Sepatu Hoka Buatan Mana? Inilah Asal-Usul di Baliknya

Hoka lahir di Annecy, Prancis, pada 2009 oleh mantan atlet lari gunung Nicolas Mermoud dan Jean-Luc Diard, dengan desain sol besar serta bantalan maksimal.
Nama Hoka berasal dari bahasa Māori yang berarti “terbang” atau “ayo terbang di atas bumi”; seri perdana Mafate masih diproduksi hingga kini.
Deckers Brands mengakuisisi Hoka pada 2012; merek ini resmi masuk Indonesia pada 2022 dan mencatat pendapatan global USD1,8 miliar.
Bagi para pencinta olahraga lari, hiking, maupun gaya hidup kasual, nama Hoka (yang awalnya dikenal sebagai Hoka One One) tentu sudah sangat familiar. Memiliki ciri khas sol tebal dan bantalan empuk yang ikonik, brand ini sukses mencuri perhatian pencinta alas kaki global.
Namun, di balik popularitasnya yang mendunia, banyak yang penasaran mengenai sepatu Hoka buatan mana sebenarnya? Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, mari simak pembahasan lengkap berikut ini!
Table of Content
1. Asal-usul berdirinya Hoka

Sepatu lari HOKA Clifton PRO (Dok. HOKA) Meskipun banyak yang mengira merek ini berasal dari Amerika Serikat karena markas besarnya di sana, Hoka sebetulnya lahir di Annecy, Prancis. Brand ini didirikan pada tahun 2009 oleh dua mantan atlet lari gunung, yakni Nicolas Mermoud dan Jean-Luc Diard, yang merancang sepatu agar pengguna dapat berlari menurun senyaman dan secepat mungkin.
Nama Hoka sendiri diambil dari bahasa Māori (suku asli Selandia Baru) yang memiliki arti harfiah "terbang" atau "ayo terbang di atas bumi". Kedua pendirinya merancang sepatu dengan sol luar berukuran lebih besar dibanding sepatu lari merek lain serta bantalan yang maksimal, dengan seri pertama mereka yakni Hoka Mafate yang masih diproduksi hingga hari ini.
2. Perjalanan Hoka menjadi brand global

Sepatu lari HOKA Clifton PRO (Dok. HOKA) Pada tahun 2012, Hoka secara resmi diakuisisi oleh Deckers Outdoor Corporation (kini dikenal sebagai Deckers Brands), sebuah perusahaan induk asal California, Amerika Serikat, dengan nilai penjualan saat itu senilai 2 juta dolar. Induk perusahaan ini juga membawahi berbagai brand alas kaki ternama lainnya seperti Ugg dan Teva.
Di bawah naungan Deckers, desain sepatu yang awalnya tampak cukup besar (bulky) mulai disesuaikan menjadi lebih ramping, ringan, dan modern tanpa mengurangi fungsi bantalannya yang maksimal. Lonjakan popularitas Hoka semakin tak terbendung ketika berbagai pesohor dunia seperti Gwyneth Paltrow hingga atlet ultra-maraton mengenakannya. Hingga akhirnya pada tahun 2022, Hoka mulai masuk secara resmi ke pasar Indonesia dan langsung menjadi salah satu pilihan favorit pencinta olahraga.
3. Penjualan global meroket hingga jadi primadona

Sepatu lari HOKA Clifton PRO (Dok. HOKA) Di balik popularitasnya yang kian meroket, performa penjualan Hoka di pasar global menunjukkan tren yang sangat fantastis dan mencatatkan pertumbuhan finansial yang signifikan bagi perusahaan induknya.
Sejak diakuisisi oleh Deckers Brands, Hoka menjelma menjadi salah satu merek alas kaki dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, popularitas Hoka melonjak drastis hingga berhasil membukukan pendapatan penjualan global yang masif sebesar 1,8 miliar dolar.
Angka penjualan yang masif ini didorong oleh ekspansi ritel yang dilakukan di berbagai negara, adopsi dari komunitas lari internasional, serta tren gaya hidup athleisure yang membuat sepatu dengan bantalan tebal ini digemari tidak hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk aktivitas harian.
Itulah penjelasan lengkap mengenai asal-usul, perjalanan global, hingga sosok pencipta sepatu Hoka yang kini menjadi primadona di berbagai belahan dunia. Semoga informasinya bermanfaat!
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


