Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Indonesia Kembali Jadi Tuan Rumah IMSO, Misi Dobrak Dominasi China
Ketua Umum IMSO 23 Chairman IMSO Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA Raden Ridwan Hasan Saputra bersama Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah sekaligus Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan Didik Suhardi saat konferensi pers di bogor selasa, (29/9/2026). (Dok.Istimewa).
  • Indonesia menjadi tuan rumah IMSO ke-23 pada 2–7 Oktober 2026 di bawah penyelenggaraan KPM, Muhammadiyah, dan dukungan Kemendikdasmen, dengan target sukses prestasi.

  • Indonesia ingin mengejar dominasi China dan Singapura pada predikat juara umum melalui penyesuaian materi kurikulum, karena materi setara IMSO telah menjadi pembelajaran rutin di negara tersebut.

  • Sebanyak 63 wakil Indonesia diseleksi dari peraih medali OSN dan seleksi KPM, dengan penilaian kemampuan serta karakter; medali IMSO diakui untuk akses sekolah dan beasiswa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times — Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 yang digelar pada 2–7 Oktober 2026. Meski menginisiasi kompetisi ini sejak 2003, Indonesia masih berjuang mengejar ketertinggalan kurikulum agar kelak mampu meraih predikat juara umum yang selama ini didominasi China dan Singapura.

Ketua Umum IMSO ke-23 sekaligus Presiden Direktur KPM, Raden Ridwan Hasan Saputra, menyampaikan optimisme dan kesiapan Indonesia saat konferensi pers di Bogor, Selasa (29/9/2026).

"Kami menyambut baik dan antusias karena ini merupakan salah satu event internasional yang sangat prestisius. Ini menjadi ajang bagi anak kita untuk menunjukkan prestasi. Kita berharap di ajang ini nanti tidak hanya sukses menjadi tuan rumah, tapi juga sukses meraih prestasi," ujar Ridwan.

Penyelenggaraan IMSO ke-23 diselenggarakan oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) berkolaborasi dengan Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, serta didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).


1. Indonesia berjuang mengejar kurikulum demi predikat juara umum

ilustrasi lomba cerdas cermat (dok.youtube/ Yayang predyono)

Sebagai pelopor IMSO, Indonesia kerap langganan menyabet medali emas, perak, dan perunggu. Namun untuk predikat juara umum (overall champion), negara seperti China dan Singapura masih mendominasi karena materi sekelas IMSO sudah menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari mereka.

Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah sekaligus Staf Khusus Menpasmen, Didik Suhardi, mengungkapkan realita persaingan tersebut.

"Pengalaman kita, yang sering menjuarai itu China dan Singapura. Kurikulum belajar mereka itu seperti pelajaran IMSO jadi makanan sehari-hari, kalau kita harus karantina dulu baru bisa. Kita menginisiasi jadi tuan rumah, tapi kenyataannya negara lain yang sering juara. Justru lewat ajang ini kita dorong penyesuaian materi agar kelak anak-anak kita mampu meraih predikat juara," kata Didik.


2. Seleksi 63 siswa Indonesia tak cuma uji logika, tapi juga uji akhlak

Ketua Umum IMSO 23 Chairman IMSO Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA Raden Ridwan Hasan Saputra bersama Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah sekaligus Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan Didik Suhardi saat konferensi pers di Bogor selasa, (29/9/2026). (Dok.Istimewa).

Guna memangkas jarak kualitas dengan negara pesaing, Indonesia menurunkan 63 wakil (32 bidang Matematika dan 31 bidang Sains) yang disaring melalui dua jalur utama: peraih medali Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan seleksi mandiri tiga tahap oleh KPM. Penilaian tidak hanya mencakup logika MIPA, tetapi juga mengukur karakter dan budi pekerti selama karantina.
Didik Suhardi menjelaskan kriteria ketat dalam menentukan tim nasional Indonesia.
"Yang ikut di lomba ini adalah anak-anak terbaik di tiap negara. Jadi kalau kita buat seleksi, kita tes kemampuan pengetahuan dasar hingga penalaran. Dilihat juga budi pekertinya selama 3 hari 2 malam. Karena kita ingin memilihkan perwakilan negara, jadi tidak hanya kepintaran, tapi budi pekerti juga kita perhatikan," tegas Didik.

3. Medali IMSO jadi 'tiket emas' masuk sekolah favorit hingga dapet beasiswa luar negeri

Ilustrasi Asian Games 2026 Medali Emas. (IDN Times/Anjani Asra)

Raihan medali dan sertifikat IMSO memiliki rekognisi internasional yang kuat. Bagi para pemenang, kompetisi ini membuka akses langsung ke berbagai jalur beasiswa dan penerimaan sekolah unggulan di level nasional maupun mancanegara seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.
Didik Suhardi membeberkan dampak nyata capaian prestasi IMSO terhadap keberlanjutan pendidikan para peserta.
"Lomba IMSO ini terus terang sudah diakui juga oleh lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri. Medali emas dan peraknya itu bisa mendapatkan beasiswa di sekolah Singapura, seperti NUS High School. Di Malaysia dan Filipina juga sertifikat ini sangat terpakai untuk masuk sekolah favorit. Makanya ajang ini sangat diminati," pungkas Didik.


Curated For You

Editorial Team

Related Article