Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Profil Syaikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram yang telah Wafat
ilustrasi imam umat Muslim (pexels.com/Muhammad Adil)

  • Syaikh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani wafat pada 21 September di usia sekitar 48 tahun; jenazahnya disholatkan di Masjidil Haram lalu dimakamkan di Pemakaman Al-Ma'la.

  • Lahir di Madinah pada 1977, ia mulai mengumandangkan azan sejak usia 15 tahun, mendalami gaya Madinah, dan kembali menjadi muazin Masjid Al-Maddah pada 2007.

  • Ia diangkat sebagai muazin tetap Masjidil Haram pada Ramadan 1439 H atau 2018, bertugas mengumandangkan azan, memandu takbir dan tabligh, serta dikenal tekun beribadah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Umat Islam tengah berduka atas kepergian muazin Masjidil Haram, Syaikh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani. Beliau wafat pada Senin (21/9) di usia kurang lebih 48 tahun. Jenazahnya kemudian disholatkan setelah sholat Asar di Masjidil Haram dan dimakamkan di Pemakaman Al-Ma'la.

Selain dikaruniai suara yang merdu saat mengumandangkan azan, kisah perjalanan hidup beliau juga turut menginspirasi banyak umat Islam. Bagi yang ingin mengenal lebih dekat, berikut adalah profil Syaikh Ibrahim Al-Madani, sang muazin Masjidil Haram.

1. Telah dididik menjadi muazin sejak kecil

Ilustrasi imam masjid (pexels.com/Ahmet Polat)

Lahir di Madinah pada 8 Zulhijah 1397 Hijriah (20 November 1977) ketertarikan Syaikh Ibrahim pada dunia azan sudah terlihat sejak usia belasan tahun. Dididik dalam lingkungan religius oleh kakeknya yang merupakan seorang hafiz Al-Qur'an, ia mulai mengumandangkan azan di masjid sekitar rumahnya saat usianya menginjak 15 tahun.

Pada masa remajanya, ia sempat menggunakan gaya azan khas Mesir, sebelum akhirnya beralih mendalami gaya azan Madinah ketika beranjak dewasa. Meskipun sempat vakum karena mengajar di luar kota, ia kembali menjadi muazin di Masjid Al-Maddah pada 2007.

Kedekatannya dengan profesi muazin membawanya memahami perbedaan karakteristik azan di dua kota suci. Menurutnya, azan gaya Madinah terasa lebih lembut dan emosional, sementara azan gaya Makkah memancarkan kewibawaan yang kuat. Hal ini sejalan dengan ungkapan masyhur, "Makkah adalah kewibawaan, sedangkan Madinah adalah keindahan."

2. Ditunjuk menjadi muazin Masjidil Haram di usia 41 tahun

Ilustrasi imam masjid (pexels.com/Faheem Ahamad)

Babak baru dalam hidupnya dimulai pada Ramadan 1439 Hijriah (2018) ketika ia resmi diangkat sebagai salah satu muazin tetap di Masjidil Haram. Sejak saat itu, tugasnya bukan sekadar mengumandangkan panggilan sholat, tetapi juga memandu takbir dan tabligh dari Mukabbariyah.

Di balik suaranya yang merdu, mendiang menyimpan kerendahan hati yang luar biasa. Ia bahkan mengaku tidak bisa memejamkan mata semalaman sebelum pertama kali bertugas di Masjidil Haram. Bagi Syaikh Ibrahim, tugas tersebut adalah amanah berat karena setiap kesalahan kecil akan terdengar oleh jutaan jemaah di tempat paling suci.

Melihat ribuan jemaah bertawaf mengelilingi Ka'bah diiringi suaranya selalu membuatnya terharu hingga meneteskan air mata. Ia memandang posisi tersebut murni sebagai karunia Allah SWT, bukan semata-mata pencapaian pribadi.

3. Dikenal sebagai ahli ibadah

Ilustrasi imam masjid (pexels.com/Alena Darmel)

Semasa hidupnya, Syaikh Ibrahim dikenal sangat dekat dengan ibadah. Rekan sesama muazin mengenangnya sebagai sosok yang kerap menghabiskan waktu berhari-hari untuk beribadah di Mukabbariyah, khususnya pada sepertiga malam terakhir.

Kini, suara khas yang selama bertahun-tahun menggetarkan hati jemaah di Masjidil Haram telah tiada. Namun, dedikasi dan perjalanan hidupnya dari seorang remaja masjid di Madinah hingga menjadi muazin di jantung kota suci akan terus dikenang sebagai inspirasi mendalam bagi umat Islam.

Itulah profil Syaikh Ibrahim Al-Madani mengajarkan kita bahwa ketulusan dan kerja keras akan membawa seseorang pada kemuliaan. Semoga segala amal kebaikan beliau diterima disisi Allah SWT.

Curated For You

Editorial Team

Related Article