Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Aroma Parfum Bisa Berubah setelah Dipakai?
ilustrasi parfum vanilla (magnific.com/atlascompany)
  • Aroma parfum berubah bertahap karena bahan-bahannya menguap dengan kecepatan berbeda; molekul ringan hilang lebih dulu, sementara molekul berat bertahan lebih lama.
  • Perkembangan wangi digambarkan melalui top, middle, dan base notes. Semua bahan menguap bersamaan, tetapi dominasi aroma berganti seiring jumlah bahan yang tersisa.
  • Kelembapan kulit, suhu tubuh, kelembapan udara, pergerakan udara, dan lingkungan memengaruhi penguapan serta karakter aroma parfum setelah digunakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah menyemprotkan parfum dan langsung menyukai aromanya, tetapi beberapa jam kemudian wanginya terasa berbeda? Tenang, hal tersebut sebenarnya sangat normal. Aroma parfum bisa berubah setelah dipakai karena memang dirancang seperti itu. Parfum bisa berubah secara bertahap setelah diaplikasikan ke kulit.

Perubahan ini terjadi karena parfum terdiri dari banyak bahan dengan tingkat penguapan yang berbeda. Selain itu, kondisi kulit, suhu tubuh, kelembapan, hingga lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi bagaimana aroma parfum berkembang. Jadi, jangan heran jika aroma yang tercium saat pertama kali menyemprotkan parfum ternyata tidak sama dengan wanginya beberapa jam kemudian. Mari, kita bahas lebih dalam mengenai hal ini!

1. Parfum memang tidak memiliki satu aroma yang konstan

ilustrasi parfum (pixabay.com/wilkernet)

Parfum biasanya terdiri dari puluhan, bahkan ratusan bahan. Di dalamnya bisa terdapat minyak esensial alami, bahan pewangi sintetis, pelarut, serta bahan yang membantu memperlambat penguapan. Salah satu pelarut yang umum digunakan adalah etanol yang dicampur dengan air. Ketika parfum disemprotkan, alkohol akan menguap dengan cepat dan membantu menyebarkan molekul pewangi ke udara. Inilah alasan aroma parfum bisa langsung tercium beberapa detik setelah disemprotkan.

Namun, tidak semua bahan parfum menguap dalam waktu yang sama. Molekul yang lebih ringan dan mudah menguap akan hilang lebih dulu, sedangkan molekul yang lebih berat dapat bertahan lebih lama di permukaan kulit. Perbedaan kecepatan penguapan inilah yang membuat aroma parfum seolah-olah berubah seiring waktu. Sebenarnya, berbagai bahan di dalam parfum tetap menguap secara bersamaan. Hanya saja, jumlah masing-masing bahan yang tersisa terus berubah sehingga karakter aroma yang paling terasa juga ikut berganti.

2. Ada top, middle, dan base notes

ilustrasi menyemprotkan parfum (magnific.com/8photo)

Para perfumer biasanya menggunakan istilah top notes, middle notes, dan base notes untuk menjelaskan perkembangan aroma parfum. Ketiga tahapan ini menggambarkan perubahan karakter parfum sejak pertama kali disemprotkan hingga aroma akhirnya terasa. Dengan begitu, kamu bisa memahami mengapa wangi parfum dapat berubah setelah beberapa waktu digunakan.

Top notes merupakan aroma yang paling pertama tercium. Bagian ini biasanya terdiri dari bahan yang ringan dan mudah menguap, seperti aroma citrus dan berbagai wangi segar. Karena cepat menguap, top notes umumnya hanya bertahan dalam waktu relatif singkat.

Setelah top notes mulai memudar, middle notes atau heart notes menjadi lebih menonjol. Bagian ini sering berisi aroma floral, fruity, herbal, atau spicy. Middle notes dapat mulai terasa beberapa menit setelah parfum diaplikasikan dan menjadi karakter utama parfum untuk beberapa waktu.

Sementara itu, base notes adalah aroma yang lebih terasa pada tahap akhir atau dikenal sebagai dry-down. Bahan seperti kayu-kayuan, resin, musk, vanila, dan aroma amber sering digunakan untuk memberikan karakter yang lebih dalam dan tahan lama. Namun, bukan berarti ketiga notes tersebut muncul secara bergantian seperti lapisan yang benar-benar terpisah. Semua bahan parfum sebenarnya menguap secara bersamaan. Istilah top, middle, dan base notes lebih digunakan untuk menggambarkan bahan mana yang menjadi lebih dominan pada tahap tertentu.

3. Kondisi kulit juga bisa memengaruhi aroma parfum

ilustrasi pria sedang menyemprotkan parfum (pexels.com/Franco Monsalvo)

Pernah merasa parfum yang sama memiliki aroma berbeda ketika dipakai oleh orang lain? Salah satu alasannya adalah kondisi kulit setiap orang tidak sepenuhnya sama. Tingkat kelembapan kulit, tekstur kulit, serta seberapa cepat kulit kehilangan air dapat memengaruhi proses penguapan molekul parfum. Kulit yang lebih lembap atau memiliki kandungan minyak yang cukup dapat membantu mempertahankan molekul pewangi di permukaan kulit lebih lama.

Sebaliknya, parfum pada kulit yang sangat kering bisa terasa lebih cepat menghilang. Hal ini dapat membuat aroma parfum seolah berubah lebih cepat dibandingkan dengan ketika digunakan pada kulit yang lebih lembap. Karena itu, penggunaan pelembap sebelum parfum dapat membantu membuat aroma terasa lebih konsisten. Pilih pelembap tanpa aroma atau dengan wangi yang tidak terlalu kuat agar tidak mengganggu karakter parfum.

4. Suhu tubuh dan lingkungan ikut berpengaruh

ilustrasi memakai parfum (magnific.com/pressahotkey)

Bukan hanya kondisi kulit, suhu tubuh dan lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi perkembangan aroma parfum. Kulit yang hangat dapat membuat molekul parfum lebih cepat menguap. Misalnya, parfum yang digunakan saat berolahraga atau berada di tempat yang panas mungkin terasa lebih kuat pada awal pemakaian, tetapi juga bisa lebih cepat berubah atau memudar.

Kelembapan dan pergerakan udara, jumlah parfum yang digunakan, serta karakter molekul pewangi dapat memengaruhi proses penguapan parfum. Karena itu, aroma parfum bisa terasa berbeda ketika digunakan di tempat dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Misalnya, parfum yang terasa lembut di ruangan ber-AC bisa terasa lebih kuat saat dipakai di luar ruangan yang panas.

5. Ada kemungkinan parfum berinteraksi dengan kulit

ilustrasi parfum (unsplash.com/Rodrigo Tadeo)

Selain proses penguapan, beberapa komponen parfum juga dapat mengalami interaksi dengan permukaan kulit. Kondisi kulit, termasuk aktivitas mikroorganisme yang hidup di permukaannya, dapat memengaruhi sebagian molekul pewangi. Meski demikian, perubahan aroma parfum tidak semata-mata disebabkan oleh reaksi kimia dengan kulit. Proses penguapan berbagai bahan parfum yang berlangsung dengan kecepatan berbeda tetap menjadi salah satu faktor utama yang membuat aromanya berkembang dari waktu ke waktu. Jadi, jika parfum terasa sedikit berbeda ketika digunakan pada kulit dibandingkan saat dicium dari botol atau kertas tester, hal tersebut bukan sesuatu yang aneh.

Aroma parfum bisa berubah setelah dipakai karena berbagai bahan di dalam parfum menguap dengan kecepatan yang berbeda dan proses tersebut dipengaruhi oleh kondisi kulit, suhu tubuh, kelembapan, serta lingkungan sekitar. Itulah mengapa parfum sebaiknya tidak langsung dinilai dari semprotan pertama. Berikan waktu agar aromanya berkembang, karena bisa jadi karakter yang paling kamu sukai justru baru muncul setelah parfum memasuki fase dry-down.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article