perunggu yang dibuat tahun 609. Usianya lebih dari 100 tahun, lebih tua dibandingkan Daibutsu yang terkenal di Todai-ji, sehingga menjadikannya sebagai patung Buddha tertua di Jepang yang masih ada.

  3. 3. Ada situs bersejarah yang tidak ditemukan di pusat Kota Nara

    Selain reruntuhan istana dan kuil, masih ada situs bersejarah lainnya yang menarik, tetapi tidak ditemukan di pusat Kota Nara, yakni Ishibutai Kofun. Situs ini berupa makam dengan bilik batu yang terdiri dari sekitar 30 batu raksasa. Makam tersebut diyakini milik Soga no Umako, tokoh berpengaruh pada masa Asuka.

    Ada pula Takamatsuzaka Kofun yang terkenal, karena lukisan dinding di dalam bilik batunya dan telah berstatus Harta Nasional Jepang. Lukisan aslinya tidak dapat dilihat pengunjung, tetapi sudah ada replika dan model rekonstruksinya yang dipamerkan. Meski terbatas, setidaknya memberikan kamu gambaran tentang pengaruh seni Asia Timur pada masa tersebut.

  4. 4. Baru ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO

    Reruntuhan Istana Asuka
    Reruntuhan Istana Asuka (commons.wikimedia.org/Saigen Jiro)

    Komite Warisan Dunia UNESCO telah menetapkan situs arkeologi Asuka-Fujiwara sebagai Warisan Dunia pada 26 Juli 2026. Penetapan itu menjadikannya sebagai Warisan Dunia ke-27 dan Warisan Budaya ke-22 bagi Jepang. Propertinya meliputi 19 situs yang tersebar di Desa Asuka serta Kota Kashihara dan Sakurai.

    Prefektur Nara kini memiliki empat Warisan Budaya Dunia, lebih banyak dibandingkan prefektur lain di Jepang. Minat wisatawan internasional untuk mengunjungi Asuka juga diperkirakan meningkat. Bagi kamu yang berencana ke Nara juga bisa memasukkan Asuka ke dalam itinerary, terutama pencinta sejarah dan budaya Jepang.

  5. 5. Akses mudah dan bisa dijelajahi dalam satu hari

    Selain keindahan alam dan peninggalan sejarah maupun budayanya, Asuka relatif mudah diakses karena terhubung dengan jaringan kereta Kintetsu. Kamu bisa naik kereta dari Stasiun Kintetsu-Nara ke Stasiun Yamato-Saidaiji. Setelah itu, pindah Kintetsu-Kashihara Line ke Stasiun Kashiharajingu-mae, pindah Kintetsu-Yoshino Line menuju Stasiun Asuka, total waktu tempuhnya sekitar 1 jam.

    Kalau kamu dari Kyoto, naiklah Kintetsu Kyoto Line ke Kashiharajingu-mae, lalu berpindah ke Kintetsu-Yoshino Line menuju ke Stasiun Asuka dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Bisa juga naik dari Osaka-Abenobashi ke Kashiharajingu-mae, lalu berpindah ke Kintetsu-Yoshino Line menuju Stasiun Asuka. Selain itu, tersedia keberangkatan dari Osaka-Namba ke Stasiun Yamato-Yagi, transfer ke Kintetsu-Kashihara Line ke Stasiun Kashiharajingu-mae, pindah Kintetsu-Yoshino Line menuju Stasiun Asuka.

    Kamu bisa menyewa sepeda  biasa atau sepeda listrik yang tersedia di sekitar Stasiun Asuka, Kashiharajingu-mae, dan Okadera dengan tarif sekitar 1.200 Yen (Rp136 ribu) hingga 1.700 Yen (Rp193 ribu) per hari. Ada pula bus keliling Kame yang melayani rute di area ini, tetapi frekuensinya sekitar satu kali per jam. Perlu kamu tahu bahwa tempat wisata utamanya berdekatan, sehingga satu hari cukup untuk mengunjungi beberapa tempat, sekaligus seperti Asukadera, Ishibutai Kofun, dan Takamatsuzaka Kofun.

    Sederet alasan di atas membuat Asuka layak jadi secondary destination saat liburan ke Nara. Kamu bisa menjelajahi jejak awal sejarah Jepang dengan suasana yang tenang dan dalam waktu singkat. Yuk, bikin itinerary-nya sekarang!

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More