Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jabar Siapkan PJJ hingga Posko Pengungsian Hadapi Abu Vulkanik
Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan. (Instagram/@wulandaritng)
  • Pemprov Jabar menerapkan PJJ di wilayah dengan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tinggi, termasuk penghentian sementara aktivitas sekolah dan luar ruangan bila kualitas udara membahayakan.
  • Posko, lokasi pengungsian, serta fasilitas kesehatan disiagakan dengan tenaga medis, ambulans, oksigen, obat, masker, dan APD; Dinas Kesehatan melakukan surveilans gangguan kesehatan harian.
  • Warga diminta mengurangi aktivitas luar, memakai masker dan kacamata, melindungi air serta makanan, mengikuti informasi resmi, dan mencari layanan kesehatan bila mengalami gejala berat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemprov Jawa Barat menerapkan pembelajaran jarak jauh, menyiapkan posko serta lokasi pengungsian, dan meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
  • Who?
    Pemprov Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, sekolah, fasilitas kesehatan, serta warga di wilayah terdampak terlibat dalam langkah kesiapsiagaan ini.
  • Where?
    Langkah diterapkan di Jawa Barat, terutama wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik tinggi. Pemantauan kualitas udara dilakukan bersama BMKG, BPBD, dan instansi terkait.
  • When?
    Surat edaran Gubernur Jawa Barat diterbitkan pada 6 September 2026. Gubernur menyampaikan instruksi kesiapsiagaan pada Minggu, 6 September 2026.
  • Why?
    Kebijakan dijalankan untuk melindungi masyarakat, khususnya peserta didik dan kelompok rentan, dari risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik dan kualitas udara yang berpotensi membahayakan.
  • How?
    Sekolah dapat menghentikan kegiatan saat kondisi berbahaya; layanan kesehatan menyiapkan tenaga, ambulans, oksigen, obat, masker, dan APD; warga diminta mengurangi aktivitas luar, memakai masker, serta mengikuti informasi resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang tinggi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah kesiapsiagaan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Jawa Barat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau yang dikeluarkan pada 6 September 2026.

Selain PJJ, Pemprov Jabar menyiapkan posko dan lokasi pengungsian serta meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menghadapi dampak sebaran abu vulkanik.

1. PJJ diterapkan di wilayah terdampak

Ilustrasi pembelajaran jarak jauh (PJJ). (IDN Times/Bagus F)

Pemprov Jabar memberlakukan PJJ di wilayah yang memiliki intensitas sebaran abu vulkanik tinggi. Kepala sekolah juga diminta menghentikan sementara kegiatan sekolah dan aktivitas luar ruangan apabila kondisi abu vulkanik serta kualitas udara berpotensi membahayakan kesehatan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan penerapan PJJ ditujukan untuk melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan dari paparan abu vulkanik.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyesuaikan aktivitas masyarakat dengan kondisi lingkungan di wilayah yang terdampak.

Selain peserta didik, perlindungan lebih juga diberikan kepada kelompok rentan. Kelompok tersebut meliputi bayi dan anak, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan penyakit kronis.

2. Fasilitas kesehatan dan posko disiagakan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) dalam acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Selain menerapkan PJJ, Pemprov Jabar menyiapkan posko dan lokasi pengungsian sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak sebaran abu vulkanik. Puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan. Dinas Kesehatan Jabar memastikan kebutuhan medis tersedia untuk menangani masyarakat yang terdampak.

"Saya instruksikan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker/respirator, dan Alat Pelindung Diri (APD) di fasilitas kesehatan," ucap KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, Minggu (6/9/2026).

Dinas Kesehatan juga diminta melaksanakan surveilans harian terhadap berbagai gangguan kesehatan yang berpotensi muncul akibat paparan abu vulkanik. Pemantauan mencakup gangguan pernapasan, asma atau PPOK, iritasi mata, gangguan kulit, cedera, dan dampak kesehatan lainnya. Hasil pemantauan tersebut selanjutnya dilaporkan melalui mekanisme yang berlaku.

Di sisi lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup diinstruksikan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta instansi terkait untuk memantau kualitas udara, khususnya PM2,5 dan PM10. Informasi mengenai kondisi udara juga akan disampaikan secara berkala kepada masyarakat.

3. Warga diminta waspada dan kurangi aktivitas luar

PMI Salurkan Masker untuk Warga Terdampak Bencana Erupsi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAM). (Dok. PMI)

Selama abu vulkanik terdeteksi di Jawa Barat, Pemprov Jabar juga meningkatkan upaya menjaga keselamatan lalu lintas serta kebersihan fasilitas umum dan ruas jalan. Pembersihan abu dilakukan dengan metode yang tidak menyebabkan partikel kembali beterbangan. Masyarakat juga diminta tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti informasi resmi pemerintah.

"Saya memerintahkan seluruh Kepala Perangkat Daerah dan pihak terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan, menyampaikan informasi berdasarkan sumber resmi, serta segera melaporkan peningkatan kasus kesehatan, gangguan pelayanan, keterbatasan logistik, dan kebutuhan dukungan kepada pimpinan/posko penanganan," kata KDM.

KDM mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak, terutama di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik yang tinggi.

Masyarakat juga diminta menggunakan masker, dengan mengutamakan masker jenis KN95 atau masker yang tersedia dan dapat menutup hidung serta mulut dengan baik. Kacamata juga dianjurkan saat berada di luar ruangan untuk melindungi mata dari paparan partikel abu vulkanik.

Apabila terpapar abu, masyarakat diminta segera membersihkan diri. Untuk membersihkan rumah, fasilitas umum, dan lingkungan sekitar, abu vulkanik sebaiknya dibasahi terlebih dahulu agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.

"Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami gangguan pernapasan, sesak napas, nyeri dada, gangguan atau iritasi mata, gangguan kulit, maupun gejala berat lainnya," kata KDM.

Masyarakat juga diminta menutup dan melindungi sumber air serta makanan dari paparan abu vulkanik. Melalui langkah tersebut, Pemprov Jabar berupaya memastikan perlindungan masyarakat tetap berjalan, terutama di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik dengan intensitas tinggi. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article