Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Yosafat Bawa APRÈS LA RÉVOLUTION, Apresiasi Bentuk Baru Usai Perubahan

Yosafat Bawa APRÈS LA RÉVOLUTION, Apresiasi Bentuk Baru Usai Perubahan
Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
  • Yosafat Dwi Kurniawan mempresentasikan koleksi Après la Révolution S/S 2027 di Langham Fashion Soiree Jakarta, terinspirasi adaptasi sosial dan mode setelah Revolusi Prancis serta Perang Vietnam.
  • Koleksi ini menandai perubahan bahasa desain Yosafat: siluet lebih ringan, longgar, dan bebas bergerak, sambil tetap menyisipkan ketegasan potongan serta craftsmanship khasnya.
  • Sebanyak 30 tampilan bergerak dari nuansa Baroque-Rococo ke semangat 1970-an, memakai palet lembut dan material seperti jersey, voile, tweed, viscose rayon, serta lyocell.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Revolusi selalu terdengar seperti suara yang keras. Ia datang bersama denting perubahan, runtuhnya tatanan lama, dan keberanian untuk membongkar sesuatu yang selama ini dianggap tidak tergoyahkan. Namun setelah sorak-sorai mereda, selalu ada satu pertanyaan yang tertinggal di udara, "Apa yang terjadi setelahnya?"

Pertanyaan itulah yang sepertinya mengusik Yosafat Dwi Kurniawan ketika merancang koleksi "Après la Révolution” S/S 2027. Bukan tentang revolusi sebagai peristiwa semata, melainkan tentang ruang yang muncul setelahnya, ketika manusia harus hidup dengan dunia yang telah berubah dan perlahan mencari cara baru untuk beradaptasi.

Koleksi ini dipresentasikan di Langham Fashion Soiree, hasil kolaborasi The Langham Jakarta dan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), pada Kamis, (13/8/2026). Di tangan Yosafat, sejarah tidak hadir sebagai sesuatu yang beku. Ia bergerak, berubah bentuk, lalu menjelma menjadi siluet yang lebih ringan, warna-warna yang meredup, dalam busana yang seolah memberi tubuh ruang untuk bernapas. Karena mungkin, setelah setiap revolusi yang paling dibutuhkan manusia bukan lagi kekuatan untuk menghancurkan, melainkan keberanian untuk membangun kembali.

  1. 1. Gambaran setelah revolusi, saat dunia tidak serta-merta menjadi baru

    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree
    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Sejarah sering kali ditulis dari sudut pandang perubahan besar, yakni kerajaan runtuh, kekuasaan berpindah, hingga perang berakhir. Namun, kehidupan manusia tidak pernah berubah secepat pergantian nama di halaman buku sejarah.

    Yosafat menelusuri gagasan tersebut melalui masa setelah Revolusi Prancis. Après la Révolution merujuk pada situasi sosial dan mode setelah berakhirnya revolusi, ketika monarki runtuh dan Prancis memasuki masa peralihan menuju Directoire hingga akhirnya berada di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte.

    Di tengah ketidakpastian itu, para bangsawan mulai mengubah cara berpakaian. Kemewahan yang sebelumnya menjadi simbol status justru mulai disamarkan. Busana menjadi lebih sederhana, ringan, dan terinspirasi dari pakaian bergaya Yunani yang diasosiasikan dengan semangat demokrasi.

    Sejarah tersebut kemudian menemukan gema lain setelah Perang Vietnam di Amerika Serikat. Mode tahun 1970-an bergerak menuju busana yang lebih sederhana, praktis, dan membebaskan—sebuah perubahan gaya hidup yang lahir dari resonansi perubahan sosial.

    Bagi Yosafat, dua peristiwa itu seperti dua cermin dari zaman yang berbeda, tetapi memantulkan wajah yang serupa. Seolah menggambarkan ketika dunia berubah, tubuh manusia pun mencari cara baru untuk bergerak di dalamnya.

  2. 2. Revolusi yang terjadi di dalam siluet

    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree
    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Setiap desainer memiliki bahasa visual yang membentuk identitasnya. Selama ini, Yosafat dikenal melalui potongan pinggang yang tegas dan berstruktur. Namun dalam Après la Révolution, ia justru memilih meninggalkan sebagian batas tersebut.

    Siluet menjadi lebih ringan, melayang, dan longgar. Feminitas tetap menjadi bagian penting, tetapi kali ini hadir melalui bentuk yang tidak lagi terasa membatasi. Ada ketegasan, tetapi juga kebebasan. Ada struktur, namun tubuh tetap memiliki ruang untuk bergerak.

    "Untuk saya, ini adalah revolusi. Evolusi itu pelan, ini revolusi, saya harus beradaptasi dan berubah dengan cepat," ujar Yosafat.

    Kalimat tersebut bukan hanya menjelaskan konsep koleksi. Ia juga menjadi cermin dari perubahan yang terjadi pada bahasa desain Yosafat sendiri. Barangkali, itulah bentuk revolusi yang paling personal. Ketika seseorang berani meninggalkan sesuatu yang sudah membuatnya dikenal untuk melihat apakah ada kemungkinan lain di luar batas tersebut.

    Hal itu juga yang menjadi gambaran pada poin sebelumnya. Di mana wujud revolusi seorang Yosafat tidak serta-merta menjadi baru secara keseluruhan. Look beragam yang tetap menyisipkan DNA cutting dan craftmanship khas sang desainer, membuatnya terlihat lebih menonjolkan aura fresh yang tidak berlebihan.

  3. 3. Dari kemewahan Baroque menuju kebebasan tahun 70-an

    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree
    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Presentasi Après la Révolution terasa seperti perjalanan waktu yang berlangsung melalui busana. Semuanya dimulai dari atmosfer imperialisme dan kemewahan yang terinspirasi dari interior Baroque-Rococo. Detail yang kaya membawa ingatan pada dunia aristokrasi, ketika kemegahan menjadi bahasa kekuasaan. Kemudian muncul nuansa perak, menyerupai zirah dan medan peperangan yang menggambarkan sebuah titik ketika kemewahan bertemu dengan kekerasan sejarah.

    Namun perlahan, lanskap tersebut berubah. Garis-garis desain menjadi semakin minimalis dan membebaskan, sebelum akhirnya koleksi bergerak menuju semangat tahun 1970-an, di mana masa ketika masyarakat mulai merasakan euforia setelah perang, kedamaian, dan kebebasan.

    Perubahan tersebut pun membuat runway terasa seperti sebuah narasi tanpa kata. Busana pertama berbicara tentang kekuasaan, berikutnya tentang konflik, lalu perlahan semuanya mengendur seperti tangan yang akhirnya melepaskan sesuatu yang selama ini digenggam terlalu erat. Sejarah yang dituliskan dalam karyanya tidak dihadirkan sebagai nostalgia. Sebab, semua itu menjadi perjalanan emosional dari satu keadaan menuju keadaan lain.

  4. 4. Warna yang meredup dan material yang mulai bernapas

    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree
    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Di saat banyak desainer yang mulai mengikuti tren warna pada sentuhan karyanya, Yosafat menghadirkan keberanian tersendiri dalam memilih warna yang tidak berteriak. Sebanyak 30 tampilan Après la Révolution hadir dalam palet turunan dan pupus, seperti putih tulang, krem, biru pirus, hijau sage, biru denim, merah, hitam, perak, dan emas. Warna-warna tersebut menciptakan atmosfer yang jauh lebih lembut dibanding eksplorasi warna mencolok yang selama ini dikenal dalam karya Yosafat.

    Ia bahkan bereksperimen dengan drapery, teknik yang jarang digunakan sebelumnya. Material seperti jersey, voile, tweed, viscose rayon, dan lyocell, semuanya menjadi bagian dari percakapan di atas runway.

    Ada alasan mengapa material-material itu terasa tepat untuk cerita pasca perang. Saat kemewahan tidak lagi harus ditunjukkan secara berlebihan, tekstur dan kenyamanan justru menjadi bahasa baru untuk menunjukkan kualitas.

    Kolaborasi dengan Asia Pacific Rayon (APR) turut menghadirkan viscose rayon dan lyocell sebagai material berkelanjutan. Dengan kelembutan dan kemampuannya diolah melalui teknik drapery, material tersebut memberi Yosafat kemungkinan baru untuk menerjemahkan busana siap pakai premium dengan cara yang lebih ringan.

  5. 5. Desainer yang memilih berevolusi

    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree
    Koleksi "Après la Révolution” S/S 2027 karya Yosafat Dwi Kurniawan di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

    Di balik perubahan siluet dan material, ada sesuatu yang lebih personal yang menggerakkan koleksi ini. Yosafat mengaku bahwa belakangan ia semakin awas terhadap dunia. Ada rasa tidak aman, kekhawatiran tentang masa depan, dan pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat bertahan di tengah perubahan yang begitu cepat. Kekecewaan dan frustrasi terhadap pergerakan kemanusiaan menjadi bagian dari kegelisahan tersebut.

    Mungkin karena itu, Après la Révolution terasa begitu manusiawi. Koleksi ini tidak lahir dari dunia yang sempurna, tetapi dari seseorang yang sedang mencoba memahami dunia yang terus berubah.

    Sukses dipresentasikan, bisa saja karya serupa ini sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan rencana pengembangan koleksi busana siap pakainya pada tahun berikutnya. Meski belum pasti, itu justru terasa selaras dengan semangat koleksinya. Sebab, revolusi memang tidak pernah menawarkan peta yang lengkap. Ia hanya memberi keberanian untuk mengambil langkah pertama.

    Melalui 30 tampilan, Yosafat Dwi Kurniawan membawa kita berjalan dari kemewahan Baroque-Rococo menuju kesederhanaan tahun 1970-an, dari siluet yang terstruktur menuju bentuk yang lebih bebas, dari warna yang tegas menuju palet yang lebih lembut. Congratulations, Yosafat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More