BPJS Ketenagakerjaan dan Bank Indonesia menjajaki kolaborasi untuk mendorong dana manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan menjadi modal produktif yang dapat melahirkan pelaku usaha baru. Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko BPJS Ketenagakerjaan, Bambang Joko Sutarto, dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, di Pontianak, Selasa (2/6/2026). (dok. BPJS Ketenagakerjaan)
Potensi dampak program tersebut dinilai cukup besar mengingat nilai manfaat yang disalurkan BPJS Ketenagakerjaan terus meningkat. Sepanjang 2025, BPJS Ketenagakerjaan membayarkan manfaat kepada 5.024.525 kasus dengan total nilai mencapai Rp68,13 triliun. Angka itu meningkat 19,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp57,12 triliun untuk 4.010.291 kasus.
Sementara hingga April 2026, BPJS Ketenagakerjaan telah membayarkan manfaat kepada 1.817.744 kasus dengan total nilai Rp24,3 triliun. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah kasus meningkat 28,89 persen dan nilai pembayaran manfaat tumbuh 21,97 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, menyambut baik peluang kolaborasi tersebut. Menurutnya, BI memiliki berbagai program pengembangan UMKM yang dapat membantu penerima manfaat BPJS Ketenagakerjaan bertransformasi menjadi pelaku usaha yang lebih tangguh.
“Terkait akses ke UMKM, Bank Indonesia memang tidak secara langsung memberikan kredit usaha seperti perbankan, tetapi memiliki berbagai program pengembangan dan pendampingan UMKM, pelatihan digitalisasi, perluasan pasar, fasilitasi sertifikasi produk hingga penguatan akses ke lembaga pembiayaan. Karena itu, kerja sama BPJS Ketenagakerjaan dan BI dapat menjadi jembatan transformasi penerima santunan menjadi pelaku usaha produktif, terutama bagi peserta yang terkena PHK maupun ahli waris yang menerima manfaat dalam jumlah cukup besar,” ujar Doni.
Melalui sinergi ini, kedua lembaga berharap manfaat jaminan sosial tidak hanya menjadi bantalan saat risiko terjadi, tetapi juga dapat menjadi modal produktif yang melahirkan wirausaha baru dan memperkuat ekonomi keluarga pekerja. (WEB)