TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

PBB Ingatkan Munculnya Wabah Baru Jika Manusia Eksploitasi Hewan

Permintaan produk hewani yang tinggi munculkan wabah baru

Ilustrasi peternakan babi (IDN Times/Wayan Antara)

Jakarta, IDN Times - Para ahli Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperingatkan faktor intensifikasi pertanian dan peternakan, peningkatan permintaan protein hewani, serta deforestasi dan perubahan iklim, dapat memunculkan wabah baru dari hewan sebelum ditularkan ke manusia, seperti kasus yang terjadi pada virus corona.

Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengungkapkan, faktor-faktor tersebut merusak habitat alami dan memperlihatkan eksploitasi yang dilakukan oleh manusia ke spesies lain, yang membuat manusia semakin dekat dengan sumber penyakit.

"Jika telah ditularkan pada manusia, penyakit tersebut dapat menyebar cepat dalam dunia yang saling terhubung saat ini, seperti yang kita lihat terjadi pada kasus COVID-19," ujarnya dalam siaran tertulis, Selasa (7/7/2020).

Baca Juga: Cegah COVID-19, Warga DKI Dilarang ke Lokasi Pemotongan Hewan Kurban

1. Mayoritas hewan ternak saat ini dibesarkan dalam peternakan pabrikasi

Seorang pekerja memerah susu di peternakan milik Surinder Singh di Kota Medan. Omzet penjualan susu menurun sejak pandemik corona (IDN Times/Prayugo Utomo)

Inger menerangkan dalam laporan terbaru PBB hubungan antara permintaan produk hewani dengan wabah di masa depan menjelaskan, hewan seperti sapi, babi, dan ayam, dibesarkan dalam kondisi yang tidak ideal serta produksi tinggi cenderung secara genetik, sangat rentan mengalami infeksi dibandingkan dalam populasi yang lebih beragam.

"Parahnya lagi, mayoritas hewan ternak saat ini dibesarkan dalam peternakan pabrikasi, fasilitas dirancang untuk mengurung ribuan hewan dalam satu tempat dan tidak memberi ruang untuk adanya jarak fisik antar satu hewan dengan yang lainnya," terangnya.

2. Konsumsi produk hewani yang membuat produksi daging meningkat

IDN Times/Holy Kartika

UNEP menyebutkan di negara berkembang seperti Indonesia, terdapat peningkatan tajam konsumsi produk hewani yang membuat produksi daging meningkat sebesar 260 persen dan telur 360 persen secara global dalam 50 tahun terakhir.

"Bahkan, sejak tahun 1940, usaha melakukan intensifikasi pertanian dan peternakan seperti, waduk, proyek irigasi, dan peternakan pabrikasi telah dikaitkan dengan lebih dari 25 persen dari semua penyakit serta lebih dari 50 persen dari penyakit zoonosis menular yang telah muncul ke manusia," paparnya.

3. Industri peternakan menjadi salah satu penyebab utama rusaknya lingkungan

Kondisi peternakan babi di Klungkung, Bali belum lama ini. Dalam 3 bulan terakhir, sekitar 400 ekor babi mati dan beberapa di antaranya menunjukkan gejala klinis ASF. (IDN Times/Wayan Antara)

UNEP juga menekankan ada beberapa faktor risiko tambahan di negara berkembang yakni produksi hewan ternak berada di dekat kota, praktik biosekuriti dan peternakan yang tidak memadai, limbah peternakan tidak dikelola dengan baik, juga obat antimikroba yang sering digunakan untuk menjadi tameng kondisi atau praktik yang buruk.

Kerusakan lingkungan dan peternakan hewan liar juga salah satu faktor risiko. Selain itu, industri peternakan juga menjadi salah satu penyebab utama rusaknya lingkungan.

“Sekitar sepertiga lahan pertanian digunakan untuk pakan hewan. Di beberapa negara hal ini menjadi faktor yang menyebabkan deforestasi," ungkap UNEP.

4. Permintaan daging hewan liar sebabkan spesies baru diternakkan

Kelelawar yang disebut-sebut terdapat virus corona banyak dijual di Pasar Karimata, Semarang, Jawa Tengah. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Laporan tersebut juga melihat fakta bukan hanya peningkatan permintaan daging tradisional saja yang tumbuh, namun permintaan daging hewan liar menyebabkan spesies baru diternakkan.

Hal ini menjadi salah satu faktor yang menjelaskan munculnya SARS-CoV dan SARS-COV-2 di Asia Timur serta, penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) yang ditularkan melalui unta ke manusia, yang mengalami transisi produksi unta dari ekstensif ke sistem produksi intensif.

Baca Juga: Juru Wabah UI: Herd Immunity Gak akan Tercapai Tanpa Vaksin 

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya