Jakarta, IDN Times - Kepala Departemen Politik dan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, mengungkap dua kerentanan yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, kedua kerentanan tersebut turut memengaruhi strategi dan kebijakan yang diambil dalam dua tahun pertama pemerintahan Prabowo.
Arya menyebut kerentanan pertama adalah aspek elektoral. Prabowo memang memenangkan Pilpres 2024 dengan perolehan suara sekitar 58 persen. Namun, Gerindra sebagai partai yang dipimpinnya bukan merupakan pemenang Pemilu 2024, karena hanya berada di posisi ketiga dengan perolehan kursi sekitar 14 persen di DPR.
“Presiden Prabowo menang dengan popular support yang tinggi, 58 persen. Belum pernah dicapai oleh presiden yang menang di periode pertama, bahkan Pak Jokowi hanya 55 persen. Tapi yang menarik adalah, meskipun beliau menang dengan perolehan suara yang besar, Partai Gerindra sebagai partai penguasa itu bukanlah partai pemenang pemilu. Gerindra hanya finish di urutan ketiga dengan kursi sekitar 14 persen di DPR,” kata Arya dalam diskusi yang digelar Temu Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Insani Madina PGSC, Sabtu (17/10/2026).
Kerentanan kedua, lanjut Arya, berkaitan dengan masih kuatnya pengaruh politik Presiden ke-7 RI Joko “Jokowi” Widodo. Menurutnya, Jokowi masih memiliki dukungan kuat di tingkat akar rumput, popularitas, serta jaringan politik dengan elite dan kelompok bisnis.
“Kita melihat dari awal dan mungkin juga sampai sekarang, pengaruh politik Pak Jokowi masih besar. Grassroots level support-nya masih tinggi, popularitasnya. Beliau juga menjaga jaringan politik yang kuat dengan para elit politik dan kelompok-kelompok bisnis,” ujarnya.
