Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyambut peserta Retret Kepala Daerah Gelombang II di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (22/6/2025) (dok. Kemendagri)
Bima menekankan, etika dan moral yang harus dijunjung tinggi seorang pemimpin. Menurut dia, pemimpin yang baik adalah yang mau mengesampingkan egonya demi masyarakat luas.
"Pemimpin itu harus yang paling terakhir senang, itu pemimpin. Yang paling terakhir enak, itu pemimpin. Pemimpin itu bukan berorientasi pada fasilitas. Pemimpin itu pada karya dan kinerja. Ya, kita berharap ada semangat itu yang di yang disadari oleh kepala daerah termasuk oleh Pak Gubernur," kata Bima.
Selain itu, Bima juga menekankan agar penggunaan APBD oleh pemda Kaltim dipertimbangkan ulang. Dia mengatakan, apabila penyerapan anggaran tidak punya urgensi, maka lebih baik dibatalkan.
"Kami selalu mengingatkan Pak Gubernur, ya. Walaupun secara formal prosedur itu sudah ditempuh, pembahasan-pembahasan itu, tapi kan kemudian ada prinsip efisiensi, ada juga soal etika," kata Bima.
"Ini yang harus diperhatikan betul oleh Pak Gubernur dan kami meminta Pak Gubernur untuk betul-betul mempertimbangkan kembali, mengkaji kembali. Semua kan bisa disesuaikan. Ya kalau tidak prioritas ya batalkan saja. Ya kalau tidak dirasakan oleh warga, ya tidak usah dilanjutkan," ujar dia.
Diberitakan, Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud kembali menjadi sorotan publik setelah rencana renovasi rumah dinas dan pengadaan fasilitas mewah menuai kritik. Berdasarkan laporan anggaran renovasi rumah jabatan disebut mencapai sekitar Rp25 miliar. Nilai tersebut dianggap terlalu besar, terutama di tengah tuntutan efisiensi anggaran pemerintah daerah.
Sorotan publik semakin tajam setelah muncul rencana pengadaan kursi pijat dengan harga sekitar Rp125 juta per unit di rumah dinas gubernur. Kebijakan ini memicu perdebatan karena dinilai tidak mendesak dan tidak berkaitan langsung dengan pelayanan publik. Sejumlah pihak mempertanyakan prioritas penggunaan anggaran daerah, terlebih sebelumnya juga sempat muncul polemik terkait rencana pengadaan fasilitas mewah lainnya.
Kontroversi ini bahkan berujung pada gelombang protes di Kalimantan Timur, dengan tuntutan agar kebijakan anggaran tersebut diaudit dan lebih transparan.