Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Parenting agar Anak Gak Tumbuh dengan Pola Pikir Misoginis

5 Tips Parenting agar Anak Gak Tumbuh dengan Pola Pikir Misoginis
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Ivan S)
Intinya Sih

  • Kesadaran kesetaraan gender perlu dikenalkan sejak dini

  • Jadilah role model yang konsisten dalam perilaku sehari-hari

  • Selektif terhadap tontonan dan media yang dapat memengaruhi pola pikir anak

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pola pikir misoginis gak muncul begitu saja dalam semalam. Ia terbentuk dari lingkungan, ucapan sehari-hari, tontonan, hingga contoh perilaku yang terus berulang tanpa disadari. Dalam dunia parenting modern, kesadaran soal kesetaraan gender sudah jadi pembahasan penting yang gak bisa diabaikan.

Anak adalah peniru ulung yang menyerap nilai dari rumah sebelum mengenal dunia luar. Kalau rumah menjadi ruang yang adil dan penuh empati, fondasi karakter akan tumbuh lebih sehat. Membentuk pola pikir yang menghargai perempuan bukan sekadar wacana sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab moral keluarga.

Kalau kebetulan kamu adalah orang tua dengan anak yang masih kecil, artikel ini buatmu. Sebab, ada beberapa tips parenting agar anak gak tumbuh dengan pola pikir misoginis yang bisa kamu praktikkan.

1. Bangun kesadaran tentang kesetaraan sejak dini

ilustrasi orang tua dan anak
ilustrasi orang tua dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kesadaran tentang kesetaraan gender perlu dikenalkan sejak anak masih kecil. Anak belajar memahami dunia melalui narasi yang didengar dan dilihat setiap hari. Jika sejak awal dikenalkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak serta kesempatan yang sama, pola pikir yang adil akan lebih mudah tumbuh.

Penjelasan sederhana tentang peran dan tanggung jawab tanpa membatasi berdasarkan gender sangat penting. Hindari kalimat seperti “anak laki-laki harus kuat” atau “anak perempuan harus lembut”, karena narasi seperti itu membentuk batasan yang sempit. Lingkungan yang adil membantu anak melihat manusia berdasarkan karakter, bukan jenis kelamin.

2. Jadilah role model yang konsisten

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/cottonbro studio)

Anak belajar lebih cepat dari contoh nyata dibandingkan teori panjang lebar. Jika orang tua menunjukkan sikap saling menghormati, pembagian peran yang setara, dan komunikasi yang sehat, anak akan menyerap nilai tersebut secara alami. Konsistensi perilaku jauh lebih efektif dibandingkan sekadar nasihat.

Misalnya, pembagian tugas rumah tangga yang adil menunjukkan bahwa pekerjaan domestik bukan tanggung jawab satu gender saja. Sikap saling mendukung dalam pengambilan keputusan keluarga juga memperlihatkan prinsip kesetaraan. Keteladanan yang konsisten membantu membangun pemahaman yang kuat tanpa perlu ceramah panjang.

3. Selektif terhadap tontonan dan media

ilustrasi menonton film dengan anak
ilustrasi menonton film dengan anak (pexels.com/August de Richelieu)

Di era digital, anak sangat mudah terpapar berbagai konten dari media sosial, film, hingga game. Banyak konten yang tanpa sadar memuat stereotip atau candaan yang merendahkan perempuan. Jika dibiarkan tanpa pendampingan, narasi ini bisa tertanam sebagai sesuatu yang dianggap normal.

Pendampingan saat menonton atau menggunakan gawai memberi ruang diskusi yang sehat. Ketika ada adegan yang bias atau merendahkan, jelaskan mengapa hal tersebut kurang tepat. Diskusi ringan seperti ini membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap pesan yang diterima.

4. Ajarkan empati dan komunikasi yang sehat

ilustrasi menasehati anak
ilustrasi menasehati anak (unsplash.com/volant)

Empati adalah kunci untuk mencegah pola pikir misoginis berkembang. Anak yang mampu memahami perasaan orang lain cenderung lebih menghargai perbedaan dan menghindari sikap merendahkan. Proses ini bisa dimulai dari percakapan sederhana tentang perasaan sehari-hari.

Latih anak untuk mengungkapkan emosi dengan kata-kata yang tepat, bukan dengan amarah atau ejekan. Komunikasi yang sehat membantu membangun relasi yang setara dan saling menghormati. Ketika empati tumbuh kuat, kecenderungan meremehkan gender lain akan semakin kecil.

5. Beri ruang diskusi terbuka tentang isu gender

ilustrasi ibu dan anak
ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Puwadon Sang-ngern)

Isu gender bukan topik tabu yang harus dihindari dalam keluarga. Justru, diskusi terbuka membantu anak memahami realitas sosial dengan sudut pandang yang lebih luas. Percakapan yang jujur membuat anak terbiasa melihat masalah secara objektif.

Ketika anak bertanya tentang perbedaan peran atau berita sosial tertentu, tanggapi dengan tenang dan informatif. Hindari respons defensif atau meremehkan pertanyaan yang muncul. Diskusi yang sehat membantu membentuk karakter yang kritis sekaligus menghargai keberagaman.

Mencegah pola pikir misoginis tumbuh pada anak adalah proses panjang yang membutuhkan kesadaran dan konsistensi. Rumah menjadi ruang pertama tempat nilai kesetaraan ditanam dan dipraktikkan. Dengan pendekatan parenting yang reflektif dan terbuka, anak berpeluang tumbuh menjadi pribadi yang adil dan penuh empati. Perubahan besar dalam masyarakat selalu dimulai dari langkah kecil di dalam keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Life

See More