Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Pola Pikir tentang Uang yang Bikin Menabung Terasa Sulit, Apa Saja?

5 Pola Pikir tentang Uang yang Bikin Menabung Terasa Sulit, Apa Saja?
ilustrasi menabung (unsplash.com/towfiqu999999)
Intinya Sih

  • Menabung bisa dilakukan dengan penghasilan apa pun.

  • Menabung seharusnya memberi kepuasan dan rasa aman, bukan rasa bersalah.

  • Mengubah pola pikir agar masa depan lebih terjamin.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang berpikir menabung itu sulit, bahkan hampir mustahil. Bukan karena penghasilan yang kurang, tapi karena setiap kali ada niat menyisihkan uang, selalu ada alasan untuk menunda. Gaji baru aja masuk, tapi entah kenapa uang cepat sekali perginya.

Masalahnya, ternyata sering kali ada di cara berpikir. Pola pikir tentang uang terbentuk dari kebiasaan, lingkungan, dan pengalaman hidup yang memengaruhi cara kamu mengelola keuangan. Berikut ini lima pola pikir tentang uang yang sebaiknya diubah.

1. Menabung hanya bisa dilakukan saat uang sudah banyak

ilustrasi menabung uang
ilustrasi menabung uang (unsplash.com/Defrino Maasy)

Pola pikir yang sering terjadi adalah menganggap menabung hanya bisa dilakukan jika penghasilan sudah besar. Kamu merasa belum pantas menabung karena gaji masih pas-pasan. Akhirnya, niat menabung selalu ditunda dengan alasan tunggu mapan.

Masalahnya, menunggu uang banyak sering kali tak pernah terjadi. Kebutuhan dan gaya hidup cenderung ikut naik seiring naiknya penghasilan. Kalau kebiasaan menabung tak dibangun dari sekarang, jumlah berapa pun akan tetap terasa kurang.

2. Menabung berarti menyiksa diri

ilustrasi memegang kartu kredit
ilustrasi memegang kartu kredit (pexels.com/Anete Lusina)

Banyak orang berpikir kalau menabung itu adalah sebuah pengorbanan. Setiap uang yang disimpan terasa seperti kesenangan yang diambil. Akhirnya, menabung diasosiasikan dengan hidup serba menahan diri dan tidak menikmati hasil kerja keras.

Pola pikir ini membuat kamu secara tak sadar menghindari untuk menabung. Setiap kali mencoba, kamu merasa tertekan dan akhirnya menyerah. Padahal, menabung seharusnya memberi kepuasan dan rasa aman, bukan rasa bersalah.

3. Terlalu fokus pada kepuasan yang instan

ilustrasi belanja
ilustrasi belanja (pexels.com/Sam Lion)

Godaan terbesar dalam menabung adalah kepuasan instan. Diskon, flash sale, tren baru, dan gaya hidup digital bikin pengeluaran terasa mudah dan cepat. Kamu tahu kalau harus menabung, tapi keinginan saat ini terasa lebih mendesak.

Pola pikir ini membuat masa depan hanya bayangan, sementara keinginan saat ini terasa nyata. Akibatnya, menabung selalu kalah prioritas. Uang habis untuk hal-hal kecil yang sepele, tapi jika dikumpulkan jumlahnya besar.

4. Merasa tak cukup pintar mengatur uang

ilustrasi menghitung uang
ilustrasi menghitung uang (pexels.com/karolina-grabowska)

Ada juga pola pikir yang membuatmu merasa tak cocok dengan urusan keuangan. Kamu menganggap diri tidak disiplin, tidak paham finansial, atau selalu gagal mengatur uang. Label ini membuatmu enggan mencoba lagi.

Setiap kegagalan menabung di masa lalu dijadikan bukti bahwa kamu memang tidak bisa. Padahal, kemampuan mengelola uang bukan bakat bawaan, tapi keterampilan yang bisa dilatih. Jadi, ubah pola pikir ini agar gaya hidupmu pun ikut berubah.

5. Merasa masa depan masih tak pasti untuk dipikirkan

ilustrasi risiko investasi pada keuangan
ilustrasi risiko investasi pada keuangan (unsplash.com/jpvalery)

Sebagian orang sulit menabung karena merasa masa depan terlalu tak pasti. Hidup terasa tidak bisa ditebak, jadi kenapa harus memikirkan hal yang belum tentu terjadi? Pola pikir ini membuatmu lebih memilih menikmati hari ini sepenuhnya.

Masalahnya, ketidakpastian justru jadi alasan kenapa menabung itu penting. Dana darurat, tabungan, dan perencanaan keuangan memberi bantalan saat hal tak terduga terjadi. Cukup mulai dari kesadaran kecil bahwa menabung adalah bentuk kepedulian pada diri sendiri.

Menabung terasa mustahil bukan karena penghasilan kurang, tapi karena pola pikir yang menghalangi. Ketika cara pandang tentang uang tidak berubah, strategi keuangan apa pun akan terasa berat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Business

See More