Koleksi ELSEWHERE karya Yosafat Dwi Kurniawan di Fashion Nation Senayan City 2026. 25 September 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
Pada akhirnya, perjalanan paling jauh dalam ELSEWHERE bukanlah perjalanan menuju sebuah destinasi. Ia adalah perjalanan ke dalam diri.
"Koleksi ini merupakan refleksi diri," ujar Yosafat.
Ia mengakui bahwa koleksi busana pria selalu terasa personal baginya; berlapis dan rumit, sebagaimana kepribadiannya sendiri. Di tengah kegelisahan, ia menemukan pencerahan melalui travelling, lalu menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam pakaian.
Pengakuan itu membuat ELSEWHERE terasa lebih intim. Busana-busana tersebut bukan sekadar gambaran tentang pantai, perjalanan, atau kehidupan resor. Di balik material yang ringan dan warna-warna yang menenangkan, tersimpan kebutuhan yang sangat manusiawi berupa keinginan untuk menemukan kembali bagian diri yang mungkin hilang di tengah rutinitas.
Sebab, escapism terkadang bukan tentang meninggalkan kehidupan. Ia justru menjadi cara untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih utuh. Yosafat merumuskannya melalui gagasan bahwa manusia terkadang perlu menemukan kembali dirinya di sudut bumi yang lain, bukan semata-mata soal waktu atau lokasi, tetapi tentang situasi dan esensi diri.
Elsewhere menjadi tempat simbolis bagi seseorang untuk menjejakkan kembali kakinya pada dirinya sendiri. Dan mungkin, di situlah perjalanan sesungguhnya berakhir. Bukan ketika pesawat mendarat. Bukan ketika koper kembali dibuka. Bukan ketika seseorang kembali ke meja kerja dan rutinitas yang sama. Melainkan, ketika setelah berjalan begitu jauh, seseorang akhirnya dapat berkata kepada dirinya sendiri: aku telah kembali.
Ada perjalanan yang membawa kita menjauh dari rumah. Ada pula perjalanan yang justru mengajarkan apa arti pulang. ELSEWHERE berdiri di antara keduanya.
Melalui 15 tampilan busana pria Spring 2027, Yosafat Dwi Kurniawan menerjemahkan kegelisahan, kebutuhan akan jeda, dan pengalaman travelling ke dalam sebuah lanskap mode yang ringan, membumi, sekaligus personal.
Film Arisan! 2 pun menjadi titik awalnya, tetapi perjalanan koleksi ini berakhir jauh melampaui layar. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan kita, yakni kebutuhan untuk sesekali meninggalkan kebisingan agar dapat mendengar diri sendiri.