Mantan Ketua MPR, Amien Rais. (www.instagram.com/@partaiummatofficial)
Karier politik Amien Rais mencapai puncak ketika ia menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1999–2004. Dalam masa jabatannya, MPR melakukan sejumlah amandemen UUD 1945, termasuk penguatan sistem demokrasi seperti pemilihan presiden secara langsung dan pembatasan masa jabatan presiden.
Dalam perjalanan politik selanjutnya, Amien Rais tetap aktif sebagai tokoh senior. Ia diketahui pernah memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Selain itu, ia juga mendirikan Partai Ummat setelah keluar dari PAN pada 2020 sebagai bentuk kelanjutan perjuangan politiknya.
Sementara, pada Pemilu 2024, Partai Ummat mendukung Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Dukungan ini disampaikan langsung oleh Amien Rais sebagai Ketua Majelis Syura Partai Ummat.
Kini, Amien Rais kembali jadi sorotan publik setelah membahas isu hubungan dekat antara Presiden Prabowo Subianto dengan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Video pernyataan Amien yang berdurasi sekitar 8 menit itu sempat diunggah melalui kanal YouTube Amien Rais Official. Namun, saat tulisan ini dimuat konten tersebut kini hilang dan sudah tidak bisa diakses. Adapun video itu berjudul "Jauhkan Istana dari Skandal Moral".
Namun, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tegas membantah pernyataan Amien Rais. Komdigi menyebut narasi dalam video Amien merupakan hoaks dan fitnah. "Isi video itu hoaks, fitnah dan mengandung ujaran kebencian," ujar Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid seperti dikutip dari situs resmi Kemkomdigi, Jumat, 1 Mei 2026.
Pihak istana juga menyampaikan bantahan yang senada. Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari, prihatin terhadap pernyataan tokoh Partai Ummat, Amien Rais, yang menuduh Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, memiliki hubungan spesial.
Menurut Qodari, Amien Rais yang merupakan tokoh reformasi juga bisa mendapat informasi yang tidak benar dan kemudian menyebarkan ulang atau korban hoaks.
“Kalau saya prihatin ya, setelah melihat video Pak Amien Rais itu, prihatinnya itu adalah Pak Amien Rais sebagai tokoh, sebagai akademisi, sebagai profesor doktor, telah menjadi korban dari hoaks,” ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Minggu, 3 Mei 2026.