Jakarta, IDN Times - Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang mengaku tak tahu saat ditanya soal pemberian proyek di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Politikus PDI Perjuangan itu beralasan dirinya baru sembilan bulan menjabat, sehingga masih belum hafal.
"Jadi 9 bulan ini saya juga belum hafal bener terkait masalah bagaimana terkait masalah pemerintah ini, proses anggaran nya, proses pembangunannya," ujar Ade usai diperiksa KPK di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (29/1/2026).
Ditanya Soal Proyek, Bupati Bekasi: Tak Tahu, Baru 9 Bulan Menjabat

Intinya sih...
Ade Kuswara dilantik februari 2025, setelah dipilih oleh 666.494 masyarakat Kabupaten Bekasi pada Pemilu 2024.
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang, HM Kunang, dan Sarjan kena OTT KPK setelah belum genap setahun menjabat.
Ade Kuswara diduga terima Rp14,2 miliar dari berbagai pihak, termasuk Rp9,5 miliar dari Sarjan dan peran ayahnya sebagai perantara.
1. Ade Kuswara dilantik februari 2025
Diketahui, Ade Kuswara dipilih 666.494 masyarakat Kabupaten Bekasi pada Pemilu 2024. Jumlah itu setara dengan 45,68 persen suara masyarakat Kabupaten Bekasi.
Ade berpasangan dengan Asep Surya Atmaja. Mereka dilantik pada Februari 2025.
2. Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang, HM Kunang, dan Sarjan kena OTT KPK
Belum genap setahun menjabat, Ade Kuswara terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK pada Kamis (18/12/2025). Setelah pemeriksaan, KPK menetapkan tiga tersangka.
Mereka adalah Ade Kuswara Kunang selaku Bupati Bekasi, H.M Kunang yang merupakan Kepala Desa Sukadami sekaligus ayah Ade Kuswara, serta pihak swasta bernama Sarjan.
3. Ade Kuswara diduga terima Rp14,2 miliar
Ade diduga menerima uang Rp14,2 miliar dari berbagai pihak. Ayahnya berperan sebagai perantara sebagian uang korupsinya, sedangkan Sarjan diduga memberikan Rp9,5 miliar kepada Ade.
Atas perbuatannya, ADK bersama-sama HMK selaku pihak penerima disangkakan Pasal 12 a atau Pasal 11 dan Pasal 12B UU Tipikor jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP serta Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU TPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 4. Sementara, SRJ selaku pihak pemberi disangkakan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Tindak Pidana Korupsi.