Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ELSEWHERE by Yosafat Dwi Kurniawan: Menjauh untuk Menemukan Diri
Koleksi ELSEWHERE karya Yosafat Dwi Kurniawan di Fashion Nation Senayan City 2026. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
  • Yosafat Dwi Kurniawan menghadirkan koleksi pria Spring 2027, ELSEWHERE, di New Mode at Fashion Nation Senayan City 2026, terinspirasi Arisan! 2 dan gagasan escapism sebagai ruang jeda.

  • Koleksi berisi 15 tampilan resor dengan lyocell, viscose linen, linen, dan denim; palet membumi serta teknik slashing, payet geometris, celup gradasi, dan syal lukisan cat air.

  • ELSEWHERE menjadi refleksi personal Yosafat atas kegelisahan dan pengalaman travelling, menerjemahkan kebutuhan menjauh dari kebisingan untuk kembali mengenali diri melalui busana ringan dan membumi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ada kalanya dunia terasa terlalu penuh. Hari-hari datang dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, percakapan yang meninggalkan riak, hubungan yang meminta jawaban, hingga kegelisahan yang diam-diam tumbuh di dalam diri. Di tengah segala keramaian itu, manusia terkadang membutuhkan sesuatu yang sederhana, seperti pergi.

Bukan selalu untuk melarikan diri, tetapi untuk mendengar kembali suara yang lama tenggelam di antara kebisingan. Sebab, ada perjalanan yang tidak benar-benar membawa kita ke tempat baru, melainkan mengantarkan kita kembali kepada diri sendiri.

Gagasan itulah yang tampaknya menjadi napas “ELSEWHERE”, koleksi busana pria Spring 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan yang dipresentasikan dalam ajang New Mode at Fashion Nation Senayan City 2026. Terinspirasi dari film Arisan! 2 (2011) karya Nia Dinata, koleksi ini berbicara tentang escapism, pencarian makna, serta kebutuhan manusia untuk sejenak menjauh agar dapat kembali berdiri sebagai dirinya sendiri.

1. Ketika dunia terlalu riuh, keheningan seolah jadi tempat pulang

Koleksi ELSEWHERE karya Yosafat Dwi Kurniawan di Fashion Nation Senayan City 2026. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

"Hanya keheningan yang bisa membuat kita mendengar lebih baik." Kalimat yang diucapkan karakter Meimei dalam Arisan! 2 tersebut menjadi semacam pintu masuk menuju dunia ELSEWHERE.

Film itu memperlihatkan kehidupan kaum metropolis dan sosialita dengan segala lapisan persoalannya. Di balik gemerlap kehidupan, terdapat persoalan politik, romansa, pertemanan, hingga kerinduan terhadap sebuah ruang yang lebih tenang dan toleran. Bagi Yosafat, cerita itu terasa semakin dekat karena hampir 15 tahun setelah film tersebut dirilis, kompleksitas yang digambarkan di dalamnya justru menemukan resonansinya dalam kehidupan masa kini.

Di usia ketika seseorang mulai lebih sadar terhadap arah hidup, hubungan, dan dunia di sekelilingnya, pertanyaan tentang makna menjadi semakin sulit dihindari. Ke mana sebenarnya kita sedang berjalan? Apa yang sedang kita cari? Dan mengapa terkadang kita merasa perlu pergi begitu jauh hanya untuk kembali mengenali diri sendiri?

Escapism dalam ELSEWHERE tidak ditempatkan semata-mata sebagai pelarian. Ia menjadi semacam ruang jeda, layaknya sebuah mekanisme untuk bertahan ketika hidup terasa terlalu padat. Berkelana, baik secara fisik maupun melalui film, menjadi cara sederhana untuk memasuki kehidupan lain, melihat dunia melalui mata orang lain, lalu menemukan sesuatu tentang diri sendiri di dalamnya.

Barangkali, terkadang manusia memang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan jarak yang cukup untuk dapat mendengar pertanyaannya sendiri.

2. Koleksi berupa lanskap resor yang menyimpan kerinduan

Koleksi ELSEWHERE karya Yosafat Dwi Kurniawan di Fashion Nation Senayan City 2026. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Jika ELSEWHERE adalah perjalanan, maka koleksi ini terasa seperti lanskap yang terbentang setelah seseorang akhirnya meninggalkan hiruk-pikuk kota. Sebanyak 15 tampilan busana pria hadir dengan karakter resor yang ringan. Material lyocell dan viscose linen dari Asia Pacific Rayon (APR) berpadu dengan linen dan denim, membentuk pakaian yang seolah diciptakan untuk bergerak mengikuti angin.

Palet warna membumi mengingatkan pada pasir keemasan, buih ombak putih, dan langit biru, sebelum bertemu dengan netralitas hitam serta putih. Kemeja, kemeja tanpa lengan, jaket, syal, celana, celana pendek, dan tank top disusun dalam siluet yang terasa santai, tetapi tetap memiliki ketelitian khas Yosafat. Ada sesuatu yang sensual sekaligus nyaman di dalamnya, ibarat dua karakter yang bagi sang desainer memang menjadi inti dari busana resor.

Eksperimen material semakin memperkaya perjalanan visual tersebut. Teknik slashing diterapkan pada beberapa atasan, memperlihatkan lapisan kulit dari balik sayatan kain. Payet bermotif etnik geometris menghadirkan nuansa tribal yang terinspirasi dari berbagai destinasi wisata, tetapi dikerjakan melalui teknologi presisi Nomatex.

Sementara itu, teknik celup gradasi pada lyocell bergerak dalam spektrum biru, menyerupai ombak yang perlahan berubah menjadi buih di tepi pantai. Syal ringan dengan motif lukisan cat air karya Jerome Jonathan kemudian melayang sebagai aksen, seperti potongan kecil pemandangan yang dibawa pulang seseorang dari sebuah perjalanan. Seluruhnya terasa seperti momen liburan yang tidak hanya terjadi pada tubuh, tetapi juga pada pikiran.

3. Elsewhere terasa sebagai tempat di mana diri kembali menjadi utuh

Koleksi ELSEWHERE karya Yosafat Dwi Kurniawan di Fashion Nation Senayan City 2026. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Pada akhirnya, perjalanan paling jauh dalam ELSEWHERE bukanlah perjalanan menuju sebuah destinasi. Ia adalah perjalanan ke dalam diri.

"Koleksi ini merupakan refleksi diri," ujar Yosafat.

Ia mengakui bahwa koleksi busana pria selalu terasa personal baginya; berlapis dan rumit, sebagaimana kepribadiannya sendiri. Di tengah kegelisahan, ia menemukan pencerahan melalui travelling, lalu menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam pakaian.

Pengakuan itu membuat ELSEWHERE terasa lebih intim. Busana-busana tersebut bukan sekadar gambaran tentang pantai, perjalanan, atau kehidupan resor. Di balik material yang ringan dan warna-warna yang menenangkan, tersimpan kebutuhan yang sangat manusiawi berupa keinginan untuk menemukan kembali bagian diri yang mungkin hilang di tengah rutinitas.

Sebab, escapism terkadang bukan tentang meninggalkan kehidupan. Ia justru menjadi cara untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih utuh. Yosafat merumuskannya melalui gagasan bahwa manusia terkadang perlu menemukan kembali dirinya di sudut bumi yang lain, bukan semata-mata soal waktu atau lokasi, tetapi tentang situasi dan esensi diri.

Elsewhere menjadi tempat simbolis bagi seseorang untuk menjejakkan kembali kakinya pada dirinya sendiri. Dan mungkin, di situlah perjalanan sesungguhnya berakhir. Bukan ketika pesawat mendarat. Bukan ketika koper kembali dibuka. Bukan ketika seseorang kembali ke meja kerja dan rutinitas yang sama. Melainkan, ketika setelah berjalan begitu jauh, seseorang akhirnya dapat berkata kepada dirinya sendiri: aku telah kembali.

Ada perjalanan yang membawa kita menjauh dari rumah. Ada pula perjalanan yang justru mengajarkan apa arti pulang. ELSEWHERE berdiri di antara keduanya.

Melalui 15 tampilan busana pria Spring 2027, Yosafat Dwi Kurniawan menerjemahkan kegelisahan, kebutuhan akan jeda, dan pengalaman travelling ke dalam sebuah lanskap mode yang ringan, membumi, sekaligus personal.

Film Arisan! 2 pun menjadi titik awalnya, tetapi perjalanan koleksi ini berakhir jauh melampaui layar. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan kita, yakni kebutuhan untuk sesekali meninggalkan kebisingan agar dapat mendengar diri sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article