Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Rama, Mantan Pemulung yang Miliki 4 Panti Dhuafa untuk Lansia

Rama (kanan - depan) sedang bersama para lansia yang ditampung di panti Duafa Lansia yang didirikannya. Facebook_Rama Philips
Rama (kanan - depan) sedang bersama para lansia yang ditampung di panti Duafa Lansia yang didirikannya. Facebook_Rama Philips

Jakarta, IDN Times - Nama Panti Dhuafa Lansia Ponorogo baru-baru ini viral karena kondisi panti yang menyediakan ranjang coran semen untuk lansia.

Panti Dhuafa Lansia diketahui merupakan tempat bernaung bagi lansia yang terlantar di jalanan atau emperan toko. Mereka yang tua dan terlunta akan dirawat oleh para sukarelawan di sana.

Kehidupan jalanan yang muram menjadi alasan bagi pemilik Panti Dhuafa Lansia, Rama, untuk melindungi mereka yang papa. Tidak hanya itu, panti tersebut dibuat untuk mengenang dan mengingat masa-masa Rama saat mencari uang dan terlantar.

"Dulu saya seperti mereka, pemulung dan dijauhi oleh orang-orang," ujar dia saat dihubungi IDN Times, Sabtu (23/11).

1. Rama, sang pemilik panti, pernah memulung dan hidup di jalanan

Suasana di Pantai Lansia Dhuafa Ponorogo. Facebook_Rama Philips
Suasana di Pantai Lansia Dhuafa Ponorogo. Facebook_Rama Philips

Rama menceritakan bahwa pada 1996 dia pernah menjadi anak jalanan. Pekerjaannya memulung. Dia bersama pemulung dan orang terlantar tidur di mana saja, termasuk di trotoar juga emperan toko.

"Saya pernah tidur di jalanan tanpa selimut, merasakan kelaparan, saatnya makan tidak bisa makan," terangnya.

2. Hidup Rama berubah berkat batu akik. Usaha akik Rama kini punya omzet Rp486 juta

Suasana di panti Dhuafa Lansia Ponorogo. Facebook_Rama Ponorogo
Suasana di panti Dhuafa Lansia Ponorogo. Facebook_Rama Ponorogo

Kehidupan berbanding terbalik saat dia mulai mengenal akik. Tren akik yang booming kala itu mengerek kehidupan Rama. Bermodalkan Rp80 ribu dia mencari batu kaseldon untuk dibuat aksesoris.

"Saya membeli bongkahannya Rp80 ribu kemudian saya potong kecil-kecil buat aksesoris. Dari modal Rp80 ribu menjadi Rp4 juta," ujar dia.

Usahanya terus meroket, bahkan tidak tanggung-tanggung Rama bisa memperoleh omzet sampai Rp486 juta.

3. Panti dhuafa dan terlantar untuk mengenang masa sulit Rama

Kondisi Panti Dhuafa dan Lansia Ponorogo, Jawa Timur (Dok. Istimewa)
Kondisi Panti Dhuafa dan Lansia Ponorogo, Jawa Timur (Dok. Istimewa)

Kondisi tersebut tidak membuat Rama lupa masa lalunya. Dia mendirikan panti untuk orang-orang dhuafa dan lansia yang terlantar untuk dirawat. Awalnya, dia menjemput bola, semakin lama panti miliknya mendapat kiriman orang dhuafa dan terlantar dari polsek dan rumah sakit setempat.

"Banyak yang dibawa ke sini dalam kondisi sakit, jadi sudah banyak juga lansia yang meninggal," ucapnya

4. Biaya konsumsi penghuni panti capai Rp36 juta per bulan

Kondisi Panti Dhuafa dan Lansia Ponorogo, Jawa Timur (Dok. Istimewa)
Kondisi Panti Dhuafa dan Lansia Ponorogo, Jawa Timur (Dok. Istimewa)

Rama mengakui dalam satu bulan dia membutuhkan biaya Rp34 juta sampai Rp36 juta untuk konsumsi 80 penghuni panti. Dia mengungkapkan bisnis akiknya saat ini sudah turun sehingga untuk mencukupi kebutuhan panti, dia bisnis jual-beli daring, antar-jemput Tenaga Kerja Wanita yang kerja di Hong Kong, serta terima uluran dari donatur.

"Untuk makan ya tambal sulam dan arti utang tukang sayur dulu, mereka juga paham kok nanti kalau ada donatur baru saya bayar, itu masih biaya makan belum lain seperti pemakaman jika ada yang meninggal," bebernya.

Saat ini, Rama sudah melakukan MoU dengan empat Dinas Sosial, yaitu Dinsos Kabupaten Ponorogo, Magetan, Madiun, dan Trenggalek jika "menggaruk" lansia akan dikirim ke rumah singgah milik Rama.

Sekarang, Rama mengelola empat rumah lansia. Dua di Kabupaten Ponorogo, satu di Kabupaten Tulungagung, dan satu di Kabupaten Blitar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Isidorus Rio Turangga Budi Satria
EditorIsidorus Rio Turangga Budi Satria
Follow Us