TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

IMS 2020: Fakta-fakta Alissa Wahid,  Penggerak Gusdurian

Simak visinya di Indonesia Millennial Summit 2020

Alissa Wahid (Instagram @indonesia.millennial.summit)

Jakarta, IDN Times - Alissa Qotrunnada Munawwarah Wahid, atau yang biasa disapa Alissa Wahid, merupakan salah satu penggerak utama jaringan Gusdurian. Alissa merupakan putri pertama dari mantan Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Alissa sendiri adalah salah satu narasumber yang dipastikan hadir di acara Indonesia Millennial Summit 2020 by IDN Media pada Jumat-Sabtu tanggal 17-18 Januari 2020 di Gedung Tribrata, Jakarta.

Ingin mengenal sosok Alissa dan pemikirannya? 

Baca Juga: Alissa Wahid di IMS 2019: Millennial Gak Butuh Ustaz Bersertifikat

1. Hidup di pesantren dan bersosialisasi dalam keluarga santri

Alissa Wahid Tim Pakar Program Bina Sakinah Kementerian Agama (tengah) (IDN Times/Aldzah Fatimah Aditya)

Alissa lahir pada 25 Juni 1973 di kompleks Pesantren Denanyar, Jombang. Alissa kecil hidup bersosialisasi di dalam keluarga santri dan pondok terkenal Denanyar. Dia juga hidup dengan keluarga Pesantren Tebuireng Jombang, di mana menjadi tempat Gus Dur dilahirkan. 

Namun masa remaja Alissa dihabiskan di ibu kota Jakarta seiring kepindahan keluarganya. Keluarga Gus Dur boyongan ke Jakarta saat Alissa berusia 14 tahun.

Saat itu tahun 1987, keluarga Gusdur menyewa sebuah rumah di  kawasan Jakarta Pusat. Alissa pun menyelesaikan sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Ibu Kota. Alissa kemudian melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta, tepatnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan meraih gelar master. 

2. Lulusan psikologi yang banyak terlibat dalam kegiatan masyarakat

IDN Times/Daruwaskita

Meski dia lulusan psikologi, Alissa banyak berperan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Alissa ikut mendirikan dan membina sejumlah pendidikan internasional dan unggul di Yogyakarta. Di antaranya, SD Tumbuh, Fastrack Funschool dan Yogyakarta Community School.

Dan sejak tahun 2012, Alissa bersama adiknya Yenny Wahid, mendirikan Gerakan Nasional Gusdurian yang berpusat di Yogyakarta. Alissa sendiri berperan sebagai Koodinator Nasional Jaringan Gusdurian. Dalam gerakan ini, Alissa memilih fokus di dunia pendidikan, kultural, dan kebudayaan.

Hingga tahun 2019, ada sekitar 130-an komunitas Gusdurian yang tersebar di Indonesia. Komunitas ini, kerap memberikan pandangan berkaitan dengan sikap-sikap Gusdurian terhadap masalah bangsa dan politik. Jaringan Gusdurian sendiri, berada di bawah Yayasan Bani Abdurrahman Wahid (YBAW), Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanity UI (AWCPH UI), Jaringan Kios Rakyat, dan Pojok Gus Dur.

3. Aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama

IDN Times/Galih Persiana

Tak hanya itu, Alissa juga aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) Yogyakarta. Alissa menjadi wakil ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) DIY. Ia kerap memberikan semangat kepada anak muda NU di berbagai daerah.

Kemudian, sejak tahun 2019, Alissa menjadi Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK). Gerakan ini sendiri diketuai Menko Polhukam, Mahfud MD. Gerakan ini melakukan kegiatan-kegiatan rekonsiliasi pasca Pemilu, bersilaturahmi kepada tokoh-tokoh penting, dan melakukan diskusi-diskusi unik.

4. Arti nama Alissa Wahid

IDN Times/Daruwaskita

Anak-anak Gus Dur, termasuk Alissa memiliki nama yang mengandung makna mendalam. Dalam bahasa Yunani, "Alissa" adalah nama perempuan yang berarti menarik. Lain lagi dengan bahasa Jerman, yang maknanya adalah mulia.

Kemudian, "Qotrunnada" adalah bahasa Arab yang menggambarkan tetesan embun. Nama terakhir, "Wahid" diambil dari ayahnya. Namun dalam bahasa Arab, ia juga mengandung makna satu atau tunggal.

Baca Juga: Alissa Wahid Sebut Keuntungan Memulangkan Eks Jihadis ISIS dari Suriah

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya