Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bakom Klarifikasi soal Isu Rais Aam dan Ketum PBNU Paket dari Istana
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Bakom menegaskan pemilihan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU merupakan keputusan AHWA, bukan paket dari Istana.
  • Muktamar ke-35 NU di Jombang menetapkan Gus Kikin dan Miftachul Akhyar memimpin PBNU periode 2026-2031 melalui musyawarah sembilan ulama AHWA.
  • Ahmad Muzani membantah keterlibatan Istana dalam muktamar, mengapresiasi proses yang lancar, sementara Gus Kikin sebelumnya meraih 472 suara dalam penjaringan calon ketua umum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, sedangkan KH Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU periode 2026-2031, di tengah isu keduanya merupakan paket dari Istana.
  • Who?
    Gus Kikin, KH Miftachul Akhyar, sembilan ulama AHWA, Kepala Bakom M. Qodari, serta Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra Ahmad Muzani terlibat dalam pernyataan dan proses kepemimpinan PBNU.
  • Where?
    Penetapan berlangsung dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Klarifikasi Qodari disampaikan di kantor Bakom, Jakarta.
  • When?
    Muktamar ke-35 NU digelar pada 27-31 Agustus 2026. Muzani menyampaikan bantahan pada 31 Agustus 2026, sedangkan Qodari memberikan keterangan di Jakarta pada Rabu, 2 Agustus 2026.
  • Why?
    Klarifikasi disampaikan setelah beredar isu bahwa pemilihan Gus Kikin dan Miftachul Akhyar sebagai pimpinan PBNU merupakan paket dari Istana.
  • How?
    Keduanya ditetapkan melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), forum beranggotakan sembilan ulama yang mendapat mandat menentukan kepemimpinan PBNU. Gus Kikin sebelumnya memperoleh 472 suara dalam penjaringan calon ketua umum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
KH Miftachul Akhyar dipilih lagi jadi Rais Aam PBNU. Gus Kikin dipilih jadi Ketua Umum PBNU untuk 2026 sampai 2031. Sembilan ulama memilih mereka lewat forum AHWA di acara NU di Jombang. Ada isu Istana ikut memilih, tapi M. Qodari dan Ahmad Muzani bilang keputusan itu dari para ulama dan peserta acara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Proses pemilihan pimpinan PBNU menggambarkan penekanan pada musyawarah dan mandat ulama melalui forum AHWA, sementara dukungan muktamirin turut terlihat dalam perolehan suara Gus Kikin. Muktamar yang disebut berlangsung lancar, akrab, dan penuh kekeluargaan juga menghadirkan perpaduan kesinambungan pengalaman Miftachul Akhyar serta kepemimpinan baru di Tanfidziyah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Beredar isu terpilihnya KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH. Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU periode 2026-2031, merupakan paket dari Istana. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, mengatakan itu merupakan keputusan bersama dari Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), yakni forum yang beranggotakan sembilan ulama yang diberi mandat untuk menentukan kepemimpinan PBNU.

"Ya kita kembalikan kepada muktamirin. InsyaAllah sih semuanya adalah keputusan bersama. Apalagi kan metodenya kan AHWA kan? Ada sembilan orang ulama yang memutuskan dengan kebijaksanaannya," ujar Qodari di kantor Bakom, Jakarta, Rabu (2/8/2026).

Sebelumnya, Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra, Ahmad Muzani membantah keterlibatan Istana dalam Muktamar ke-35 PBNU di Jombang Jawa Timur, yang digelar di Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026.

Pernyataan ini disampaikan Muzani menjawab isu paket pasangan calon pimpinan yang berisi kombinasi calon Rais Aam dan calon Ketua PBNU dalam rangkaian Muktamar NU.

"Itu berseliweran, tapi saya tidak melihat adanya isu itu," kata Muzani di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Lebih jauh, Muzani turut menyampaikan selamat atas terpilihnya Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU pada periode 2026-20231. Ia pun mengapresiasi karena Muktamar ke-35 NU di Jombang berjalan lancar.

"Kami bersyukur Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang berlangsung sukses, penuh kekeluargaan, penuh keakraban, dan telah menghasilkan pemimpin baru Rais Aam Kiai Haji Miftachul Achyar dan Ketua Umum PBNU Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin," kata Ketua MPR RI itu.

1. Muktamar ke-35 NU tetapkan pimpinan tertinggi PBNU

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar. Dok. Youtube.

Sebelumnya, Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menghasilkan kepemimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026-2031.

Muktamar menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU untuk periode 2026-2031.

Keduanya ditetapkan melalui mekanisme AHWA, yakni forum yang beranggotakan sembilan ulama yang diberi mandat untuk menentukan kepemimpinan PBNU.

Pada intinya, Muktamar ke-35 NU menghasilkan perubahan di pucuk kepemimpinan Tanfidziyah, dari Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kepada Gus Kikin, sementara posisi Rais Aam tetap dipercayakan kepada KH Miftachul Akhyar untuk periode keduanya.

2. Miftachul Akhyar pernah terima Bintang Kehormatan dari Prabowo

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Miftachul Akhyar (dok. Kemenag)

KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya menduduki posisi tertinggi sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang, Jawa Timur. Ia ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Terpilihnya kembali Miftachul Akhyar memperpanjang kiprahnya dalam jajaran kepemimpinan tertinggi NU.

Sebab, ia pertama kali dipercaya menjalankan tugas sebagai Rais Aam pada 2018, ketika KH Ma'ruf Amin saat itu mengundurkan diri dari posisi tersebut karena maju pada Pilpres 2019.

Miftachul Akhyar diketahui lahir pada 30 Juni 1953. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Sejak kecil, Miftachul Akhyar tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ia memulai pendidikan keagamaannya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Setelah itu, ia melanjutkan pencarian keilmuan ke sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren (Ponpes) Rejoso atau Darul Ulum Jombang, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, serta Pondok Pesantren Al-Islah Soditan, Lasem, Jawa Tengah.

Sementara itu, jejak organisasi Miftachul Akhyar di NU dimulai dari tingkat cabang. Ia pernah dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000-2005. Kariernya kemudian berlanjut di tingkat PWNU Jawa Timur. Ia menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada 2007-2013 dan kembali dipercaya untuk periode 2013-2018.

Selain berkiprah di NU, Miftachul Akhyar juga pernah menduduki posisi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia terpilih sebagai Ketua Umum MUI pada 2020. Saat itu, ia menjalankan dua posisi penting sekaligus, yakni sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI. Namun, pada 9 Maret 2022, Miftachul Akhyar menyatakan telah mengirimkan surat pengunduran diri dari jabatan Ketua Umum MUI.

Pada 2025 lalu, Miftachul Akhyar menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional lainnya

3. Gus Kikin sebelum ditetapkan oleh AHWA, raih 472 suara dari muktamirin

Ketua PWNU Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Gus Kikin lebih dulu memperoleh dukungan terbanyak dalam proses penjaringan calon ketua umum. Gus Kikin mengantongi 472 suara dari total suara yang masuk.

Gus Kikin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Dia dipercaya melanjutkan kepemimpinan pesantren tersebut setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat pada 2020. Gus Kikin kemudian tercatat sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-8.

Gus Kikin lahir di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang, pada 17 Agustus 1958. Dia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum.

Dari garis keluarga ibunya, Gus Kikin memiliki hubungan nasab dengan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama.

Hubungan tersebut berasal dari Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy'ari yang menikah dengan KH Ma'shum Ali. Dari jalur ayah, Gus Kikin juga tumbuh dari keluarga ulama Jombang. Ayahnya, KH Mahfudz Anwar merupakan tokoh yang mendirikan Pondok Pesantren Sunan Ampel.

Latar belakang keluarga pesantren membuat Gus Kikin sejak kecil dekat dengan tradisi pendidikan Islam. Ia tidak hanya memperoleh pendidikan formal, tetapi juga belajar di lingkungan pesantren, termasuk Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Seblak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article