Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pilihan Cara Mengatur Keuangan Saat Ramadan Bisa Tunjukkan Pola Pikir

Pilihan Cara Mengatur Keuangan Saat Ramadan Bisa Tunjukkan Pola Pikir
ilustrasi pria mengatur keuangan (pexels.com/kaboompics)
Intinya Sih
5W1H
  • Artikel membahas berbagai pola pengelolaan keuangan selama Ramadan yang mencerminkan cara berpikir dan tingkat kedewasaan seseorang dalam menghadapi godaan konsumtif.
  • Dijelaskan lima tipe perilaku finansial, mulai dari pemburu diskon impulsif hingga mereka yang tetap disiplin menabung, berinvestasi, dan menjaga stabilitas keuangan meski pengeluaran meningkat.
  • Pesan utamanya menekankan bahwa Ramadan bisa menjadi ajang latihan disiplin finansial dan refleksi diri untuk membangun mindset keuangan yang lebih matang setelah bulan suci berakhir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan sering jadi momen penuh berkah, tapi juga penuh godaan belanja. Mulai dari takjil, bukber, hampers, sampai baju baru, semuanya terasa seperti kebutuhan mendesak. Cara seseorang mengatur keuangan di bulan ini sebenarnya bisa mencerminkan pola pikir, kedewasaan, dan cara pandangnya terhadap uang.

Berikut beberapa pilihan cara mengatur keuangan saat Ramadan dan mindset yang terlihat di baliknya. Setiap pilihan membawa konsekuensi yang berbeda terhadap kondisi finansial setelah Lebaran. Dari situ, kita bisa melihat siapa yang sekadar mengikuti arus dan siapa yang benar-benar punya kontrol.

Table of Content

1. Fokus diskon tanpa perhitungan

1. Fokus diskon tanpa perhitungan

ilustrasi belanja sepatu Oxford
ilustrasi belanja sepatu Oxford (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Sebagian orang merasa sudah hemat hanya karena berhasil mendapatkan banyak diskon. Setiap ada promo besar atau flash sale, langsung checkout tanpa benar-benar mengecek apakah barang tersebut dibutuhkan. Mereka merasa menang karena potongan harga, padahal pengeluaran tetap bertambah.

Mindset yang terlihat di sini cenderung reaktif dan emosional. Keputusan diambil karena dorongan sesaat dan takut ketinggalan kesempatan. Akibatnya, uang habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak masuk prioritas.

2. Membuat anggaran khusus ramadan

ilustrasi atur ulang anggaran bulanan (pexels.com/kaboompics)
ilustrasi atur ulang anggaran bulanan (pexels.com/kaboompics)

Ada juga yang sejak awal sudah menyiapkan anggaran khusus untuk Ramadan. Mereka memisahkan dana untuk kebutuhan harian, sedekah, zakat, hingga persiapan Lebaran secara rinci. Semua sudah dihitung agar tidak mengganggu kebutuhan bulan berikutnya.

Mindset ini menunjukkan perencanaan yang matang dan kontrol diri yang kuat. Uang diposisikan sebagai sesuatu yang harus diatur, bukan sekadar dibelanjakan. Orang dengan pola ini biasanya lebih tenang karena tahu batas pengeluaran mereka.

3. Mengutamakan ibadah dibanding gaya hidup

ilustrasi orang berdoa (pexels.com/Michael Burrows)
ilustrasi orang berdoa (pexels.com/Michael Burrows)

Sebagian orang memilih menekan pengeluaran konsumtif dan lebih fokus pada ibadah. Bukber tidak harus selalu di tempat mahal, dan takjil bisa dibuat sendiri di rumah. Mereka sadar bahwa esensi Ramadan bukan pada kemewahan, tetapi pada peningkatan kualitas diri.

Mindset yang tercermin adalah orientasi nilai dan prioritas jangka panjang. Kepuasan spiritual lebih penting daripada pengakuan sosial. Dengan begitu, pengeluaran tetap terkendali tanpa mengurangi makna bulan suci.

4. Tetap konsumtif dengan alasan “setahun sekali”

ilustrasi belanja banyak (pexels.com/Max Fischer)
ilustrasi belanja banyak (pexels.com/Max Fischer)

Kalimat “Ramadan cuma setahun sekali” sering dijadikan pembenaran untuk belanja berlebihan. Semua keinginan terasa sah untuk diwujudkan dalam waktu bersamaan. Tanpa sadar, kartu kredit atau paylater pun ikut digunakan.

Mindset ini menunjukkan kecenderungan impulsif dan kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang. Fokusnya lebih pada kesenangan sesaat dibanding kestabilan finansial. Setelah Lebaran, barulah muncul tekanan karena harus menutup pengeluaran yang membengkak.

5. Menyisihkan untuk investasi dan dana darurat

ilustrasi bermain saham
ilustrasi bermain saham (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Ada juga yang tetap konsisten menyisihkan uang untuk tabungan, investasi, atau dana darurat meskipun pengeluaran Ramadan meningkat. Mereka tidak mengorbankan tujuan jangka panjang hanya demi euforia musiman. Bahkan, THR dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi keuangan.

Mindset ini menunjukkan kedewasaan dan visi yang jauh ke depan. Mereka paham bahwa Ramadan adalah momen spiritual, bukan alasan untuk kehilangan disiplin finansial. Dengan pola ini, kondisi keuangan tetap stabil bahkan setelah Lebaran berlalu.

Cara mengatur keuangan saat Ramadan bukan sekadar soal besar kecilnya pengeluaran. Di balik setiap keputusan belanja, ada pola pikir yang sedang bekerja. Apakah kita impulsif, terencana, atau visioner, semuanya tercermin dari kebiasaan kecil sehari-hari.

Ramadan bisa menjadi latihan membangun disiplin dan kesadaran finansial. Jika mampu mengelola uang dengan bijak di bulan penuh godaan ini, maka bulan-bulan setelahnya akan terasa lebih ringan. Pada akhirnya, bukan hanya pahala yang bertambah, tetapi juga kualitas mindset keuangan kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us

Latest in Men

See More