UNESCO: Situs Bersejarah di Lebanon dan Tepi Barat dalam Bahaya

Jakarta, IDN Times - UNESCO menetapkan sejumlah situs bersejarah di Lebanon dan Tepi Barat ke Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya pada Jumat (24/7/2026). Keputusan ini diambil dalam sidang Komite Warisan Dunia di Busan, Korea Selatan.
Penetapan ini mencakup benteng bersejarah di Lebanon Selatan dan situs arkeologi Sebastia di Tepi Barat. UNESCO menyebut langkah ini bertujuan memperkuat perlindungan bagi situs budaya yang terancam akibat konflik bersenjata.
1. Benteng bersejarah di Lebanon masuk daftar terancam
UNESCO memasukkan lima benteng bersejarah di kawasan Jabal Amel, Lebanon Selatan, ke dalam daftar tersebut. Salah satu situs yang disorot adalah Benteng Beaufort atau Qalaat al-Shakif yang berada di area konflik.
"Struktur benteng telah rusak dan menghadapi ancaman serius akibat konflik, sehingga membutuhkan tindakan darurat," tulis UNESCO, dikutip dari Times of Israel.
Benteng-benteng tersebut memiliki nilai sejarah tinggi karena memadukan arsitektur era Perang Salib, Ayyubiyah, Mamluk, hingga budaya lokal Lebanon. Pemerintah Lebanon pun menyambut baik keputusan ini.
"Penetapan status terancam ini merupakan pencapaian besar untuk melindungi cagar budaya penting di Lebanon," kata Menteri Kebudayaan Lebanon, Ghassan Salame.
2. Situs arkeologi Sebastia di Tepi Barat dapat status darurat
UNESCO juga menetapkan situs arkeologi Sebastia di Tepi Barat sebagai Warisan Dunia dalam Bahaya. Kawasan di dekat Nablus ini menyimpan peninggalan bersejarah dari Zaman Besi hingga era Islam.
UNESCO menilai keutuhan situs terancam oleh berbagai aktivitas pembangunan di sekitarnya. Sementara itu, delegasi Palestina menganggap penetapan ini sebagai bentuk pengakuan atas upaya warga dalam menjaga kawasan tersebut.
"Status ini menjadi bentuk apresiasi atas ketabahan warga Sebastia yang terus menjaga situs ini di tengah pendudukan dan berbagai pembatasan," ujar anggota delegasi Palestina, Adel Naim Daoud Atieh, dikutip dari Associated Press.
UNESCO menegaskan bahwa penetapan dilakukan melalui skema darurat mengingat tingginya risiko kerusakan pada situs tersebut.
3. Israel menolak keputusan penetapan UNESCO
Pemerintah Israel menolak keputusan UNESCO atas penetapan situs di Lebanon dan Tepi Barat. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, menilai keputusan tersebut mengabaikan ikatan sejarah bangsa Yahudi.
"Keputusan ini berupaya menghapus hubungan sejarah bangsa Yahudi dengan wilayah tersebut," kata Gideon Sa'ar.
Israel menyebut Sebastia memiliki arti penting dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Mengenai Benteng Beaufort, Israel mengklaim lokasi itu pernah digunakan oleh kelompok Hizbullah untuk aktivitas militer.
Menanggapi hal tersebut, UNESCO menegaskan bahwa keputusan diambil murni berdasarkan penilaian teknis atas kondisi situs, tanpa memihak dalam sengketa politik.






















