Iti mengatakan, semasa hidupnya Tuti dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak neko-neko. Jika tidak ditanya, Tuti akan memilih diam. Iti pun tak banyak menyimpan foto anaknya lantaran Tuti memang tak suka difoto. Namun, Iti mengaku bangga karena Tuti banyak menghabiskan waktu di penjara untuk beribadah. Selama 8 tahun di penjara, Tuti berhasil menghapal Al-Quran sebanyak 12 juz.
“Alhamdulillah. Di sana dia salat, ngaji. Pribadinya rajin. Kan gak mungkin lulus 12 juz kalau gak rajin mengaji. Saya yakin. Kalau telepon saya sering bilang ‘Jangan lupa salat, ya’. Itu berarti diturutin ucapan orangtuanya,” kenang Iti sembari tersenyum.
Setelah 40 hari tahlilan nanti, lanjut Iti, dirinya dijanjikan Kemenlu untuk berziarah ke makam Tuti di Arab Saudi. Dia pun mengaku selalu mendapatkan dukungan dan doa dari banyak orang. Oleh karena itu, dia tak ingin kesedihannya membuatnya jatuh sakit karena perjalanan hidup masih panjang.
“Walau sesedih apa pun, saya kuat dan ikhlas. Ke depannya berpikir yang lebih baik lagi. Doakan mudah-mudahan keluarga dikasih ketabahan,menerima kenyataan, dan ikhlas. Mudah-mudahan Tuti dimaafkan segala dosanya, diberikan tempat yang layak di sisi Allah,” ujar Iti.
Karena dikenal taat beribadah, para tetangga pun banyak yang tak percaya tentang keputusan eksekusi mati terhadap dirinya. Asyirah, salah satu kerabat, mengungkapkan bahwa Tuti berasal dari keluarga baik-baik. Sepanjang hidupnya, Tuti dikenal tak pernah mengeluh, mengadu, atau menjelek-jelekkan orang lain. Dia selalu ceria, murah senyum, dan memberikan kabar baik pada orang rumah.
“Tuti itu keturunan orang baik, cucunya pejabat desa. Keluarga baik-baik masa jadi pembunuh? Dia itu ke sana mau bekerja, cari rezeki. Memang di sana (Arab Saudi) ada sejuta persoalan, apalagi buat perempuan. Di sana punya hukum, punya kekuasaan, kita mah numpang,” kata Asyirah saat ditemui sebelum acara tahlilan.
Kepala Desa Cikeusik, Jaenudin, mengungkapkan hal yang sama. Ketika Tuti tersandung kasus pembunuhan, Jaenudin turut mendampinginya di Arab Saudi. Pasalnya, saat itu dirinya juga menjadi pekerja migran selama 2,5 tahun di sana. Setelah kembali ke kampung halaman dan menjadi kepala desa, Junaedi pun membantu sekuat tenaganya untuk membebaskan Tuti.
“Saya pulang awal 2011, 8 bulan kemudian menjabat kepala desa dan mengikuti proses (kasus) ini. Saya tiap tahun ada pertemuan dengan pihak Kemenlu, memberikan kejelasan perkembangan kasus. Pihak keluarga diwakili ibunya berangkat ke Arab Saudi menemui Tuti sebanyak 3 kali,” tutur Jaenudin.
Oleh sebab itu, dia merasa terkejut dan kecewa karena eksekusi mati Tuti dilakukan tanpa pemberitahuan pada pemerintah Indonesia. Dia pun berharap, Tuti kini bisa tenang di sisi Tuhan. Selama hidup, dia mengenal Tuti sebagai sosok yang tak banyak mengeluh dan selalu membantu orang-orang sekitarnya. Jika Tuti menelepon keluarga, Tuti selalu menyapa lebih dulu. Di tahanan pun, Tuti tak memiliki catatan jelek.
Jaenudi mengaku sempat berkomunikasi dengan Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal setelah menerima kabar kematian Tuti. Sehari sebelum eksekusi mati, ujarnya, Iqbal sempat menelepon Tuti, namun tak ada laporan apa pun terkait eksekusi mati. Keesokan harinya, Iqbal meminta KJRI Jeddah untuk mengunjungi Tuti. Nahas, sesampainya di penjara, pihaknya menerima kabar eksekusi mati.
“Saya selaku kepala desa mengutuk keras. Sebab, kalau kami lebih awal tahu, mungkin kami beserta keluarga bisa mempersiapkan doa bersama karena Tuti akan menghadapi ajal,” tuturnya.