Foto profil band The Jansen (Dok. The Jansen)
Romantisasi Impulsif tidak hanya ingin didengar. Album ini ingin dilihat. The Jansen membangun pendekatan naratif seperti sebuah film: ada babak, ada klimaks, ada adegan hening, dan ada kredit penutup. Seluruh album mengisahkan Johan dan Marni. Johan adalah anak orang kaya yang jatuh miskin. Marni adalah orang miskin sejak lama. Keduanya menjalin cinta di tengah keadaan yang tidak pernah berpihak. Bukan Romeo-Juliet yang dramatis, bukan pula kisah cinta ala sinetron. Ini tentang dua anak manusia yang saling mengikat cinta meski dunia tak berpihak dan kemiskininan mengintai di depan mata.
Namun, yang paling menyakitkan dari kisah mereka bukanlah kemiskinan itu sendiri. Melainkan kenyataan bahwa negara hadir untuk memiskinkan dan memisahkan mereka. Kebijakan yang tidak ramah orang miskin, birokrasi yang menghancurkan, ruang hidup yang terus menyempit, semua itu menjadi dinding antara Johan dan Marni. Pada akhirnya, kisah Johan dan Marni tak semata cerita saling menguatkan saat dihimpit kekurangan, lebih dari itu, mereka menolak diam, mereka melawan sistem. Cinta mereka tak pernah masuk dalam pidato kepresidenan atau tercatat di buku-buku sekolah.
Adji Pamungkas melempar gagasan yang mungkin terdengar gila. "Kami pengin ngasih penawaran lain atas pembacaan album. Kalau album ini bisa kok dijadikan film," ujar Adji dalam keterangan resminya.
Menurut Adji, dua belas lagu di Romantisasi Impulsif sudah punya alur, karakter, konflik, dan resolusi. Tinggal ada yang berani mengemasnya ke dalam gambar bergerak. Apalagi dengan latar sosial politik yang sudah begitu kental di cerita Johan dan Marni, bahan untuk sebuah film sudah lengkap.
"Pola adaptasi film dari novel kan udah banyak, dan seru-seru. Kayaknya album musik juga bisa, kok," tambah Tata.