Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dokter Tirta Bagikan Tips Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menyebar hingga warga di Jakarta Barat, Minggu (6/9/2026). (IDN Times/Anata Siregar)
  • Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek dan Banten, sehingga masyarakat perlu waspada saat beraktivitas dan membersihkan lingkungan.
  • Dokter Tirta menyarankan memakai masker di luar rumah karena abu yang terhirup berulang kali dapat memicu alergi serta gangguan saluran pernapasan.
  • Abu sebaiknya dibasahi sebelum dibersihkan, wajah segera dicuci tanpa digosok berlebihan, dan olahraga luar ruangan sementara dialihkan ke dalam ruangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Jabodetabek dan Banten.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan cara beraktivitas dan membersihkan abu yang menempel di lingkungan sekitar.

Dokter sekaligus entrepreneur Tirta Mandira Hudhi atau Dokter Tirta, turut membagikan sejumlah tips menghadapi abu vulkanik melalui unggahan Reels di akun Instagram @dr.tirta pada Minggu (6/9/2026). Ia mengaku pernah mengalami paparan abu vulkanik saat erupsi Gunung Kelud.

1. Gunakan masker saat beraktivitas di luar rumah

ilustrasi masker medis (magnific.com/azerbaijan_stockers)

Dokter Tirta mengingatkan masyarakat untuk tetap menggunakan masker ketika melakukan aktivitas outdoor, meski abu yang terlihat relatif tipis. Menurut dia, abu vulkanik yang terlalu sering terhirup dapat memicu reaksi alergi dan gangguan pada saluran pernapasan.

“Abu gunung mengapi kalau terhirup terlalu sering ke dalam saluran pernapasan itu bisa menyebabkan reaksi alergi dan bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan,” ujar Dokter Tirta dalam unggahannya.

Ia juga mengingatkan paparan dalam kondisi tertentu dapat memicu gangguan pernapasan yang lebih berat.

2. Jangan menyapu abu dalam kondisi kering

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

Masyarakat yang hendak membersihkan abu vulkanik di rumah juga diminta tidak langsung menyapunya dalam kondisi kering. Cara tersebut justru berpotensi membuat abu kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.

“Jangan disapu, itu tambah terbang, tambah sesak napas, double trouble. Disiram pakai air,” kata Dokter Tirta.

Abu yang sudah dibasahi kemudian dapat dibersihkan dengan lebih hati-hati agar tidak kembali beterbangan ke udara.

3. Bersihkan wajah setelah terkena abu

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

Dokter Tirta juga menyarankan masyarakat segera membersihkan wajah apabila terkena abu vulkanik. Ia mengingatkan agar wajah dibersihkan menggunakan produk pembersih wajah yang sesuai dan tidak digosok secara berlebihan.

“Kalau kena muka, itu segera gunakan facial wash yang proper,” ujarnya.

Langkah tersebut penting dilakukan untuk menghilangkan partikel abu yang menempel di kulit sekaligus menghindari iritasi akibat menggosok wajah terlalu keras.

4. Tunda olahraga outdoor untuk sementara

ilustrasi jogging (pexels.com/cottonbro studio)

Bagi masyarakat yang terbiasa berolahraga di luar ruangan, Dokter Tirta menyarankan agar aktivitas tersebut sementara dialihkan ke dalam ruangan.

Menurut dia, berolahraga di tengah kondisi udara yang mengandung abu vulkanik dapat meningkatkan paparan karena aktivitas fisik membuat seseorang bernapas lebih banyak. Karena itu, olahraga outdoor sebaiknya ditunda hingga kondisi udara kembali lebih aman.

“Buat teman-teman yang hobi berolahraga outdoor, diganti dulu di indoor ya, daripada Anda berisiko dari abu vulkanik semakin banyak,” kata Dokter Tirta.

Curated For You

Editorial Team

Related Article