Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Romantisasi Impulsif: Album The Jansen yang Terasa Seperti Narasi Film
Foto profil band The Jansen (Dok. The Jansen)
  • The Jansen merilis album kelima mereka sekaligus penutup dari sebuah trilogi: Romantisasi Impulsif

  • Di album ini The Jansen membangun pendekatan naratif seperti sebuah film

  • Lewat album ini The Jansen mengajak kita merenungi dan tetap pada kesimpulan: hidup ini memang penuh sansai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - The Jansen merilis album kelima mereka sekaligus penutup dari sebuah trilogi: Romantisasi Impulsif. Sebuah karya berisi dua belas nomor yang melengkapi tiga babak yang dimulai oleh Banal Semakin Binal (2022) dan dilanjutkan oleh Durja Bersahaja (2024).

Romantisasi Impulsif dibangun di atas sebuah tiga kata kecil yang ternyata amat besar maknanya: jika, bila, dan andai. Jika hidup hanya sekadar berjalan. Jika hidup bagai rumah makan sederhana. Jika hidup mengharapkan jadi jutawan. Jika hidup penuh dengan glamor. Bila cinta adalah sebuah kenakalan remaja. Bila cinta adalah sebuah propaganda. Andai kita tumbuh besar nanti. Andai kita punya rumah nanti. Andai kita masih bersama sampai akhir.

1. Johan dan Marni adalah tokoh utama di album ini

Artwork album Romantisasi Impulsif dari The Jansen (Dok. The Jansen)

Di album ini The Jansen, yang  kini  tinggal  Cintarama  Bani  Satria  (Tata)  dan  Adji Pamungkas, seakan mengajak kita merenungi dan tetap pada kesimpulan: hidup ini memang penuh sansai. Kita semua hidup di era melarat, era ketika kepastian adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.

Bagi sebagian besar lain, hidup dijalani dengan penuh tanda tanya dan harapan yang digantungkan pada kata "jika" dan "andai". Pada akhirnya, kata-kata itu tidak lagi sekadar pengandaian, tapi menjadi ruang terakhir tempat mimpi-mimpi bermukim. Mimpi-mimpi yang terus dimiskinkan oleh situasi bikinin negara.

The Jansen dalam album ini bertindak seperti pembawa berita. Bukan berita dari stasiun televisi atau koran, tapi berita dari pinggir rel, pasar yang becek, rumah petakan kaum miskin kota, sekolah kecil di daerah terpencil dan yang terpenting dari hati Johan dan Marni.  Ya, perkenalkan Johan dan Marni, tokoh utama di album ini.

2. The Jansen membangun pendekatan naratif seperti sebuah film

Foto profil band The Jansen (Dok. The Jansen)

Romantisasi Impulsif tidak hanya ingin didengar. Album ini ingin dilihat. The Jansen membangun pendekatan naratif seperti sebuah film: ada babak, ada klimaks, ada adegan hening, dan ada kredit penutup. Seluruh album mengisahkan Johan dan Marni. Johan adalah anak orang kaya yang jatuh miskin. Marni adalah orang miskin sejak lama. Keduanya menjalin cinta di tengah keadaan yang tidak pernah berpihak. Bukan Romeo-Juliet yang dramatis, bukan pula kisah cinta ala sinetron. Ini tentang dua anak manusia yang saling mengikat cinta meski dunia tak berpihak dan kemiskininan mengintai di depan mata.

Namun, yang paling menyakitkan dari kisah mereka bukanlah kemiskinan itu sendiri. Melainkan kenyataan bahwa negara hadir untuk memiskinkan dan memisahkan mereka. Kebijakan yang tidak ramah orang miskin, birokrasi yang menghancurkan, ruang hidup yang terus menyempit, semua itu menjadi dinding antara Johan dan Marni. Pada akhirnya, kisah Johan dan Marni tak semata cerita saling menguatkan saat dihimpit kekurangan, lebih dari itu, mereka menolak diam, mereka melawan sistem. Cinta mereka tak pernah masuk dalam pidato kepresidenan atau tercatat di buku-buku sekolah.

Adji Pamungkas melempar gagasan yang mungkin terdengar gila. "Kami pengin ngasih penawaran lain atas pembacaan album. Kalau album ini bisa kok dijadikan film," ujar Adji dalam keterangan resminya.

Menurut Adji, dua belas lagu di Romantisasi Impulsif sudah punya alur, karakter, konflik, dan resolusi. Tinggal ada yang berani mengemasnya ke dalam gambar bergerak. Apalagi dengan latar sosial politik yang sudah begitu kental di cerita Johan dan Marni, bahan untuk sebuah film sudah lengkap.

"Pola adaptasi film dari novel kan udah banyak, dan seru-seru. Kayaknya album musik juga bisa, kok," tambah Tata.

3. Sentuhan suara juga menjadi pembeda

Foto profil band The Jansen (Dok. The Jansen)

Yang paling mengejutkan dari album ini adalah warna suaranya. Jika Durja Bersahaja terasa seperti tersesat di lorong gelap, maka Romantisasi Impulsif seperti berjalan di pasar lama yang eklektik. Pasar-pasar di era jalur perdagangan Nusantara baru dibuka. Maka tak heran jika The Jansen mengambil mood sound dari berbagai musik dunia.

Ada tangga nada dan ornamentasi khas musik Arab yang meliuk-liuk. Ada sentuhan gitar Spanyol yang flamenco dan dramatis. Ada pula nuansa scale gitar Tionghoa yang pentatonik dan menusuk perlahan. Semuanya dikawinkan dengan DNA The Jansen yang sudah dikenal: fuzz, reverb basah, vokal Tata yang terasa dari balik tirai, dan petikan-petikan penuh chorus. Hasilnya adalah sebuah album yang terdengar asing tapi akrab. Seperti film asing tanpa subtitle—pendengar tidak selalu paham bahasanya, tapi merasakannya.

"Kami selalu senang membuat sesuatu dengan pendekatan yang baru. Kami suka bereksplorasi, mengerjakan sesuatu yang dimulai dari keisengan," ujar Tata.

Curated For You

Editorial Team

Related Article