TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Masyarakat Papua Menuntut Pemerintah untuk Transparan

Buntut diskriminasi mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya

IDN Times / Auriga Agustina

Jakarta, IDN Times -Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih asal Papua, Yorrys Raweyai, mengatakan bahwa masyarakat Papua dan Papua Barat ingin pemerintah melalui pihak kepolisian mengungkap secara transparan, terkait kasus pengepungan asrama disertai kekerasan terhadap mahasiswa Papua di Malang, Surabaya, serta kerusuhan di Manokwari.

"Bagaimana pemerintah melalui pihak kepolisian untuk bisa mengungkap secara transparan, tegas, dan memberikan hukuman, apakah kepada pelaku atau apakah itu kepada yang memprovokasi," katanya di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/8).

Baca Juga: Pahit-Manis Mahasiswa Papua yang Mencari Ilmu di Bandung

1. Tuntuan hanya satu

IDN Times / Auriga Agustina

Saat mengunjungi Papua bersama Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto, serta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian, ia membeberkan bahwa tuntutan masyarakat Papua sebenarnya hanya satu, agar pihak kepolisian menyampaikan dengan trasnparan dan segera unglap siapa dalang dibalik kerusuhan yang melibatkan mahasiswa Malang, Surabaya yang terdikriminasi, sehingga berbuntut ke Manokwari.

"Karena satu hari ikut rombongan Menko Polhukam, Kapolri, Panglima, tuntutan cuma satu, transparan secepatnya," ungkapnya.

2. Masalah yang terjadi sudah lama

IDN Times / Auriga Agustina

Ia mengatakan, sebenarnya insiden yang terjadi di Papua bukan masalah baru. Hal ini merupakan akibat dari satu sebab yang sudah berkepanjangan, sejak berintegrasi dengan RI. Gejolak itu muncul sejak 1965 di Kota Manokwari.

"Kita di sini cukup serahkan semuanya di sana, yang penting kelanjutan, karena ini bukan baru, ini masalah sejak tahun 1965," kata dia lagi.

3. Merupakan akumulasi kekecewaan

IDN Times / Auriga Agustina

Kata Yorrys, kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan akumulasi kekecewaan yang membuat semangat kolektif untuk bangkit menyampaikan semangat aspirasi.

"Kedua yang menjadi perhatian, karena kejadian tanggal 15, 16, 17 Agustus dan diviralkan begitu masif ke seluruh warga Papua melalui media sosial, kemudian dengan akumulasi kekecewaan, akhirnya mereka membuat satu semangat kolektif untuk bangkit dan menyampaikan aspirasi," jelasnya.

Baca Juga: Polisi Pemberi Miras ke Warga Papua di Bandung Sudah Dinonaktifkan

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya