Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tanda Pria Mulai Mengalami Lifestyle Inflation, Awas Jangan Terjebak
ilustrasi belanja banyak (pexels.com/Max Fischer)
  • Lifestyle inflation terjadi saat pengeluaran naik seiring pendapatan, sehingga tabungan dan aset tidak bertambah meski gaji meningkat.
  • Tandanya meliputi barang mahal terasa biasa, pengeluaran kecil makin rutin, serta sulit kembali ke gaya hidup yang lebih sederhana.
  • Kondisi ini dapat memicu rasa selalu kekurangan; membatasi konsumsi dan mengalokasikan tambahan pendapatan untuk tabungan, investasi, atau dana darurat diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendapatan yang meningkat biasanya menjadi kabar baik bagi kondisi finansial seseorang. Namun, kenaikan penghasilan terkadang diikuti dengan kenaikan gaya hidup yang hampir sama besarnya. Akibatnya, meski mendapatkan uang lebih banyak, jumlah uang yang tersisa justru tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

Kondisi tersebut dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu ketika pengeluaran meningkat seiring bertambahnya pendapatan. Hal ini tidak selalu buruk karena menikmati hasil kerja juga merupakan hal yang wajar, tetapi bisa menjadi masalah jika pengeluaran tumbuh lebih cepat daripada kemampuan membangun tabungan dan aset. Berikut lima tanda pria mulai mengalami lifestyle inflation.

1. Gaji naik, tetapi tabungan tetap begitu-begitu saja

ilustrasi pria memasukkan uang ke dompet (pexels.com/EVG Kowalievska)

Salah satu tanda paling mudah terlihat adalah kondisi tabungan yang tidak banyak berubah meskipun pendapatan sudah meningkat. Dulu mungkin bisa menyisihkan sebagian penghasilan dengan nyaman, tetapi setelah mendapat kenaikan gaji, jumlah yang ditabung tetap sama atau bahkan berkurang.

Biasanya, tambahan penghasilan mulai terserap ke berbagai kebutuhan baru. Pengeluaran yang sebelumnya dianggap sebagai kemewahan perlahan berubah menjadi bagian dari rutinitas sehingga tidak lagi terasa sebagai pengeluaran ekstra.

2. Barang yang dulu dianggap mahal kini terasa biasa

ilustrasi belanja sepatu Oxford (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Ketika kemampuan finansial meningkat, standar seseorang terhadap harga juga dapat berubah. Makan di restoran yang dulu hanya dilakukan sesekali, misalnya, perlahan menjadi pilihan rutin tanpa banyak pertimbangan.

Hal yang sama bisa terjadi pada pakaian, gadget, kendaraan, atau berbagai barang hobi. Masalahnya bukan pada membeli barang yang lebih mahal, tetapi ketika standar konsumsi terus meningkat tanpa mempertimbangkan tujuan finansial jangka panjang.

3. Pengeluaran kecil semakin sering muncul

ilustrasi kasir (pexels.com/kampus production)

Lifestyle inflation tidak selalu terlihat dari satu pembelian besar. Justru, banyak pengeluaran tambahan muncul dalam bentuk kebiasaan kecil seperti pesan makanan lebih sering, berlangganan berbagai layanan, rutin nongkrong di tempat yang lebih mahal, atau menggunakan layanan yang sebelumnya jarang dipakai.

Satu pengeluaran mungkin terlihat tidak signifikan. Namun, jika dilakukan berulang kali dalam sebulan, totalnya dapat menjadi cukup besar dan diam-diam mengurangi ruang untuk menabung atau berinvestasi.

4. Sulit kembali ke gaya hidup sebelumnya

ilustrasi pria belanja (pexels.com/Drazen Zigic)

Tanda lainnya adalah ketika seseorang mulai merasa gaya hidup lama sudah tidak layak meskipun sebenarnya masih nyaman. Menggunakan barang yang lebih sederhana atau mengurangi aktivitas tertentu mulai terasa seperti penurunan kualitas hidup.

Padahal, kemampuan untuk menyesuaikan pengeluaran merupakan bagian penting dari kesehatan finansial. Jika seluruh kenaikan pendapatan langsung dianggap sebagai alasan untuk menaikkan standar hidup, pengeluaran akan semakin sulit diturunkan ketika kondisi keuangan berubah.

5. Selalu merasa membutuhkan penghasilan lebih tinggi

ilustrasi pria mengatur keuangan (pexels.com/kaboompics)

Ironisnya, lifestyle inflation dapat membuat seseorang tetap merasa kekurangan meski penghasilannya sudah meningkat. Kenaikan pendapatan tidak lagi memberikan rasa aman karena kebutuhan dan keinginan ikut berkembang.

Akhirnya, seseorang bisa terus mengejar kenaikan gaji bukan untuk mencapai tujuan finansial tertentu, tetapi hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang semakin mahal. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat membuat tekanan finansial tetap terasa meskipun pendapatan sebenarnya sudah cukup tinggi.

Lifestyle inflation tidak berarti seseorang tidak boleh menikmati hasil kerja kerasnya. Masalah muncul ketika peningkatan gaya hidup membuat tabungan, investasi, dana darurat, atau tujuan finansial lainnya terus tertunda.

Karena itu, setiap kenaikan penghasilan sebaiknya tidak langsung diikuti kenaikan pengeluaran dalam jumlah yang sama. Menentukan batas konsumsi dan mengalokasikan sebagian tambahan pendapatan untuk tujuan finansial dapat membantu menikmati kehidupan sekarang tanpa mengorbankan kondisi keuangan di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article