Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat proses rehabilitasi pelayanan keagamaan di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara (dok. Kemenag)
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat proses rehabilitasi pelayanan keagamaan di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara (dok. Kemenag)

Intinya sih...

  • Kemenag mempercepat pemulihan fasilitas ibadah di Aceh, Sumatra

  • KUA dan madrasah ditinjau, dukungan psikososial dan spiritual diberikan

  • Kementerian Agama ingin memastikan pelayanan keagamaan tetap ada

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat proses rehabilitasi pelayanan keagamaan di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Percepatan itu dilakukan agar masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah pada Ramadan 1447 Hijriah.

Direktur Jenderal Bimas Islam Abu Rokhmad mengatakan upaya pemulihan pascabencana mencakup perbaikan infrastruktur fisik sekaligus penguatan mental spiritual masyarakat. Ia menekankan, pentingnya menjaga keberlanjutan layanan keagamaan sebagai kebutuhan mendasar di masa krisis.

“Penanganan pascabencana harus menyentuh aspek fisik dan spiritual secara simultan. Masjid, KUA, madrasah, dan ruang-ruang keagamaan lainnya perlu segera dipulihkan agar tetap berfungsi sebagai pusat layanan umat, terlebih menjelang Ramadan. Layanan keagamaan tidak boleh terhenti,” ujar Abu dalam keterangannya, dikutip Rabu (14/1/2026).

1. KUA dan madrasah turut ditinjau

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat proses rehabilitasi pelayanan keagamaan di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara (dok. Kemenag)

Dalam kunjungannya di Aceh, Abu Rokhmad memeriksa kondisi posko bantuan, masjid, Kantor Urusan Agama (KUA), serta madrasah yang tersebar di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Pada kesempatan itu, dilakukan dialog dengan warga setempat, penyuluh agama, serta relawan untuk mengidentifikasi kebutuhan prioritas agar distribusi bantuan berjalan efektif.

Kementerian Agama menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Lembaga Amil Zakat (LAZ), institusi pendidikan tinggi, dan elemen masyarakat. Sinergi ini memungkinkan penyediaan fasilitas vital seperti dapur umum, akses air bersih, sanitasi darurat, hingga perbaikan sarana ibadah dapat dilakukan dengan segera.

Di wilayah Pidie Jaya, tim meninjau instalasi air bersih dan fasilitas sanitasi dari BAZNAS serta perbaikan fasilitas yang rusak akibat banjir. Selain itu, kolaborasi dengan LAZ ASAR diwujudkan melalui operasional dapur umum, kerja bakti massal, dan pembersihan material lumpur di masjid menggunakan alat berat. Perlengkapan ibadah seperti Al-Qur’an, mukena, dan sarung juga telah didistribusikan.

Pada sektor pendidikan, peninjauan difokuskan pada MIN 4 Pidie Jaya yang sedang dalam tahap renovasi oleh mitra LAZ, lengkap dengan penyediaan ruang kelas sementara.

“Madrasah harus tetap menjadi ruang aman dan harapan bagi anak-anak,” ucap dia.

Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, fokus bantuan meliputi operasional dapur umum, distribusi logistik pangan, dan pembuatan sumur bor untuk air bersih. Abu Rokhmad menilai, rumah ibadah memiliki fungsi ganda yang krusial, yakni sebagai pusat kegiatan sosial sekaligus tempat pemulihan mental

2. Ada dukungan psikososial dan spritual

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat proses rehabilitasi pelayanan keagamaan di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara (dok. Kemenag)

Dukungan psikososial dan spiritual juga diberikan melalui kegiatan pengajian dan trauma healing yang didukung para relawan serta pegiat zakat. Berbagai sarana penunjang seperti tangki air, alat penyaring air minum, dan sistem tata suara juga disediakan untuk mendukung kelancaran aktivitas di lokasi bencana.

“Peran KUA menjadi perhatian khusus. Kami memastikan layanan pencatatan nikah, konsultasi keagamaan, zakat, wakaf, hingga mediasi sosial tetap berjalan. KUA adalah garda terdepan layanan keagamaan di tingkat akar rumput, terutama saat masyarakat menghadapi krisis,” kata Abu.

Upaya serupa juga dilaksanakan di Sumatra Barat. Pada Senin (12/1/2026), Bimas Islam menyalurkan dana bantuan senilai Rp1,075 miliar di Kota Padang. Dana yang berasal dari anggaran kementerian dan kontribusi Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) ini ditujukan untuk perbaikan tiga kantor KUA, pengadaan furnitur, serta santunan bagi tokoh agama dan penyuluh.

3. Kemenag ingin memastikan pelayanan keagamaan tetap ada

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) mempercepat proses rehabilitasi pelayanan keagamaan di daerah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara (dok. Kemenag)

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, menyatakan bantuan ini bertujuan menjaga kontinuitas pelayanan publik.

“Kehadiran kami selain memberikan bantuan, juga ingin memastikan pelayanan dasar masyarakat, khususnya keagamaan, tidak terhenti,” ujar Zayadi.

Ia menargetkan seluruh fasilitas KUA dan rumah ibadah dapat beroperasi normal sebelum Ramadan tiba. Di provinsi Sumatra Utara, bantuan senilai Rp1,25 miliar disalurkan untuk perbaikan infrastruktur dan dukungan lembaga keagamaan. Dana tersebut dialokasikan untuk rehabilitasi masjid dan musala dengan nilai Rp50 juta per unit, serta bantuan operasional bagi yayasan dan tokoh agama.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menyebutkan bantuan ini adalah wujud tanggung jawab negara dalam memulihkan kehidupan beragama.

“Kami berharap bantuan ini dapat mempercepat pemulihan aktivitas ibadah dan kegiatan keagamaan, sekaligus menguatkan kembali semangat masyarakat untuk bangkit,” ucap Arsad.

Editorial Team