Jakarta, IDN Times — Dua tahun masa pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka dinilai menjadi fase penting untuk “merapikan barisan” sekaligus menguji daya tahan koalisi. Dukungan luas partai politik dan masuknya sejumlah figur dari kubu berseberangan memang memperkuat pemerintahan. Namun, di balik koalisi besar tersebut tersimpan pekerjaan rumah: menyatukan beragam kepentingan tanpa membuat arah kebijakan kehilangan fokus.
Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menyebut, konsolidasi politik masih menjadi agenda utama pemerintah. Menurutnya, agenda keberlanjutan yang diusung Prabowo sejak Pilpres 2024 tidak otomatis menghasilkan basis politik yang mandiri.
“Prabowo membawa agenda keberlanjutan. Namun dalam praktik politik, keberlanjutan juga berarti merawat hubungan dengan kekuatan-kekuatan yang berperan pada periode sebelumnya. Dukungan Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono memang menopang pemerintahan, tetapi tidak menghapus kebutuhan Prabowo untuk membangun kekuatan politik yang lebih solid dan mandiri dengan membuka ruang dukungan Megawati atau faksi yang kalah di Pilpres 2024,” ujar Arifki kepada IDN Times, Senin (19/10/2026).
