- Kulit berjerawat.
- Penambahan berat badan.
- Kulit tipis.
- Stretch mark.
- Mudah memar.
- Luka sulit sembuh.
7 Kondisi Medis yang Menyebabkan Jerawat, Diatasi dari Akarnya

- PCOS adalah kondisi hormonal yang menyebabkan jerawat di wajah, dada, dan punggung perempuan.
- Sindrom Cushing disebabkan oleh paparan berkepanjangan terhadap kadar hormon kortisol tinggi, yang dapat menyebabkan kulit berjerawat.
- Tumor penghasil androgen, stres, diabetes, gangguan tiroid, dan gangguan hormon juga dapat menjadi penyebab jerawat pada kulit.
Pada remaja yang baru memasuki masa pubertas, biasanya banyak perubahan yang terjadi, termasuk munculnya jerawat. Hampir semua orang pernah melewati fase ini, dan biasanya jerawat akan mereda seiring bertambahnya usia, saat hormon mulai menemukan ritme yang lebih tenang.
Namun, tidak semua perjalanan seperti itu. Beberapa orang tetap bergulat dengan jerawat hingga dewasa. Setiap pagi, mereka mungkin bertanya dalam hati, “Kenapa jerawat ini tidak kunjung pergi, padahal aku sudah bukan remaja lagi?” Pertanyaan itu wajar, dan jawabannya bisa lebih kompleks daripada sekadar masalah hormon.
Di balik jerawat yang membandel, kadang ada kondisi medis yang diam-diam memengaruhi kulit. Misalnya, gangguan hormon seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada perempuan, atau masalah tiroid yang mengacaukan keseimbangan tubuh. Ada juga kondisi kulit tertentu yang membuat pori-pori lebih rentan tersumbat, hingga jerawat terus muncul meski perawatan sudah dilakukan.
Kabar baiknya, jerawat yang disebabkan oleh kondisi medis bisa ditangani. Saat akar masalah dikenali dan ditangani, kulit bisa pulih. Itulah mengapa memahami penyebab jerawat yang kamu alami sangat penting.
Di sini, kamu akan diajak melihat apa saja kondisi medis yang bisa menyebabkan jerawat.
Table of Content
1. PCOS
PCOS terjadi pada perempuan dan umumnya ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak normal. PCOS adalah kondisi hormonal, tetapi para ahli tidak tahu persis apa penyebabnya. Selain siklus menstruasi yang tidak teratur, PCOS juga kerap menyebabkan jerawat di wajah, dada, dan punggung.
Perempuan yang didiagnosis dengan PCOS mungkin menghasilkan peningkatan jumlah hormon androgen yang dapat mencegah ovarium berovulasi. Ini menjadi alasan kenapa perempuan dengan PCOS juga biasanya memiliki masalah infertilitas/ketidaksuburan. Selain itu, seperti namanya, banyak perempuan dengan PCOS mengalami kista di ovarium mereka.
2. Sindrom Cushing
Sindrom Cushing adalah kondisi yang disebabkan oleh paparan berkepanjangan terhadap kadar hormon kortisol yang tinggi. Gejala sindrom Cushing meliputi:
Ada berbagai pilihan pengobatan untuk sindrom Cushing, termasuk obat-obatan dan terapi untuk membantu menurunkan kadar kortisol dalam tubuh.
3. Tumor penghasil androgen

Ini adalah tumor langka yang membuat tubuh memproduksi terlalu banyak androgen. Androgen sendiri adalah hormon yang telah terbukti berkontribusi pada jerawat. Gejala lain dari tumor penghasil androgen dapat meliputi:
- Pertumbuhan rambut berlebihan.
- Pertumbuhan rambut pola pria.
- Menstruasi tidak teratur.
4. Stres
Stres adalah musuh utama kulit yang sehat dan bersih. Saat stres, tubuh meningkatkan produksi hormon kortisol, yang dapat memicu timbulnya jerawat. Namun, kortisol bukanlah satu-satunya pemicu. Stres juga dapat menyebabkan peningkatan produksi hormon androgen, yang memengaruhi kelenjar minyak dan folikel rambut dan dapat menyebabkan jerawat.
5. Diabetes
Diabetes, khususnya diabetes tipe 2, terkait erat dengan resistensi insulin, yang mana tubuh tidak merespons insulin dengan benar. Hal ini dapat menyebabkan kadar gula darah tinggi dan lonjakan insulin, yang pada gilirannya dapat meningkatkan produksi sebum atau minyak kulit. Minyak berlebih dapat menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat.
Selain itu, resistansi insulin dan diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat mengganggu penyembuhan luka, yang dapat mengakibatkan bekas luka jerawat yang lebih parah. Mengelola kadar gula darah melalui diet, olahraga, dan pengobatan sangat penting tidak hanya untuk kesehatan secara keseluruhan, tetapi juga untuk mengelola jerawat.
6. Gangguan tiroid

Tiroid memainkan peran penting dalam mengatur metabolisme, dan setiap disfungsi pada kelenjar ini dapat memengaruhi kulit. Hipotiroidisme (tiroid kurang aktif) dan hipertiroidisme (tiroid terlalu aktif) keduanya terkait dengan perubahan penampilan dan kesehatan kulit.
- Hipotiroidisme: Kondisi ini dapat menyebabkan kulit kering sehingga lebih rentan terhadap iritasi dan peradangan. Meskipun hipotiroidisme biasanya tidak menyebabkan jerawat secara langsung, tetapi ketidakseimbangan kesehatan kulit secara keseluruhan dapat berkontribusi pada perkembangan gejala seperti jerawat.
- Hipertiroidisme: Tiroid yang terlalu aktif menyebabkan peningkatan produksi minyak, yang dapat berkontribusi pada munculnya gejala seperti jerawat.
7. Gangguan hormon
Salah satu alasan mengapa remaja rentan mengalami masalah kulit berjerawat adalah karena perubahan hormonal. Kadar hormon berfluktuasi selama pubertas, yang dapat memengaruhi kelenjar sebaceous dan menyebabkan kelenjar tersebut memproduksi lebih banyak sebum. Sebum ekstra dapat bercampur dengan sel kulit mati dan menyebabkan pori-pori tersumbat.
Sementara itu, pada orang dewasa, perempuan lebih sering mengalami ketidakseimbangan hormon daripada laki-laki karena siklus menstruasi atau sebagai akibat dari kehamilan.
Perempuan umumnya mengalami peningkatan produksi sebum sebelum menstruasi atau peningkatan pori-pori tersumbat selama trimester pertama kehamilan. Masalah kulit juga dapat berkembang pada wanita yang mengalami menopause.
Perubahan hormonal yang tidak terjadi secara alami juga dapat menyebabkan jerawat. Memulai, mengganti, atau menghentikan penggunaan kontrasepsi hormonal sering kali dapat menyebabkan timbulnya jerawat.
Jerawat bukan hanya masalah kosmetik, tetapi juga bisa menjadi tanda kondisi medis yang mendasarinya. Kondisi seperti PCOS, sindrom Cushing, gangguan tiroid, dan diabetes semuanya dapat berkontribusi pada timbulnya jerawat. Jika kamu mengalami masalah jerawat yang tidak kunjung sembuh, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan penyebab yang mendasarinya dan menerima perawatan yang tepat.
Referensi
Curology. Diakses pada Januari 2026. Three Medical Conditions That Can Cause Acne.
Laser and Skin Dermatology. Diakses pada Januari 2026. What Are Common Medical Conditions That Can Cause Acne?
Prime Aesthetics. Diakses pada Januari 2026. Medical Conditions That Cause Acne: Understanding the Root Causes Beyond Hormones.









.jpg)








