Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketua Komisi I DPR: Hibah Kapal Induk Italia Bukan untuk Kebutuhan Perang
Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto sebut hibah kapal dari Italia bukan untuk perang. (IDN Times/Amir Faisol).
  • DPR menegaskan kapal induk hibah Italia, Giuseppe Garibaldi, bukan untuk perang melainkan menjaga perbatasan dan mendukung operasi kemanusiaan di wilayah laut Indonesia.
  • Kapal berusia 40 tahun itu akan bersandar pada 20 September 2026 dengan proses penerimaan mencapai 76 persen serta mampu menampung hingga 550 personel dan pesawat short take-off atau vertical landing.
  • Hibah ini dinilai efisien karena tidak membebani APBN, memperkuat pertahanan maritim, serta menjadi sarana belajar teknologi kapal bagi pelaut dan peneliti Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Indonesia dikasih kapal besar dari Italia namanya Giuseppe Garibaldi. Kapal itu bukan buat perang tapi buat jaga laut Indonesia. Katanya kapal ini bisa dipakai helikopter dan pesawat kecil. Orang DPR bilang kita bangga punya kapal itu walau sudah tua. Sekarang kapal itu belum datang, baru siap sebagian dan nanti datang tahun 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, mengatakan kapal induk Ship Giuseppe Garibaldi hasil hibah pemerintah Italia bukan untuk kebutuhan perang, melainkan digunakan untuk menjaga wilayah perbatasan di Indonesia. Kendati, ia mengatakan, kehadiran kapal induk yang diprediksi akan bersandar di Indonesia pada 20 September 2026 itu patut dibanggakan.

"Yang jelas ini tentu bukan misi untuk perang. Kalau anu ya mana dikasih. Ya lebih mungkin untuk jaga perbatasan di luar dan untuk momen-momen tertentu, helikopter mendarat di sana. Ya kita juga bangga punya seperti ini. Komisi I berterima kasih kepada pemerintah Italia," kata Utut di Gedung DPR RI, Senin (20/7/2026).

Utut mengatakan, salah satu kekurangan kapal tersebut adalah usianya yang telah mencapai 40 tahun. Ia pun mendorong agar para pelaut di Indonesia bisa belajar terkait pengembangan teknologi kapal di masa mendatang.

"Jadi hibah ini kalau hemat saya, sekali lagi, negara lain mau membantu, kita harapkan kita dapat know-how-nya, dapat teknologinya. Ke depan, penelitian-penelitian kita harus lebih untuk yang bisa digunakan di lapangan," kata politikus PDIP itu.

Sementara, Dirjen Kuathan Kemhan Marsda Hendrikus Haris Haryanto mengatakan, kapal induk tersebut akan bersandar di laut Indonesia pada 20 September 2026. Adapun, saat ini proses penerimaan kapal induk tersebut telah mencapai 76 persen.

Menurut Haris, berdasarkan aspek kapasitas aviasi (aviation capability), kapal induk tersebut bisa dipakai untuk helikopter maupun pesawat yang mempunyai kemampuan short take-off maupun vertical landing, dengan kapasitas crew sebanyak 550 personel.

"Kapal ini juga mempunyai peran, multiperan sebagai kapal kudar, kemudian sebagai power projection untuk berbagai misi-misi perang," kata dia dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, Jakarta, Senin.

Selain itu, Haris mengatakan, penerimaan hibah ini sekaligus untuk mendukung komitmen efisiensi bagi negara, karena dapat mempersingkat waktu pengadaan, tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pengadaan, serta memperkuat pertahanan maritim maupun berbagai operasi kemanusiaan.

"Nilai tambah lain bagi negara secara strategis bahwa peningkatan kehadiran negara di wilayah laut rawan penyelundupan, perompakan, pencurian kekayaan alam, maupun penyusupan oleh kapal asing, melaksanakan operasi kemanusiaan, kemudian juga meningkatkan kemampuan TNI AL dalam pelaksanaan tugas di wilayah laut NKRI," kata dia di rapat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article