Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Membaca Bersama Anak Jadi Cara Sederhana Bangun Kedekatan dengan Ortu
Kegiatan Membaca dalam Senyap di Jakarta Future Festival for Kids (JFF) 2026 (dok. JFF)
  • Membaca bersama anak menjadi cara sederhana bagi orangtua untuk hadir sepenuhnya, menciptakan momen tenang dan kedekatan di tengah rutinitas yang padat serta distraksi digital.
  • Melalui cerita seperti Na Willa karya Reda Gaudiamo, orangtua dapat memahami sudut pandang dan emosi anak secara lebih dalam tanpa kesan menggurui, membangun komunikasi yang alami.
  • Pengalaman membaca yang menyenangkan menumbuhkan minat literasi sejak dini; kegiatan santai seperti membaca dan berdiskusi buku bersama keluarga bisa jadi awal kecintaan terhadap membaca.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah jadwal yang semakin padat dan perhatian yang sering terbagi oleh berbagai hal, banyak orang tua mencari cara untuk menciptakan momen berkualitas bersama anak. Menariknya, kedekatan tersebut tidak selalu harus dibangun melalui aktivitas besar atau liburan mahal.

Terkadang, momen yang paling membekas justru hadir dari hal-hal sederhana. Duduk berdampingan, membuka halaman demi halaman buku, lalu berbagi cerita dan imajinasi bersama dapat menjadi pengalaman yang menghadirkan kehangatan bagi orangtua maupun anak.

1. Membaca bersama memberi ruang bagi orangtua dan anak untuk benar-benar hadir

Kegiatan Membaca dalam Senyap di Jakarta Future Festival for Kids (JFF) 2026 (dok. JFF)

Di era ketika distraksi digital hadir hampir setiap saat, menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama menjadi sesuatu yang semakin berharga. Aktivitas ini memungkinkan orangtua dan anak berhenti sejenak dari rutinitas dan fokus menikmati momen yang sama.

Hal tersebut terlihat dalam sesi Membaca dalam Senyap yang dihadirkan Visinema Studios di Jakarta Future Festival for Kids (JFF) 2026. Di tengah suasana festival yang ramai, orangtua dan anak berkumpul di taman untuk membaca bersama dengan tenang, menikmati cerita dalam cara yang sederhana namun bermakna.

Menariknya, meski masing-masing tenggelam dalam buku yang dibaca, mereka tetap berbagi pengalaman yang sama. Kehadiran fisik dan waktu yang dilalui bersama menciptakan bentuk kedekatan yang sering kali sulit ditemukan dalam keseharian yang serba cepat.

Bagi banyak keluarga yang hadir, sesi tersebut menjadi pengingat bahwa membangun hubungan dengan anak tidak selalu membutuhkan aktivitas yang rumit. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah waktu dan perhatian yang diberikan sepenuhnya.

2. Cerita membantu orangtua memahami dunia dari sudut pandang anak

Kegiatan Membaca dalam Senyap di Jakarta Future Festival for Kids (JFF) 2026 (dok. JFF)

Salah satu kekuatan buku anak terletak pada kemampuannya menghadirkan cara pandang yang berbeda. Melalui karakter dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, orangtua dapat melihat bagaimana anak memandang dunia di sekelilingnya.

Dalam sesi tersebut, peserta membaca buku Na Willa dan Rumah Dalam Gang karya Reda Gaudiamo. Buku ini mengisahkan seorang anak perempuan yang melihat kehidupan melalui rasa ingin tahu dan kepekaan terhadap hal-hal kecil yang sering luput diperhatikan orang dewasa.

Menurut Reda, buku tersebut sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk anak-anak, tetapi juga untuk orangtua. Ia ingin mengingatkan bahwa anak memiliki perasaan yang sama kompleksnya dengan orang dewasa, meski sering kali belum mampu mengungkapkannya dengan kata-kata.

"Sebenarnya, saya membuat buku Na Willa itu untuk para orangtua, bukan anak-anak, agar orang dewasa bisa mendengar anak. Mereka juga sama kayak kita, merasa senang, sedih, kesal, kecewa, marah, tapi tidak tahu apa nama perasaan tersebut," ujar Reda.

Melalui cerita, percakapan antara orangtua dan anak dapat terbangun secara lebih natural. Buku menjadi jembatan yang membantu kedua pihak saling memahami tanpa harus merasa digurui.

3. Literasi bisa tumbuh dari pengalaman yang menyenangkan

Kegiatan Membaca dalam Senyap di Jakarta Future Festival for Kids (JFF) 2026 (dok. JFF)

Membangun kebiasaan membaca pada anak sering kali dianggap sebagai tantangan tersendiri. Padahal, minat baca umumnya tumbuh ketika anak memiliki pengalaman positif dan menyenangkan saat berinteraksi dengan buku.

Reda Gaudiamo mengaku terharu melihat anak-anak membaca dengan fokus di tengah suasana festival. Baginya, melihat anak menikmati buku dengan nyaman merupakan pemandangan yang selalu menghadirkan harapan tentang masa depan literasi.

"Saya merasa merinding dan terharu melihat teman-teman kecil membaca buku Na Willa dan Rumah Dalam Gang dengan fokus di taman ini. Senang sekali melihat anak-anak membaca buku, karena menurut saya itu hal yang sangat penting," ungkapnya.

Kegiatan membaca bersama yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi buku hingga sesi bernyanyi bersama menunjukkan, bahwa literasi tidak harus selalu hadir dalam suasana formal. Ketika dikemas secara hangat dan menyenangkan, buku dapat menjadi bagian dari pengalaman keluarga yang berkesan.

Hal ini juga menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap membaca sering kali berawal dari pengalaman emosional yang positif, bukan semata-mata dari kewajiban belajar.

Membangun kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan cara yang rumit. Momen sederhana seperti membaca bersama dapat menjadi ruang untuk saling mendengar, memahami, dan menciptakan kenangan yang bertahan lama.

Kalau kamu sedang mencari aktivitas berkualitas untuk dilakukan bersama si kecil, mungkin sudah saatnya meluangkan waktu sejenak untuk membuka buku favorit dan menikmati cerita bersama. Sebab, terkadang hubungan yang paling hangat dibangun dari halaman-halaman sederhana yang dibaca berdampingan.

Editorial Team

Related Article