Ilustrasi Kebakaran Hutan. (IDN Times/Anjani Asra)
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung operasi karhutla. Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing. Sebanyak 55 unit armada ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas karhutla, sementara enam unit water bombing lainnya mendukung penanganan di wilayah terdampak lainnya.
Operasi udara berjalan bersama dengan operasi darat yang melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak. Tim terus melaksanakan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan. Perhatian khusus tetap diberikan pada kebakaran di lahan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan berpotensi kembali menyala apabila kondisi lahan mengering dan angin menguat.
Pantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, pada beberapa wilayah di Kalimantan dan sebagian Sumatera masih terdapat area dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada lokasi tertentu terpantau kategori berbahaya.
Pantauan meteorologi penerbangan BMKG juga menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di beberapa wilayah. Pada pengamatan dini hari, Palangka Raya tercatat berasap dengan jarak pandang sekitar 0,6 kilometer, Banjarmasin sekitar 1,7 kilometer, Pontianak sekitar 2 kilometer, dan Jambi sekitar 4,8 kilometer. Sementara Palembang tercatat berawan dengan jarak pandang sekitar 7 kilometer. Di Pekanbaru, jarak pandang sekitar 3 kilometer dengan kondisi hujan ringan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan jumlah hotspot tidak selalu langsung diikuti perbaikan kondisi udara. Asap dapat bertahan atau berpindah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin. Karena itu, pemantauan hotspot, kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang terus dilakukan secara bersamaan.