Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi muka jerawat
ilustrasi muka jerawat (pixabay.com/yiyiphotos)

Intinya sih...

  • Jerawat hormon disebabkan oleh fluktuasi hormon androgen, sementara jerawat bakteri disebabkan oleh pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes di dalam pori-pori.

  • Jerawat hormon cenderung lebih dalam dan nyeri, sedangkan jerawat bakteri lebih sering muncul di permukaan kulit dalam bentuk papula, pustula, atau komedo.

  • Lokasi munculnya jerawat bisa menjadi petunjuk penting; jerawat hormon cenderung muncul di area bawah wajah, sedangkan jerawat bakteri lebih sering muncul di zona T.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jerawat masih menjadi masalah kulit yang sering dialami oleh banyak orang, terutama remaja dan dewasa muda. Meski tampak serupa, tidak semua jerawat muncul karena penyebab yang sama, sebab ada jerawat hormon dan jerawat bakteri yang memiliki karakter berbeda. Banyak orang masih sulit membedakan kedua jenis jerawat ini karena gejalanya kerap mirip di permukaan kulit.

Padahal, memahami perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri sangat penting agar penanganannya tidak keliru. Kesalahan memilih perawatan justru bisa membuat jerawat semakin meradang dan sulit sembuh. Berikut ini enam perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri yang perlu kamu ketahui sebelum menentukan perawatan kulit yang tepat.

1. Penyebab jerawat hormon dan jerawat bakteri berasal dari faktor berbeda

ilustrasi muka jerawat (freepik.com/freepik)

Perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri dapat dikenali pertama kali dari penyebab kemunculannya. Jerawat hormon terjadi akibat fluktuasi hormon dalam tubuh, terutama hormon androgen yang memicu produksi minyak berlebih pada kulit. Kondisi ini sering dialami saat pubertas, menjelang menstruasi, kehamilan, atau ketika tubuh berada dalam tekanan stres yang tinggi.

Sementara itu, jerawat bakteri disebabkan oleh pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes di dalam pori-pori yang tersumbat. Bakteri ini berkembang di lingkungan kulit yang lembap dan berminyak. Ketika kebersihan kulit kurang terjaga, bakteri lebih mudah memicu peradangan dan akhirnya menimbulkan jerawat.

2. Jenis lesi jerawat hormon cenderung lebih dalam dan nyeri

ilustrasi muka jerawat (freepik.com/freepik)

Perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri juga terlihat dari jenis lesi yang muncul. Jerawat hormon umumnya berbentuk benjolan besar, keras, dan terasa nyeri ketika disentuh. Lesi jerawat ini biasanya berada di lapisan kulit yang lebih dalam sehingga sulit matang dan lama mengempis.

Sebaliknya, jerawat bakteri lebih sering muncul di permukaan kulit dalam bentuk papula, pustula, atau komedo. Jerawat jenis ini biasanya lebih mudah pecah atau mengering dengan perawatan topikal yang tepat. Meski terlihat lebih ringan, jerawat bakteri tetap bisa meradang jika tidak ditangani dengan benar.

3. Lokasi munculnya jerawat bisa menjadi petunjuk penting

ilustrasi muka jerawat (freepik.com/freepik)

Lokasi jerawat menjadi salah satu ciri khas dalam perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri. Jerawat hormon cenderung muncul di area bawah wajah, seperti dagu, rahang, dan pipi bagian bawah. Area tersebut sangat sensitif terhadap perubahan hormon sehingga jerawat sering muncul berulang di titik yang sama.

Di sisi lain, jerawat bakteri lebih sering muncul di zona T, yaitu dahi dan hidung. Selain wajah, jerawat bakteri juga kerap muncul di punggung, dada, dan bahu akibat keringat dan penumpukan minyak. Lokasi ini biasanya berkaitan erat dengan kebersihan kulit dan aktivitas fisik harian.

4. Waktu kemunculan jerawat hormon biasanya bersifat siklus

ilustrasi jerawat (freepik.com/freepik)

Perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri juga dapat dikenali dari pola waktunya. Jerawat hormon umumnya muncul secara berkala mengikuti siklus hormon, misalnya menjelang menstruasi atau saat tubuh mengalami perubahan hormonal tertentu. Pola ini membuat jerawat hormon terasa datang dan pergi secara berulang.

Sementara itu, jerawat bakteri tidak memiliki pola waktu yang spesifik. Jerawat bisa muncul kapan saja, terutama ketika kulit jarang dibersihkan atau terpapar polusi dan kotoran. Karena tidak bersifat siklus, jerawat bakteri cenderung lebih mudah dikendalikan dengan kebiasaan perawatan kulit yang konsisten.

5. Jenis kulit memengaruhi kemunculan jerawat hormon dan bakteri

ilustrasi muka jerawat (freepik.com/freepik)

Jenis kulit turut berperan dalam perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri. Jerawat hormon bisa muncul pada semua jenis kulit, termasuk kulit normal hingga kering. Fluktuasi hormon membuat keseimbangan minyak kulit terganggu sehingga jerawat tetap bisa muncul meski kulit tidak berminyak.

Sebaliknya, jerawat bakteri lebih sering dialami oleh pemilik kulit berminyak atau kombinasi. Produksi sebum yang berlebih menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang. Oleh karena itu, pemilik kulit berminyak perlu ekstra perhatian dalam menjaga kebersihan dan memilih produk perawatan.

6. Respons terhadap pengobatan jerawat tidak selalu sama

ilustrasi muka jerawat (pixabay.com/dilsadakcaoglu)

Perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri semakin jelas saat melihat respons terhadap pengobatan. Jerawat hormon umumnya sulit diatasi hanya dengan produk perawatan luar karena penyebabnya berasal dari dalam tubuh. Dalam beberapa kasus, diperlukan penanganan medis atau terapi hormon di bawah pengawasan dokter.

Sebaliknya, jerawat bakteri cenderung lebih responsif terhadap produk yang mengandung bahan antibakteri. Kandungan seperti asam salisilat atau benzoyl peroxide dapat membantu mengurangi bakteri dan peradangan. Jika digunakan secara rutin dan tepat, jerawat bakteri biasanya lebih cepat membaik.

Memahami perbedaan jerawat hormon dan jerawat bakteri merupakan langkah awal untuk merawat kulit secara lebih bijak. Dengan mengenali penyebab, ciri, dan pola kemunculannya, kamu bisa menghindari kesalahan dalam memilih produk perawatan. Kulit yang sehat dan terawat pun dapat tercapai dengan penanganan yang sesuai dan konsisten.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team