Jakarta, IDN Times - Beredar isu terpilihnya KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH. Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam PBNU periode 2026-2031, merupakan paket dari Istana. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, mengatakan itu merupakan keputusan bersama dari Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), yakni forum yang beranggotakan sembilan ulama yang diberi mandat untuk menentukan kepemimpinan PBNU.
"Ya kita kembalikan kepada muktamirin. InsyaAllah sih semuanya adalah keputusan bersama. Apalagi kan metodenya kan AHWA kan? Ada sembilan orang ulama yang memutuskan dengan kebijaksanaannya," ujar Qodari di kantor Bakom, Jakarta, Rabu (2/8/2026).
Sebelumnya, Ketua Dewan Kehormatan Partai Gerindra, Ahmad Muzani membantah keterlibatan Istana dalam Muktamar ke-35 PBNU di Jombang Jawa Timur, yang digelar di Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026.
Pernyataan ini disampaikan Muzani menjawab isu paket pasangan calon pimpinan yang berisi kombinasi calon Rais Aam dan calon Ketua PBNU dalam rangkaian Muktamar NU.
"Itu berseliweran, tapi saya tidak melihat adanya isu itu," kata Muzani di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (31/8/2026).
Lebih jauh, Muzani turut menyampaikan selamat atas terpilihnya Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU pada periode 2026-20231. Ia pun mengapresiasi karena Muktamar ke-35 NU di Jombang berjalan lancar.
"Kami bersyukur Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang berlangsung sukses, penuh kekeluargaan, penuh keakraban, dan telah menghasilkan pemimpin baru Rais Aam Kiai Haji Miftachul Achyar dan Ketua Umum PBNU Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin," kata Ketua MPR RI itu.
