Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Deretan Tantangan Pancasila di Tengah modernitas Versi PKP
Ilustrasi Pancasila (IDN Times/Sukma Shakti)
  • PKP menegaskan tantangan utama bangsa bukan menemukan Pancasila, tapi menghidupkannya dalam perilaku masyarakat dan penyelenggaraan negara di tengah perubahan sosial budaya modern.
  • PKP menyerukan pentingnya menjaga harmoni antara agama, kebudayaan, dan kebangsaan agar keberagaman tetap menjadi kekuatan serta identitas generasi muda tidak hilang oleh arus globalisasi.
  • PKP menilai masa depan Indonesia bergantung pada kualitas manusia Pancasilais yang menjunjung persaudaraan, musyawarah, keadilan, dan penghormatan terhadap budaya lokal sebagai ruang hidup Pancasila.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari itu orang-orang PKP bilang semua orang Indonesia harus hidup dengan cara Pancasila. Katanya sekarang banyak yang lupa berbuat baik seperti gotong royong dan saling hormat. Pak Isfan bilang Pancasila bukan cuma kata, tapi harus ada di hati dan perbuatan. Mereka mau anak muda tetap cinta Indonesia dan jaga kebersamaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) mengajak seluruh elemen bangsa, untuk melihat kembali tantangan Pancasila dalam konteks Indonesia masa kini.

Bagi PKP, ancaman terhadap Pancasila saat ini tidak lagi berupa pertarungan ideologi, melainkan melalui perubahan sosial dan budaya, yang perlahan menggeser cara hidup masyarakat dari nilai-nilai yang menjadi ruh Pancasila.

1. Pancasila selalu disebut, tapi nilainya jarang diamalkan

Ilustrasi Pancasila (pexels.com/Photo by MLuthfi Abdul Latif)

Ketua Umum PKP, H. Isfan Fajar Satryo, mengatakan bangsa Indonesia tidak pernah kekurangan Pancasila dalam pidato, dokumen negara, maupun berbagai kegiatan seremonial. Namun, yang menjadi persoalan adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam perilaku masyarakat, penyelenggaraan negara, dan kehidupan sosial sehari-hari.

“Tantangan bangsa hari ini bukan menemukan Pancasila, melainkan menghidupkan Pancasila. Pancasila bukan hanya dasar negara. Pancasila adalah fondasi pembangunan dan cara hidup bangsa Indonesia,” ujar Isfan dalam keterangan tertulis.

PKP memandang modernitas tidak boleh dimaknai sebagai meninggalkan jati diri bangsa. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterbukaan terhadap dunia harus tetap berpijak pada karakter Indonesia.

2. Menghidupkan hubungan harmonis agama, kebudayaan, dan kebangsaan

Ilustrasi Pancasila (unsplash.com/Mufid Majnun)

Selain itu, PKP juga melihat perlunya menjaga hubungan yang harmonis antara agama, kebudayaan, dan kebangsaan. Indonesia dibangun di atas keberagaman agama, budaya, suku, dan tradisi yang hidup berdampingan selama berabad-abad.

Karena itu, kata Isfan, kehidupan beragama harus menjadi sumber akhlak, persaudaraan, dan kemanusiaan, bukan menjadi alasan untuk menghilangkan penghormatan terhadap keberagaman budaya lokal.

"Pancasila berarti menjaga karakter bangsa Indonesia, menjaga budaya gotong-royong, menjaga persatuan, menjaga penghormatan kepada sesama, dan menjaga keseimbangan antara agama, budaya, dan kebangsaan,” ujar dia.

PKP juga menilai tantangan terbesar generasi muda Indonesia bukan hanya kompetisi ekonomi global, tetapi juga menjaga identitas kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dan perubahan budaya yang berlangsung sangat cepat.

“Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045, maka kita tidak cukup membangun infrastruktur, industri, atau teknologi. Kita harus membangun manusia Indonesia yang Pancasilais: sehat, cerdas, berintegritas, berbudaya, menghormati keberagaman, dan memiliki semangat gotong-royong,” tegas Isfan.

3. Indonesia adalah ruang hidup Pancasila

Ilustrasi Pancasila (unsplash.com/Lighten Up)

Menurut Isfan, sosial budaya bangsa Indonesia pada hakikatnya adalah ruang hidup Pancasila. Ketika kehidupan sosial masih menjunjung persaudaraan, ketika perbedaan masih dapat dikelola melalui musyawarah, ketika agama menjadi sumber kebaikan bersama, ketika budaya lokal tetap dihormati, dan ketika keadilan terus diperjuangkan, maka Pancasila hidup dan bekerja dalam kehidupan bangsa.

Sebaliknya, kata Isfan, apabila kehidupan sosial menjadi semakin terpecah, intoleran, individualistis, kehilangan adab, dan tercerabut dari akar budayanya, maka Pancasila berisiko tinggal sebagai simbol formal yang kehilangan daya hidup di tengah masyarakat.

“Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonominya, tetapi oleh kualitas manusianya. PKP berpendapat kualitas manusia Indonesia hanya akan kokoh apabila dibangun di atas nilai-nilai Pancasila yang hidup dalam kehidupan nyata,” ujar Isfan.

Editorial Team

Related Article