Kholid juga diiming-imingi pekerjaan, tetapi dengan catatan ia tak lagi mengkritisi kasus pagar laut.
"Kalau memang ini (butuh) kerja, kalau butuh kerjaan tinggal bilang," ujar Kholid menirukan pihak yang menghubunginya.
Selain itu, kata Kholid, dirinya sempat ditawarkan uang dari pihak pembebasan lahan tersebut. Ia diberikan jatah sekian persen dari penjualan tanah milik masyarakat setempat.
"Kalau kita hitung jumlah dari Tangerang sana dari Kampung Muara sampai Muncung sudah berapa (uang yang saya dapat). Minimal kan ratusan hektare, ribuan hektare kan," kata dia.
Ia tegas menolak tawaran tersebut karena tidak ingin semena-mena dan membiarkan masyarakat susah. Terlebih, Kholid menyoroti keberlangsungan anak-anak generasi mendatang yang bukan tidak mungkin akan terkena dampak dari oligarki.
"Tujuan saya adalah ini negara mau dibawa ke mana, sudah itu saja sih. Saya gak jadi masalah miskin. Tapi anak seluruh Indonesia, anak-anak generasi bangsa seluruh Indonesia ini mau diapakan? Negara ini mau diapakan? Oke lah saya miskin gak jadi masalah, cuma ini saya lihat mau dibawa ke mana ini negara dari siapa?" kata Kholid.