Comscore Tracker

Epidemiolog Kritik PCR Jadi Syarat Perjalanan: Sia-sia

Pemeriksaan PCR dinilai sia-sia karena tanpa indikasi

Jakarta, IDN Times - Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, menilai syarat tes COVID-19 dengan metode PCR untuk naik pesawat tidak efektif. Bahkan, ia menegaskan, penerapan syarat PCR maupun antigen di semua moda transportasi sia-sia.

Menurutnya, penggunaan antigen/PCR dinilai tidak efektif jika hanya digunakan pemeriksaan satu kali tanpa indikasi apa pun, misalnya indikasi kontak erat.

“Jadi, bagi saya itu langkah sia-sia dan selama ini Satgas tidak pernah juga melakukan evaluasi atau studi untuk membuktikan bahwa penggunaan antigen/PCR itu efektif mencegah penularan lintas daerah," kata Bayu dalam siaran tertulisnya, Rabu (27/10/2021).

1. Hasil PCR negatif tak jamin seseorang tidak sedang terinfeksi

Epidemiolog Kritik PCR Jadi Syarat Perjalanan: Sia-siaRapid test di sebuah rumah sakit di Banten (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Ia menjelaskan kebijakan semacam itu tidak ditemui di negara lain. Di negara-negara lain, tidak ada yang menggunakan persyaratan semacam ini untuk perjalanan domestik di dalam negeri.

Bayu menilai hasil PCR atau antigen negatif tak menjamin orang tersebut tidak sedang terinfeksi COVID-19. Terlebih, ia mengatakan, pemeriksaan hanya dilakukan sekali dan tanpa indikasi.

“Karenanya yang lebih penting adalah vaksin dan memakai masker serta sirkulasi udara yang baik," ungkapnya.

Baca Juga: Wakil Ketua DPR Tak Setuju Tes PCR Diterapkan di Semua Transportasi 

2. Pemerintah dinilai sering buat kebijakan tanpa dilandasi alasan ilmiah yang kuat

Epidemiolog Kritik PCR Jadi Syarat Perjalanan: Sia-siaPengunjung mengamati pesawat Garuda Indonesia bercorak khusus dengan visual masker pada bagian moncong pesawat di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (8/12/2020) (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Bayu pun menyarankan aturan menggunakan PCR maupun antigen sebagai syarat perjalanan dicabut karena tidak efektif. Ia menilai pemerintah Indonesia sering membuat kebijakan tanpa dilandasi alasan ilmiah yang kuat.

Jika ingin mengurangi jumlah penumpang, ia menyarankan pemerintah sebaiknya kembali menerapkan pembatasan kapasitas.

“Jadi, tidak perlu dengan PCR. Belum lagi nanti ada permainan surat antigen atau PCR palsu yang hanya akan menguntungkan finansial para pembuat suratnya. Sekali lagi paling penting di perjalanan domestik itu masker, vaksin dan sirkulasi udara yang baik serta bisa jaga jarak," paparnya.

3. Vaksinasi, disiplin pakai masker dan jaga jarak yang ketat menjadi hal terpenting

Epidemiolog Kritik PCR Jadi Syarat Perjalanan: Sia-siaVaksinasi di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (5/5/2021). (IDN Times/Herka Yanis).

Ia mengatakan dalam mobilitas masyarakat yang terpenting adalah vaksinasi, serta disiplin dalam pemakaian masker dan jaga jarak yang ketat. Kapasitas penumpang juga harus dibatasi 50 hingga 75 persen dengan diatur jarak antarpenumpang, dan menyediakan ruangan khusus untuk makan yang terpisah dari tempat duduk (khusus kereta api).

“Dengan cara-cara seperti itu saya kira sudah cukup membantu. Hal itu perlu saya sampaikan sebab penelitian di Indonesia sampai saat ini masih kurang membahas mengenai sebenarnya seberapa besar risiko tertular di transportasi publik. Karena kembali lagi pemegang datanya tidak mau melakukan evaluasi soal itu," terangnya.

Sebelumnya, syarat wajib PCR untuk penumpang pesawat menuai pro dan kontra. Syarat tersebut tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 53 tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, 2, dan 1 COVID-19 di Jawa-Bali.

Sedangkan calon penumpang moda transportasi darat, laut dan kereta api dengan tujuan Jawa-Bali maupun di luar Jawa-Bali berstatus PPKM Level 3 dan 4 disyaratkan vaksinasi minimal dosis pertama plus keterangan hasil negatif PCR dengan masa berlaku 2x24 jam, atau hasil rapid test antigen yang berlaku 1x24 jam.

Baca Juga: Puan Maharani Kritik Wacana Tes PCR di Semua Moda Transportasi

Topic:

  • Jihad Akbar

Berita Terkini Lainnya