style="text-align: justify;">Sebutan camo ternyata gak muncul begitu saja sebagai nama motif pakaian. Lantas, kenapa kain motif loreng disebut camo dalam dunia fashion?
Kenapa Kain Motif Loreng Disebut Camo dalam Dunia Fashion?

- Camo adalah singkatan dari camouflage, konsep penyamaran militer yang memakai warna dan pola lingkungan agar seseorang atau benda lebih sulit dikenali.
- Fashion mengadopsi pola dari seragam militer sebagai elemen visual; fungsinya kini lebih untuk karakter gaya pada jaket, celana, aksesori, dan streetwear.
- Camo tidak selalu hijau-cokelat dan berbeda dari loreng: camo merujuk pola berkonsep camouflage, sedangkan loreng dapat mencakup beragam corak bergaris atau memanjang.
Kalau melihat pakaian dengan motif hijau, cokelat, hitam, dan warna tanah yang bentuknya gak beraturan, kamu mungkin langsung menyebutnya sebagai motif loreng. Di dunia fashion, motif seperti ini lebih sering disebut camo. Istilah tersebut cukup umum ditemukan pada jaket, celana, kaus, topi, sampai aksesori pria.
Table of Content
1. Camo merupakan singkatan dari camouflage

ilustrasi camo (unsplash.com/Anika Huizinga) Camo sebenarnya merupakan bentuk singkat dari kata camouflage, istilah bahasa Inggris untuk penyamaran. Dalam konteks militer, camouflage digunakan untuk membantu seseorang atau benda menyatu dengan lingkungan di sekitarnya sehingga lebih sulit dikenali. Karena itu, pola camouflage biasanya memakai kombinasi warna yang ditemukan di alam, seperti hijau, cokelat, abu-abu, dan hitam.
Pola tersebut gak selalu berbentuk loreng seperti yang paling sering kita lihat sekarang. Ada camouflage dengan bercak besar, bentuk menyerupai daun, pola digital berupa kotak-kotak kecil, sampai kombinasi warna yang dibuat khusus untuk lingkungan tertentu. Jadi, ketika orang fashion menyebut pakaian bermotif camo, yang dimaksud sebenarnya adalah pakaian dengan pola yang terinspirasi dari desain camouflage. Sebutan loreng lebih menggambarkan tampilan motifnya dalam bahasa Indonesia, sedangkan camo mengacu pada konsep dan asal pola tersebut.
2. Motifnya memang terinspirasi dari pakaian militer

ilustrasi tentara (pexels.com/RODNAE Productions) Hubungan camo dengan dunia militer cukup kuat karena pakaian dan perlengkapan militer menjadi tempat pola tersebut banyak digunakan. Seragam dengan pola camouflage dirancang supaya warna pakaian gak terlalu mencolok ketika dikenakan di lingkungan tertentu. Di hutan, misalnya, warna hijau dan cokelat lebih mudah menyatu dengan pepohonan, tanah, dan semak-semak.
Dari sinilah tampilan camo yang sekarang dikenal di fashion banyak mengambil inspirasi. Pakaian sipil kemudian memakai pola tersebut tanpa membawa fungsi penyamaran yang sama. Jaket camo yang dipakai ke jalan tentu gak dibuat supaya pemakainya menghilang di antara pepohonan. Motifnya dipertahankan karena tampilannya sudah memiliki karakter yang kuat dan mudah dikenali.
3. Camo gak selalu berarti motif hijau dan cokelat

ilustrasi camo (pexels.com/Abdelfattah SADIF) Kalau membayangkan camo, kebanyakan orang mungkin langsung terpikir kombinasi hijau tua, cokelat, hitam, dan warna krem. Padahal, camouflage punya banyak bentuk dan kombinasi warna. Ada woodland camouflage yang identik dengan lingkungan hutan, desert camouflage dengan warna pasir, hingga pola digital yang tersusun dari bentuk-bentuk kecil seperti piksel.
Fashion kemudian mengembangkan motif ini jauh lebih bebas. Kamu bisa menemukan celana camo dengan warna abu-abu, biru, bahkan warna yang sama sekali gak berkaitan dengan lingkungan alam. Selama pola tersebut mengambil bentuk atau gagasan dari camouflage, istilah camo masih bisa digunakan. Jadi, gak semua pakaian camo harus terlihat seperti seragam tentara.
4. Motif loreng berubah jadi bagian dari gaya berpakaian

ilustrasi camo (pexels.com/George Pak) Ketika masuk ke dunia fashion, camo gak lagi dipakai karena kebutuhan untuk bersembunyi. Motif tersebut justru menjadi salah satu pilihan visual untuk memberikan kesan tertentu pada pakaian. Celana cargo, jaket, topi, sepatu, hingga tas sering menggunakan motif camo karena polanya mudah menjadi pusat perhatian tanpa harus memakai banyak detail tambahan.
Motif ini juga cukup dekat dengan gaya streetwear dan pakaian kasual. Kamu bisa melihat camo dipadukan dengan kaus polos, hoodie, sneakers, atau jaket sederhana. Karena polanya sudah ramai, pakaian dengan camo biasanya lebih mudah dipadukan dengan warna netral seperti hitam, putih, abu-abu, atau cokelat. Jadi, fungsi camo dalam fashion sekarang lebih banyak berkaitan dengan tampilan daripada fungsi penyamaran.
5. Loreng dan camo sebenarnya gak selalu berarti hal yang sama

ilustrasi motif loreng (pexels.com/Mykhailo Petrenko) Ada sedikit perbedaan antara menyebut sebuah kain sebagai motif loreng dan menyebutnya camo. Kata loreng bisa digunakan untuk berbagai pola bergaris atau bercorak yang memanjang dan berulang, termasuk pola pada hewan seperti harimau atau zebra. Sementara itu, camo secara khusus merujuk pada pola yang berasal dari konsep camouflage.
Karena bentuk camouflage memang sering terlihat seperti bercak atau loreng dengan beberapa warna yang saling tumpang tindih, kedua istilah tersebut akhirnya sering dipakai secara bergantian dalam percakapan sehari-hari. Namun, kalau sedang membahas fashion, istilah camo biasanya lebih spesifik. Jadi, kain bermotif loreng belum tentu merupakan camo, tetapi kain camo memang punya ciri visual yang membuatnya mudah dikenali sebagai motif loreng oleh banyak orang.
Motif camo memang cukup mencolok, tetapi justru itu yang membuatnya gampang menjadi pusat perhatian. Satu celana atau jaket bermotif camo sudah bisa memberi staetement pada outfit yang sebenarnya sederhana. Tinggal disesuaikan dengan gaya masing-masing saja. Kalau kamu lebih suka memakai camo sebagai bawahan, outer, atau sekadar aksen?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


