Bogor, IDN Times - Penyebab tanah longsor dan banjir bandang yang melanda Sumatra memicu perdebatan publik, bahkan berujung tudingan hukum. Bareskrim Polri sempat menyoroti dugaan keterlibatan aktivitas Tata Batas Hutan (TBS) dan pembukaan lahan sebagai pemicu utama bencana.
Namun, Pakar Ilmu Tanah sekaligus dosen aktif Fakultas Pertanian IPB University, Basuki Sumawinata, memberikan sudut pandang ilmiah berbeda. Ia menjelaskan fenomena alam ekstrem akibat perubahan iklim menjadi faktor dominan yang tak terelakkan.
Selama ini, kata Basuki, masyarakat menganggap hutan adalah benteng absolut terhadap longsor. Namun, menurut dia, pada curah hujan ekstrem di atas 100 mm per hari (klasifikasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), logika tersebut bisa berbalik.
"Dalam kondisi seperti ini, tanah di lahan hutan justru menjadi jauh lebih jenuh air dibandingkan tanah di lahan terbuka, karena hampir seluruh air masuk ke dalam tanah," ujar dia, saat ditemui di IPB University, Baranangsiang, Bogor, Jumat (9/1/2026).
Menurut Basuki, saat curah hujan mencapai 500 mm dalam tiga hari, daya serap hutan yang tinggi justru membuat massa tanah menjadi sangat berat dan kehilangan kestabilannya.
