- pasangan suami istri (khususnya pria) berduka selama dua tahun atau lebih;
- orang tua diberikan waktu berduka setengah tahun hingga satu tahun;
- anak-anak berusia lebih dari 10 tahun berkabung selama setengah tahun sampai satu tahun;
- anak-anak di bawah satu tahun ditangisi enam bulan;
- bayi ditangisi selama enam minggu.
Sejarah Pakaian Berkabung, Mengapa Berwarna Hitam?

- Baju berkabung identik warna hitam sejak Romawi Kuno
- Pakaian berkabung abad pertengahan
- Aturan baju berkabung era Victoria
Kita menunjukan rasa bela sungkawa dengan mengunjungi sanak saudara ketika ada yang meninggal dunia. Dukungan moral dan do'a dipanjatkan untuk jenazah yang telah meninggal dunia. Suasana sedih dibalut isak tangis sebagai bentuk kehilangan.
Busana mempunyai arti penting dalam suatu acara. Warna tertentu dapat menjadi simbol yang krusial. Jika kita amati bersama, pakaian berkabung tidak lepas dari warna-warna gelap seperti hitam dan hijau tua.
Ternyata, pemilihan warna hitam memang tidak terlepas dari sejarah pakaian berkabung. Mari kita telusuri bersama sejarah baju berkabung.
Table of Content
1. Baju berkabung identik warna hitam sejak Romawi Kuno

Warna hitam dikaitkan dengan acara kematian sejak zaman kuno. Orang-orang Mesir Kuno menyimbolkan kehidupan setelah kematian dengan warna hitam atau hijau gelap.
Para Dewa dunia bawah diilustrasikan dengan warna hitam. Berbeda dengan warna cerah seperti emas, perak, atau putih yang menggambarkan harapan. Warna hitam memiliki arti ketiadaan cahaya atau warna, sehingga juga ditafsirkan sebagai kekosongan kehidupan.
Asal usul pemakaian pakaian berkabung gelap tidak terlepas dari bangsa Romawi Kuno. Mereka memakai pakaian khusus untuk acara berkabung. Toga berbahan wol berwarna gelap yang dikenal dengan nama toga pulla. Tradisi warna gelap untuk berkabung dilanjutkan oleh orang-orang Eropa.
2. Pakaian berkabung abad pertengahan

Ucapan pemakaman dianggap acara penting penanda status. Aturan-aturan yang berhubungan dengan pemakaman mulai ditegakkan. Undang-undang digunakan untuk membatasi pengeluaran makanan, minuman, bahkan jumlah tamu yang hadir di pemakaman berdasarkan status kekayaannya. Hukum Sumptuary mengatur pakaian orang kaya berkabung.
Di era ini, pakaian berkabung berwarna hitam untuk bangsawan dan keluarga kerajaan. Perempuan dan janda memakai topi dan penutup kepala yang khas. Di sebagian Eropa, para janda menggunakan pakaian berkabung seumur hidupnya.
3. Aturan baju berkabung era Victoria

Pada tahun 1861, Ratu Victoria berkabung atas meninggalnya Pangeran Albert (suaminya) dengan mengenakan pakaian hitam setiap hari selama 40 tahun. Pada tahun 1840, The Workwoman's Guide diterbitkan untuk merinci perkiraan waktu berkabung yang isinya sebagai berikut:
Busana berkabung yang terkenal di era Victoria disebut dengan pakaian janda. Perempuan yang ditinggal suaminya meninggal akan menjalani masa berkabung penuh dan berkabung setengah. Pada satu tahun pertama, mereka mengenakan pakaian yang ditutupi kain krep hitam. Setelah sembilan bulan, kain krep hitam dilepaskan dan digantikan kain hitam yang lebih mewah.
Masa berkabung setengah berlaku pada enam bulan terakhir masa berkabung. Perempuan berstatus janda mulai mengenakan pakaian berwarna-warni secara bertahap. Apabila dihitung-hitung, masa berkabung janda berlangsung selama dua setengah tahun.
4. Bagaimana pakaian berkabung zaman sekarang?

Sekarang, aturan pakaian berkabung tidak seketat era Victoria atau sebelumnya. Pakaian warna hitam masih diadopsi sebagai tanda belasungkawa. Penggunaan baju warna hitam hanya dipakai ketika acara pemakaman berlangsung. Lalu, mereka melepaskan baju hitam dan kembali mengenakan baju harian seperti biasanya.
Pakaian berkabung warna hitam tidak lepas dari sejarah yang panjang. Namun, warna baju berkabung tidak hanya hitam saja. Budaya atau tradisi tertentu memengaruhi pemilihan baju yang dipakai. Misalnya, agama Hindu yang menggunakan baju putih. Tidak ada masalah mengenai perbedaan pakaian yang unik dan simbolis.


















